Top Ads on Innovel

Innovel

68 Days

Di gelapnya malam, udara dingin bertiup lembut membuat bulu kuduk berdiri didukung waktu yang kini sudah menunjukkan jam 11 malam menambah keheningan malam yang terasa tak biasa dan sunyi senyap. Dari kejauhan terlihat seorang gadis berusia 18 tahun yang kini duduk di kelas 12 tampak jalan tergesa-gesa dengan pandangan yang terlihat waspada menoleh ke kiri dan ke kanan seolah merasakan ada seseorang yang sedang mengikutinya dan ingin berbuat jahat terhadapnya. Gadis itu bernama Scahazareda Nisa dan orang yang mengenalnya biasa memanggil dengan sebutan Nisa. Kenapa gadis itu berkeliaran di malam hari sendirian Apa yang sedang dia lakukan di saat anak seusianya seharusnya sedang tidur di kamarnya yang nyaman dan kasur yang empuk Jawabannya adalah karena dia baru saja pulang lembur. Dia adalah seorang buruh di sebuah pabrik keripik yang ada di desanya. Lokasi pabrik tersebut lumayan cukup jauh dari tempatnya tinggal, sekitar 1 km dan dia berjalan kaki setiap hari untuk bekerja. Setelah pulang sekolah, Nisa akan langsung pergi bekerja dengan membawa pakaian ganti yang dibawanya setiap hari di dalam tas ransel bersama buku-buku pelajaran. Status buruh sudah Nisa sandang dan dilakoninya sejak dirinya masih berusia 15 tahun. Hal tersebut harus dilakukannya untuk mencukupi kehidupannya, baik biaya sekolah serta untuk membeli beras demi mengisi perutnya aga tidak lapar. Bahkan di hari libur, Nisa akan tetap melakukan pekerjaan tambahan dengan menjadi kuli cuci pakaian atau bersih-bersih di rumah warga sekitar yang membutuhkan tenaganya. Warga yang menggunakan jasanya, biasa memberikan Nisa uang sebagai bayaran atau dengan beras. Nisa memang sangat rajin dan apa pun pekerjaannya akan dijalaninya asalkan halal tanpa terbesit rasa malu sedikit pun di hatinya. Nisa tinggal sendiri di sebuah rumah reot peninggalan neneknya. Nenek yang telah menemukannya tanpa sengaja di sebuah gubuk di tepi sawah yang saat itu dilalui oleh sang nenek sepulang dari memetik kacang panjang di kebun miliknya. Saat di
Heat: 922
Website URL: com.dreame.reader.indonesia
Headline: 娱乐
Button label: INSTALL_MOBILE_APP
Innovel

38 Days

Aku menyaksikan sendiri bagaimana Adi memperlakukan Melati begitu lembut dan penuh cinta. Berbeda dengan caranya memperlakukanku. Sangat berbeda.\n\nYa, kami ... aku-Anyelir, Adi dan Melati terikat dalam sebuah pernikahan yang sah secara hukum dan agama.\n\nJika kalian bertanya siapa istri pertama Adi\n\nAkulah istri pertamanya.\n\nNamun, siapa yang dicintai Adi\n\nMaka jawabannya adalah Melati.\n\nMengapa bisa begini\n\nSemua berawal dari perjodohan yang dicetuskan oleh orang tua Adi dan orang tuaku.\n\nAkulah orang ketiga di hubungan Adi dan Melati. Aku hadir di antara kisah cinta mereka yang telah terjalin bertahun-tahun. Aku pun yang pada akhirnya dengan sadar mengizinkan Adi menikahi Melati, meski sejujurnya Adi tak benar-benar membutuhkan izinku.\n\nLalu ... apa kabar dengan hatiku\n\nDi suatu sore tiga bulan lalu. Tepat sebulan setelah pernikahanku dan Adi berlangsung, Adi menemuiku di kamar. Kami memang tidur terpisah, meski telah berstatus suami istri. Dan selama sebulan itu tak ada kontak fisik di antara kami, hingga detik ini. Entah, rumah tangga macam apa yang sedang kami jalani saat ini.\n\n"Anye, aku mau bicara," ucapnya saat itu. Wajahnya seperti biasa, datar tanpa ekspresi. Dua bulan aku mengenalnya sejak pertama kali bertemu, sebulan aku hidup dengannya, belum pernah sekalipun ia tersenyum padaku.\n\nAku menghentikan kegiatanku membaca novel. Kutatap wajahnya sekilas, lalu beralih menatap jendela kamar yang mulai basah terkena percikan air hujan.\n\n"Ada apa"\n\n"Aku akan menikahi Melati." Kata-katanya meluncur dengan lugas tanpa beban.\n\nAku sudah tahu siapa sosok Melati itu. Saat pernikahan kami berlangsung, ia datang. Sepupu Adi yang memberitahuku betapa berharganya wanita itu bagi Adi.\n\nAku kembali menatapnya. Kali ini sedikit lebih lama. Mencoba menggali celah keraguan di sana. Ah, tapi setelahnya aku sadar, Adi bukan sedang bertanya melainkan membuat pernyataan yang tak membutuhkan jawaban.\n\n"Nikahi saja dia," jawabku kemudian. Aku sadar, aku baru saja mengatakan hal yang mungkin
Heat: 519
Website URL: com.dreame.reader.indonesia
Headline: 娱乐
Button label: INSTALL_MOBILE_APP
Innovel

36 Days

Aku menyaksikan sendiri bagaimana Adi memperlakukan Melati begitu lembut dan penuh cinta. Berbeda dengan caranya memperlakukanku. Sangat berbeda.\n\nYa, kami ... aku-Anyelir, Adi dan Melati terikat dalam sebuah pernikahan yang sah secara hukum dan agama.\n\nJika kalian bertanya siapa istri pertama Adi\n\nAkulah istri pertamanya.\n\nNamun, siapa yang dicintai Adi\n\nMaka jawabannya adalah Melati.\n\nMengapa bisa begini\n\nSemua berawal dari perjodohan yang dicetuskan oleh orang tua Adi dan orang tuaku.\n\nAkulah orang ketiga di hubungan Adi dan Melati. Aku hadir di antara kisah cinta mereka yang telah terjalin bertahun-tahun. Aku pun yang pada akhirnya dengan sadar mengizinkan Adi menikahi Melati, meski sejujurnya Adi tak benar-benar membutuhkan izinku.\n\nLalu ... apa kabar dengan hatiku\n\nDi suatu sore tiga bulan lalu. Tepat sebulan setelah pernikahanku dan Adi berlangsung, Adi menemuiku di kamar. Kami memang tidur terpisah, meski telah berstatus suami istri. Dan selama sebulan itu tak ada kontak fisik di antara kami, hingga detik ini. Entah, rumah tangga macam apa yang sedang kami jalani saat ini.\n\n"Anye, aku mau bicara," ucapnya saat itu. Wajahnya seperti biasa, datar tanpa ekspresi. Dua bulan aku mengenalnya sejak pertama kali bertemu, sebulan aku hidup dengannya, belum pernah sekalipun ia tersenyum padaku.\n\nAku menghentikan kegiatanku membaca novel. Kutatap wajahnya sekilas, lalu beralih menatap jendela kamar yang mulai basah terkena percikan air hujan.\n\n"Ada apa"\n\n"Aku akan menikahi Melati." Kata-katanya meluncur dengan lugas tanpa beban.\n\nAku sudah tahu siapa sosok Melati itu. Saat pernikahan kami berlangsung, ia datang. Sepupu Adi yang memberitahuku betapa berharganya wanita itu bagi Adi.\n\nAku kembali menatapnya. Kali ini sedikit lebih lama. Mencoba menggali celah keraguan di sana. Ah, tapi setelahnya aku sadar, Adi bukan sedang bertanya melainkan membuat pernyataan yang tak membutuhkan jawaban.\n\n"Nikahi saja dia," jawabku kemudian. Aku sadar, aku baru saja mengatakan hal yang mungkin
Heat: 481
Website URL: com.dreame.reader.indonesia
Headline: 娱乐
Button label: INSTALL_MOBILE_APP
Innovel

34 Days

Aku menyaksikan sendiri bagaimana Adi memperlakukan Melati begitu lembut dan penuh cinta. Berbeda dengan caranya memperlakukanku. Sangat berbeda.\n\nYa, kami ... aku-Anyelir, Adi dan Melati terikat dalam sebuah pernikahan yang sah secara hukum dan agama.\n\nJika kalian bertanya siapa istri pertama Adi\n\nAkulah istri pertamanya.\n\nNamun, siapa yang dicintai Adi\n\nMaka jawabannya adalah Melati.\n\nMengapa bisa begini\n\nSemua berawal dari perjodohan yang dicetuskan oleh orang tua Adi dan orang tuaku.\n\nAkulah orang ketiga di hubungan Adi dan Melati. Aku hadir di antara kisah cinta mereka yang telah terjalin bertahun-tahun. Aku pun yang pada akhirnya dengan sadar mengizinkan Adi menikahi Melati, meski sejujurnya Adi tak benar-benar membutuhkan izinku.\n\nLalu ... apa kabar dengan hatiku\n\nDi suatu sore tiga bulan lalu. Tepat sebulan setelah pernikahanku dan Adi berlangsung, Adi menemuiku di kamar. Kami memang tidur terpisah, meski telah berstatus suami istri. Dan selama sebulan itu tak ada kontak fisik di antara kami, hingga detik ini. Entah, rumah tangga macam apa yang sedang kami jalani saat ini.\n\n"Anye, aku mau bicara," ucapnya saat itu. Wajahnya seperti biasa, datar tanpa ekspresi. Dua bulan aku mengenalnya sejak pertama kali bertemu, sebulan aku hidup dengannya, belum pernah sekalipun ia tersenyum padaku.\n\nAku menghentikan kegiatanku membaca novel. Kutatap wajahnya sekilas, lalu beralih menatap jendela kamar yang mulai basah terkena percikan air hujan.\n\n"Ada apa"\n\n"Aku akan menikahi Melati." Kata-katanya meluncur dengan lugas tanpa beban.\n\nAku sudah tahu siapa sosok Melati itu. Saat pernikahan kami berlangsung, ia datang. Sepupu Adi yang memberitahuku betapa berharganya wanita itu bagi Adi.\n\nAku kembali menatapnya. Kali ini sedikit lebih lama. Mencoba menggali celah keraguan di sana. Ah, tapi setelahnya aku sadar, Adi bukan sedang bertanya melainkan membuat pernyataan yang tak membutuhkan jawaban.\n\n"Nikahi saja dia," jawabku kemudian. Aku sadar, aku baru saja mengatakan hal yang mungkin
Heat: 446
Website URL: com.dreame.reader.indonesia
Headline: 娱乐
Button label: INSTALL_MOBILE_APP
Innovel

31 Days

Sebuah pernikahan tanpa Cinta adalah seperti mimpi buruk bagi siapa saja, tapi tidak ada yang pernah tahu bahwa mimpi buruk bisa menjadi manis bila takdir berpihak padanya. Hari ini dia mengumandangkan ijab kabul dengan namaku yang sialnya terdengar merdu ketika di ucapkannya. Seharusnya bukan aku yang duduk dengan jantung berdebar disampingnya. Seharusnya bukan aku yang didandani seperti Putri Raja dan membuat semua tamu undangan memandang takjub setiap kali bertata muka. Laki-laki itu, yang sekarang mungkin boleh ku sebut suamiku. Sebenarnya adalah pacar sahabatku sendiri. Dan dia membenciku setengah mati. Sudah terbayang kan bagaimana nantinya pernikahan ini akan berjalan Aku meremas kain kebaya yang membalut tubuhku dengan Indah. Tanganku berkeringat dan jantungku luar biasa berpacu. Ku lihat Nancy, memandangku dengan tatapn benci sekaligus terluka. Ku akui ketegarannya menyaksikan pacarnya menikahi sahabatnya sendiri. Tapi bukan aku yang menginginkan pernikahan ini. Aku memang pernah menyukai Adrian suamiku dahulu, saat kami masih duduk di bangku kuliah. Sebelum dia mengenal Nancy. Tapi untuk bermimpi menjadi temannya saja aku tidak berani. Dia terlalu bersinar dan aku hanya gadis sederhana yang kebetulan mendapat beasiswa di kampus yang sama dengannya. Aku biasa berteman dengan anak-anak biasa yang lebih banyak menghabiskan sebagian waktu luangnya di perpustakaan. Sedangkan Adrian adalah laki-laki populer dimana saat dia berjalan semua perempuan memandangnya takjub. Ada yang menundukan wajahnya malu dan ada yang terang-terangan berteriak mengucapkan kata cinta kearahnya. Semua acara sudah selesai. Para tamu undangan sudah pergi. Adrian menarikku sedikit kasar kedalam mobil yang akan membawa kami ke apartemennya. Dia menolak pemberian rumah dari tante Imel ibunya. Dia bilang kami akan tinggal di apartemen saja. Aku sangat mengerti maksud dari semua itu. Dia pasti ingin membuatku menderita karena sudah berani menerima lamaran yang diajukan ibunya padaku. Aku menerima pernikahan ini bukan tanpa alasan. Adikku sakit jantung, dan dia membutuhkan biaya yang banyak untuk pengobatannya. Kemudian tante Imel datang menawari bantuan dengan syarat aku mau menikahi putranya. Aku sudah menolak pada awalnya, tapi alasan yang diucapkan tante Imel membuatku terpaksa menerimanya. Entah apa penyebab tante Imel sangat tidak menyukai Nancy. Dan Adrian berfikir akulah yang mempengaruhinya untuk tidak menyukai kekasihnya itu. Mungkin keputusan yang aku ambil ini bisa dibilang jahat. Tapi aku tidak bisa diam saja sementara adikku meregang nyawa di rumah sakit. Biarlah aku berkorban perasaanku. *** “Puas kan, lo udah hancurin semua mimpi gue” Adrian mendorongku sampai terjatuh di samping tempat tidur. “Dasar cewe matre, gue tahu lo dibayar sama nyokap gue buat nikah sama gue.” Adrian tidak pernah tahu, atau lebih tepatnya tidak mau tahu alasan aku menerima uang itu. Aku terduduk dengan genangan air mata yang sebentar lagi akan jatuh tanpa mampu berkata apapun. Karena pada kenyataannya memang benar. Aku baru saja menghancurkan mimpinya untuk menikahi seorang Nancy yang sangat cantik dan sempurna. “Jangan mengharapkan apapun dari pernikahan ini, apalagi uangku. Kau tidak akan mendapat apapun kecuali rasa sakit yang lama lama akan menggerogoti tubuhmu.” Adrian berucap penuh kebencian kemudian keluar sambil membanting pintu keras-keras. *** Sudah genap satu bulan aku menjadi istrinya. Tanpa senyum darinya, tanpa kata-kata manis, bahkan sekedar ucapan selamat pagi. Apartemen ini rasanya sangat sunyi. Dia selalu mengabaikanku seolah aku tidak ada. Aku masih bisa menerimanya. Ini memang salahku, setidaknya dia tidak kasar padaku. Tapi ternyata pemikiranku salah. Suatu malam dia datang ke kamar ketika aku sudah terlelap. Dia mengikat kedua tanganku dengan tali ke salah satu besi di sandaran tempat tidurku. Saat itu aku tersadar dan sedikit panik. “A-Adrian kenapa aku diikat seperti ini” Dia menyeringai sambil menatapku penuh gairah. “Ibuku sud
Heat: 417
Website URL: com.dreame.reader.indonesia
Headline: N/A
Button label: LEARN_MORE
Innovel

28 Days

Kutipan\uff1a\nAku berdiri mematung tak jauh dari Adi. Hingga pria itu berjalan mendekat. Menarik tubuhku cepat menempel ke tubuhnya. Otakku mendadak buntu tanpa berusaha mencegah saat Adi kemudian menempelkan bibirnya di bibirku dengan kasar.\nAku mengerjap beberapa kali. Tak percaya dengan apa yang Adi perbuat. Lalu, tangan Adi yang kini meraba dadaku membuatku tersadar akan apa yang terjadi. Mendadak aku merasa takut, Adi akan mengambil haknya secara paksa. Meski selama ini aku memimpikannya, tapi jelas saat ini aku tak rela, karena kutahu Adi sedang emosi.\nAku ingin kami melakukannya atas dasar cinta.\nAku mendorongnya sekuat tenaga, meski hal itu tak membuatnya menjauh dariku.\n"Mmmmmppphhh ...." Aku ingin bicara di tengah ciuman kasar Adi. Tapi yang kudengar justru suaraku yang mirip dengan suara-suara Melati di malam hari.\nKucoba menghalangi gerakan tangannya yang semakin bergerilya dengan liar. Kancing kemejaku bagian atas sudah terlepas. Kini tangannya benar-benar menyentuh tubuhku. Tubuhku merespons, ada perasaan menolak sekaligus menerima secara bersamaan.\nAdi mendorongku jatuh ke ranjang. Bibir kami masih bertautan. Kurasakan tangannya kini sudah sampai ke perut. Semakin ke bawah. Mencari kancing celana bahanku.\nTanganku seketika mencoba menghentikannya. Namun gagal. Adi berhasil membuka dan menurunkan hingga sebatas paha.\nKucoba menghentikan aksinya dengan menarik rambutnya keras. Berhasil. Adi melepaskan ciumannya. Kami saling menatap. Kulihat gairah telah mengurungnya.\nAku menggeleng pelan. Mataku telah basah, menahan air mata yang ingin melesak keluar.\nAdi memejamkan mata. Lalu bangkit dari atas tubuhku dan duduk di bawah kakiku.\nSeketika perasaan lega menghampiriku. Aku mengikutinya duduk. Meraih selimut untuk menutupi tubuhku yang terbuka karena ulahnya.\n--------------------------------\nAku menyaksikan sendiri bagaimana Adi memperlakukan Melati begitu lembut dan penuh cinta. Berbeda dengan caranya memperlakukanku. Sangat berbeda.\n\nYa, kami ... aku-Anyelir, Adi dan Melati terikat dala
Heat: 373
Website URL: com.dreame.reader.indonesia
Headline: N/A
Button label: USE_APP
Innovel

25 Days

{{product.brand}}
Heat: 356
Website URL: com.dreame.reader.indonesia
Headline: N/A
Button label: DOWNLOAD
Innovel

28 Days

Yuda Steffano Williams (30 tahun). Seorang pria pekerja keras, ia memiliki seorang istri bernama Ajeng Komalasari (25 tahun) yang baru dinikahinya selama 3 tahun. Saat siang hari, Yuda bekerja sebagai supir di sebuah perusahaan elektronik milik seorang pengusaha Jepang. Saat dini hari, ia bekerja menjadi kuli angkut di pasar. Yuda harus bekerja keras untuk menafkahi istrinya yang terkena kanker rahim, ibu kandungnya yang mengalami gagal ginjal, ibu mertuanya yang terserang stroke, dan kakaknya yang lumpuh karena mengalami kecelakaan yang menewaskan suaminya. Yuda juga harus menanggung dua orang keponakannya, anak dari kakaknya. Begitu banyak cobaan di dalam hidupnya, tapi ia tidak pernah mengeluh karenanya. Semua ia terima dengan lapang dada. Suatu hari, ia dipanggil menghadap Bossnya. Pak Handoyo, yang merupakan adik ipar dari Mr. Yamata, sang pemilik perusahaan. Yuda dipindah tugaskan untuk bekerja di rumah Mr. Yamata. Ia harus menjadi supir pribadi cucu Mr. Yamata. Pekerjaan inilah yang akan merubah hidupnya Yuda mengenakan jaketnya, lalu memasang helmya. Sementara Ajeng menggantung tas berisi bekal suaminya di gantungan yang ada di bawah stang motor matic milik Yuda. Yuda memasukan tas kresek yang berisi pakaian kerja, dompet, dan ponselnya ke bawah jok motornya. Terakhir, ia meminum kopi yang diambil Ajeng dari atas meja. Setelah meneguk kopinya, dan menyerahkan gelas itu kembali pada Ajeng. "Mas pergi ya Dek, doakan semoga hasil hari ini lebih baik dari kemarin, aamiin" mereka mengucap Aamiin berbarengan. Yuda meraih kepala istrinya. Mendaratkan kecupan penuh cinta di kening istrinya. Ajeng meraih telapak tangan Yuda, mencium punggung tangan suaminya. "Hati-hati ya Mas" "Iya Dek, Mas pergi ya, jangan lupa minum obatmu, assalamuallaikum" "Ya Mas, walaikum salam" Yuda berlalu dari teras rumah petak yang ditempati bersama istrinya. Ajeng kembali masuk ke dalam rumah setelah suaminya menghilang dari pandangannya. Ajeng sangat ka
Heat: 318
Website URL: com.dreame.reader.indonesia
Headline: 娱乐
Button label: INSTALL_MOBILE_APP
Innovel

22 Days

Pasar Minggu., Pagi Hari., Seorang gadis cantik berusia 22 tahun sedang memilih sayuran di pasar. Memilah dan memilih bahan-bahan dapur dan meletakkannya pada keranjangnya. Lalu disodorkan pada penjualnya. Setelah menuntaskan pembayaran belanjanya. Gadis berparas ayu itu langsung keluar dari pasar. Dan kembali memilih melihat-lihat sekitar pasar, mana tahu ada sesuatu yang terlupa dan yang bisa dia beli lagi, karena uang belanjanya masih tersisa 135 ribu lagi. Gadis tersebut berjalan kearah penjual kue-kue basah. Akhirnya dia membeli beberapa kue untuk dibawa pulang sebagai sarapan pagi oleh orang-orang Panti Asuhannya. Setelah kegiatannya di pasar, akhirnya memutuskan untuk segera pulang ke Panti Asuhannya, sebelum hal yang tidak dia inginkan terjadi. Ckiiittttt….. Bruuaaaakkkkk…. Gadis itu langsung menoleh ke sumber suara. Begitu juga orang-orang di pasar. Mulai mengerumuni asal suara tersebut. Gadis itu akhirnya mengkuti orang-orang untuk melihat apa yang terjadi. Didepan mata kepalanya sendiri, dia melihat wanita paruh baya berusia sekitar 40 tahun tergeletak di jalanan. Dengan darah yang sudah bercucuran di dahinya. Tidak satu orang pun yang berani menolongnya. Gadis itu sedikit gemetar juga kasihan melihat wanita paruh baya tersebut. Tetapi dia memberanikan diri untuk lebih dekat. Sampai salah seorang warga mengatakan sesuatu padanya. “Dek jangan sentuh dia. Kita tunggu aja sampai polisi datang”. Gadis itu lalu berhenti. Dan seakan itu bertolak belakang dari lubuk hatinya yang sangat ingin menolong wanita itu. Dia berpikir kembali, apa jadinya jika wanita didepannya saat ini tak terselamatkan, karena darah yang terus mengalir keluar dari hidung dan kepalanya. Gadis itu merasa akan menyesal seumur hidupnya karena membiarkan wanita itu tergeletak dengan bersimbah darah. Gadis itu lalu mendekati wanita itu dan membalikkan tubuh wanita itu. Wajahnya yang penuh dengan darah membuat gadis itu semakin panik. Dia segera berteriak meminta bantuan pada orang-orang namun tak ada satupun yang berniat menolongnya. Tapi ada satu orang supir angkutan umum yang bersedia memberikan tumpangan untuk mereka menuju klinik terdekat. *** Klinik Pelita Harapan., Mereka tergesa-gesa mendorong bed itu menuju ruangan khusus pasien IGD. “Kalian tunggu diluar dan segera selesaikan administrasi. Kami akan mengurus pasien ini”. Ucap salah perawat lalu menutup pintu ruangan IGD itu. Gadis itu mondar-mandir didepan pintu ruangan IGD itu. Setelah menyelesaikan administrasi, dan meyakinkan pihak resepsionis bahwa pihak keluarga korban tabrak lari akan membayar sepenuhnya biaya pengobatan pasien dengan memberi jaminan ponselnya yang harganya tidak seberapa. Salah satu perawat berjalan kearah mereka. “Maaf bu, yang menolong pasien atas nama siapa ”. Tanya perawat itu sopan. Gadis dan pria paruh baya itu saling melihat satu sama lain. “Saya Yuri, Sus”. Ucap gadis itu pelan. Perawat lalu menulis namanya pada buku ekspedisinya. Dan berlalu pergi dari hadapan mereka. “Dek, kamu sebaiknya tenang. Ibu itu pasti selamat”. Ucap seorang pria bernama Pak Cecep, yang juga ikut menolong ibu yang tertabrak motor tadi. “Iya Pak. Saya yakin Allah pasti menyelamatkan ibu itu. Oh iya kalau saya boleh tahu nama bapak siapa ”. Ucap gadis itu. “Saya Pak Cecep dek. Dan kalau bapak boleh tahu, kamu tinggal dimana Yuri ”. Tanya Pak Cecep. Gadis itu tertawa pelan. Dia lalu mengatakan nama lengkapnya pada Pak Cecep. “Pak, nama saya Chandani Oyuri. Almarhum kedua orang tua saya memanggil saya dengan sebutan Yuri. Dan keluarga saya yang sekarang, memanggil saya dengan nama Icha. Jadi bapak panggil saya Icha saja. Saya tinggal di Jalan Kateren, Dusun II pak.”. Ucap Icha tersenyum pada Pak Cecep. “Oh maaf Icha. Bapak gak tahu. Maaf kalau saya menyinggung soal almarhum orang tua kamu. Berarti rumah kamu dekat dengan rumah saya. Dekat pasar minggu kan ”. Ucap Pak Cecep seraya tidak enak hati dan bertanya untuk mengalihkan pembicaraan. “Iya pak. Sekitar
Heat: 288
Website URL: com.dreame.reader.indonesia
Headline: N/A
Button label: LEARN_MORE
Innovel

23 Days

Aku menyaksikan sendiri bagaimana Adi memperlakukan Melati begitu lembut dan penuh cinta. Berbeda dengan caranya memperlakukanku. Sangat berbeda.\n\nYa, kami ... aku-Anyelir, Adi dan Melati terikat dalam sebuah pernikahan yang sah secara hukum dan agama.\n\nJika kalian bertanya siapa istri pertama Adi\n\nAkulah istri pertamanya.\n\nNamun, siapa yang dicintai Adi\n\nMaka jawabannya adalah Melati.\n\nMengapa bisa begini\n\nSemua berawal dari perjodohan yang dicetuskan oleh orang tua Adi dan orang tuaku.\n\nAkulah orang ketiga di hubungan Adi dan Melati. Aku hadir di antara kisah cinta mereka yang telah terjalin bertahun-tahun. Aku pun yang pada akhirnya dengan sadar mengizinkan Adi menikahi Melati, meski sejujurnya Adi tak benar-benar membutuhkan izinku.\n\nLalu ... apa kabar dengan hatiku\n\nDi suatu sore tiga bulan lalu. Tepat sebulan setelah pernikahanku dan Adi berlangsung, Adi menemuiku di kamar. Kami memang tidur terpisah, meski telah berstatus suami istri. Dan selama sebulan itu tak ada kontak fisik di antara kami, hingga detik ini. Entah, rumah tangga macam apa yang sedang kami jalani saat ini.\n\n"Anye, aku mau bicara," ucapnya saat itu. Wajahnya seperti biasa, datar tanpa ekspresi. Dua bulan aku mengenalnya sejak pertama kali bertemu, sebulan aku hidup dengannya, belum pernah sekalipun ia tersenyum padaku.\n\nAku menghentikan kegiatanku membaca novel. Kutatap wajahnya sekilas, lalu beralih menatap jendela kamar yang mulai basah terkena percikan air hujan.\n\n"Ada apa"\n\n"Aku akan menikahi Melati." Kata-katanya meluncur dengan lugas tanpa beban.\n\nAku sudah tahu siapa sosok Melati itu. Saat pernikahan kami berlangsung, ia datang. Sepupu Adi yang memberitahuku betapa berharganya wanita itu bagi Adi.\n\nAku kembali menatapnya. Kali ini sedikit lebih lama. Mencoba menggali celah keraguan di sana. Ah, tapi setelahnya aku sadar, Adi bukan sedang bertanya melainkan membuat pernyataan yang tak membutuhkan jawaban.\n\n"Nikahi saja dia," jawabku kemudian. Aku sadar, aku baru saja mengatakan hal yang mungkin
Heat: 284
Website URL: com.dreame.reader.indonesia
Headline: 娱乐
Button label: LEARN_MORE
Innovel

20 Days

Patah. Aku menyaksikan sendiri bagaimana Adi memperlakukan Melati begitu lembut dan penuh cinta. Berbeda dengan caranya memperlakukanku. Sangat berbeda. Ya, kami ... aku-Anyelir, Adi dan Melati terikat dalam sebuah pernikahan yang sah secara hukum dan agama. Jika kalian bertanya siapa istri pertama Adi Akulah istri pertamanya. Namun, siapa yang dicintai Adi Maka jawabannya adalah Melati. Mengapa bisa begini Semua berawal dari perjodohan yang dicetuskan oleh orang tua Adi dan orang tuaku. Akulah orang ketiga di hubungan Adi dan Melati. Aku hadir di antara kisah cinta mereka yang telah terjalin bertahun-tahun. Aku pun yang pada akhirnya dengan sadar mengizinkan Adi menikahi Melati, meski sejujurnya Adi tak benar-benar membutuhkan izinku. Lalu ... apa kabar dengan hatiku Di suatu sore tiga bulan lalu. Tepat sebulan setelah pernikahanku dan Adi berlangsung, Adi menemuiku di kamar. Kami memang tidur terpisah, meski telah berstatus suami istri. Dan selama sebulan itu tak ada kontak fisik di antara kami, hingga detik ini. Entah, rumah tangga macam apa yang sedang kami jalani saat ini. "Anye, aku mau bicara," ucapnya saat itu. Wajahnya seperti biasa, datar tanpa ekspresi. Dua bulan aku mengenalnya sejak pertama kali bertemu, sebulan aku hidup dengannya, belum pernah sekalipun ia tersenyum padaku. Aku menghentikan kegiatanku membaca novel. Kutatap wajahnya sekilas, lalu beralih menatap jendela kamar yang mulai basah terkena percikan air hujan. "Ada apa" "Aku akan menikahi Melati." Kata-katanya meluncur dengan lugas tanpa beban. Aku sudah tahu siapa sosok Melati itu. Saat pernikahan kami berlangsung, ia datang. Sepupu Adi yang memberitahuku betapa berharganya wanita itu bagi Adi. Aku kembali menatapnya. Kali ini sedikit lebih lama. Mencoba menggali celah keraguan di sana. Ah, tapi setelahnya aku sadar, Adi bukan sedang bertanya melainkan membuat pernyataan yang tak membutuhkan jawaban. "Nikahi saja dia," jawabku kemudian. Aku sadar, aku baru saja mengatakan hal yang mungkin untuk sebagian wanita begi
Heat: 238
Website URL: com.dreame.reader.indonesia
Headline: N/A
Button label: LEARN_MORE
Innovel

21 Days

Winda dan Dirga sudah benar-benar lupa akan dosa, mereka ingin mencoba dan merasakan apa yang baru mereka lihat dari dvd yang mereka putar dan tonton berdua.\n\nSekarang Winda hanya tinggal menyisakan celana dalam ditubuhnya, begitu pula Dirga.\n\nMereka sudah lupa kalau mereka belum boleh melakukan itu sebelum mereka menikah.\n\nGejolak jiwa muda yang ingin tahu, ingin mencoba, ingin merasakan sudah merasuk dan merongrong pikiran dan perasaan mereka.\n\nWinda mendesah nikmat saat Dirga mengisap pelan ujung payudaranya.\n\n"Dirga.... "\n\nTangan Dirga mulai merayapi perut Winda dan ingin menyusup masuk kebalik celana dalam, untuk menyentuh pangkal paha Winda.\n\nMereka tidak mendengar suara-suara yang memanggil nama Winda dari luar karena nafsu yang sudah menguasai kepala mereka berdua.\n\nBraaakkkk!\n\nPintu kamar yang terkunci didobrak dari luar, dan kini terbuka lebar.\n\nKedua orang tua Winda berdiri tegak di ambang pintu kamar bersama kakak, Nenek, dan beberapa pelayan di rumah mereka.\n\n"Winda!!" jeritan mamahnya memekakkan telinga.\n\nMembuat Winda, dan Dirga dengan spontan terlonjak berdiri dari atas ranjang di kamar Winda.\n\nWinda menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang hampir telanjang. Papahnya langsung merenggut rambut Winda, yang sedang bersembunyi ketakutan di balik tubuh Dirga.\n\nPlakk!\n\nPlakkk!\n\nDua tamparan Papahnya mendarat dikedua pipi Winda. Winda tak bersuara, hanya ada air mata yang mengalir di pipinya saat ada rasa panas menerpa pipi akibat tamparan Papahnya. Sungguh Winda tidak menyangka kalau orang tuanya pulang hari ini, setahunya mereka akan pulang dari Singapura dua hari lagi. Orang tuanya pergi ke Singapura bersama Neneknya untuk melakukan check up kesehatan Nenek dan kedua orang tuanya.\n\n"Om ini salahku bukan sa.... "\n\n"Diam kau!" bentak Pak Wahid Papah Winda pada Dirga yang berusaha membela Winda.\n\n"Telpon sekarang juga orang tuamu, suruh mereka kesini sekarang!" Pak Wahid menatap Dirga dengan pandangan mengancam.\n\n"I-iya, Om.... " jawab Dirga terbata.\n\nMamah W
Heat: 233
Website URL: com.dreame.reader.indonesia
Headline: 娱乐
Button label: DOWNLOAD
Innovel

21 Days

Sebuah pernikahan tanpa Cinta adalah seperti mimpi buruk bagi siapa saja, tapi tidak ada yang pernah tahu bahwa mimpi buruk bisa menjadi manis bila takdir berpihak padanya. Hari ini dia mengumandangkan ijab kabul dengan namaku yang sialnya terdengar merdu ketika di ucapkannya. Seharusnya bukan aku yang duduk dengan jantung berdebar disampingnya. Seharusnya bukan aku yang didandani seperti Putri Raja dan membuat semua tamu undangan memandang takjub setiap kali bertata muka. Laki-laki itu, yang sekarang mungkin boleh ku sebut suamiku. Sebenarnya adalah pacar sahabatku sendiri. Dan dia membenciku setengah mati. Sudah terbayang kan bagaimana nantinya pernikahan ini akan berjalan Aku meremas kain kebaya yang membalut tubuhku dengan Indah. Tanganku berkeringat dan jantungku luar biasa berpacu. Ku lihat Nancy, memandangku dengan tatapn benci sekaligus terluka. Ku akui ketegarannya menyaksikan pacarnya menikahi sahabatnya sendiri. Tapi bukan aku yang menginginkan pernikahan ini. Aku memang pernah menyukai Adrian suamiku dahulu, saat kami masih duduk di bangku kuliah. Sebelum dia mengenal Nancy. Tapi untuk bermimpi menjadi temannya saja aku tidak berani. Dia terlalu bersinar dan aku hanya gadis sederhana yang kebetulan mendapat beasiswa di kampus yang sama dengannya. Aku biasa berteman dengan anak-anak biasa yang lebih banyak menghabiskan sebagian waktu luangnya di perpustakaan. Sedangkan Adrian adalah laki-laki populer dimana saat dia berjalan semua perempuan memandangnya takjub. Ada yang menundukan wajahnya malu dan ada yang terang-terangan berteriak mengucapkan kata cinta kearahnya. Semua acara sudah selesai. Para tamu undangan sudah pergi. Adrian menarikku sedikit kasar kedalam mobil yang akan membawa kami ke apartemennya. Dia menolak pemberian rumah dari tante Imel ibunya. Dia bilang kami akan tinggal di apartemen saja. Aku sangat mengerti maksud dari semua itu. Dia pasti ingin membuatku menderita karena sudah berani menerima lamaran yang diajukan ibunya padaku. Aku menerima pernikahan ini bukan tanpa alasan. Adikku sakit jantung, dan dia membutuhkan biaya yang banyak untuk pengobatannya. Kemudian tante Imel datang menawari bantuan dengan syarat aku mau menikahi putranya. Aku sudah menolak pada awalnya, tapi alasan yang diucapkan tante Imel membuatku terpaksa menerimanya. Entah apa penyebab tante Imel sangat tidak menyukai Nancy. Dan Adrian berfikir akulah yang mempengaruhinya untuk tidak menyukai kekasihnya itu. Mungkin keputusan yang aku ambil ini bisa dibilang jahat. Tapi aku tidak bisa diam saja sementara adikku meregang nyawa di rumah sakit. Biarlah aku berkorban perasaanku. *** “Puas kan, lo udah hancurin semua mimpi gue” Adrian mendorongku sampai terjatuh di samping tempat tidur. “Dasar cewe matre, gue tahu lo dibayar sama nyokap gue buat nikah sama gue.” Adrian tidak pernah tahu, atau lebih tepatnya tidak mau tahu alasan aku menerima uang itu. Aku terduduk dengan genangan air mata yang sebentar lagi akan jatuh tanpa mampu berkata apapun. Karena pada kenyataannya memang benar. Aku baru saja menghancurkan mimpinya untuk menikahi seorang Nancy yang sangat cantik dan sempurna. “Jangan mengharapkan apapun dari pernikahan ini, apalagi uangku. Kau tidak akan mendapat apapun kecuali rasa sakit yang lama lama akan menggerogoti tubuhmu.” Adrian berucap penuh kebencian kemudian keluar sambil membanting pintu keras-keras. *** Sudah genap satu bulan aku menjadi istrinya. Tanpa senyum darinya, tanpa kata-kata manis, bahkan sekedar ucapan selamat pagi. Apartemen ini rasanya sangat sunyi. Dia selalu mengabaikanku seolah aku tidak ada. Aku masih bisa menerimanya. Ini memang salahku, setidaknya dia tidak kasar padaku. Tapi ternyata pemikiranku salah. Suatu malam dia datang ke kamar ketika aku sudah terlelap. Dia mengikat kedua tanganku dengan tali ke salah satu besi di sandaran tempat tidurku. Saat itu aku tersadar dan sedikit panik. “A-Adrian kenapa aku diikat seperti ini” Dia menyeringai sambil menatapku penuh gairah. “Ibuku sud
Heat: 221
Website URL: com.dreame.reader.indonesia
Headline: N/A
Button label: LEARN_MORE
Innovel

18 Days

Winda dan Dirga sudah benar-benar lupa akan dosa, mereka ingin mencoba dan merasakan apa yang baru mereka lihat dari dvd yang mereka putar dan tonton berdua.\n\nSekarang Winda hanya tinggal menyisakan celana dalam ditubuhnya, begitu pula Dirga.\n\nMereka sudah lupa kalau mereka belum boleh melakukan itu sebelum mereka menikah.\n\nGejolak jiwa muda yang ingin tahu, ingin mencoba, ingin merasakan sudah merasuk dan merongrong pikiran dan perasaan mereka.\n\nWinda mendesah nikmat saat Dirga mengisap pelan ujung payudaranya.\n\n"Dirga.... "\n\nTangan Dirga mulai merayapi perut Winda dan ingin menyusup masuk kebalik celana dalam, untuk menyentuh pangkal paha Winda.\n\nMereka tidak mendengar suara-suara yang memanggil nama Winda dari luar karena nafsu yang sudah menguasai kepala mereka berdua.\n\nBraaakkkk!\n\nPintu kamar yang terkunci didobrak dari luar, dan kini terbuka lebar.\n\nKedua orang tua Winda berdiri tegak di ambang pintu kamar bersama kakak, Nenek, dan beberapa pelayan di rumah mereka.\n\n"Winda!!" jeritan mamahnya memekakkan telinga.\n\nMembuat Winda, dan Dirga dengan spontan terlonjak berdiri dari atas ranjang di kamar Winda.\n\nWinda menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang hampir telanjang. Papahnya langsung merenggut rambut Winda, yang sedang bersembunyi ketakutan di balik tubuh Dirga.\n\nPlakk!\n\nPlakkk!\n\nDua tamparan Papahnya mendarat dikedua pipi Winda. Winda tak bersuara, hanya ada air mata yang mengalir di pipinya saat ada rasa panas menerpa pipi akibat tamparan Papahnya. Sungguh Winda tidak menyangka kalau orang tuanya pulang hari ini, setahunya mereka akan pulang dari Singapura dua hari lagi. Orang tuanya pergi ke Singapura bersama Neneknya untuk melakukan check up kesehatan Nenek dan kedua orang tuanya.\n\n"Om ini salahku bukan sa.... "\n\n"Diam kau!" bentak Pak Wahid Papah Winda pada Dirga yang berusaha membela Winda.\n\n"Telpon sekarang juga orang tuamu, suruh mereka kesini sekarang!" Pak Wahid menatap Dirga dengan pandangan mengancam.\n\n"I-iya, Om.... " jawab Dirga terbata.\n\nMamah W
Heat: 217
Website URL: com.dreame.reader.indonesia
Headline: N/A
Button label: DOWNLOAD
Innovel

17 Days

Patah. Aku menyaksikan sendiri bagaimana Adi memperlakukan Melati begitu lembut dan penuh cinta. Berbeda dengan caranya memperlakukanku. Sangat berbeda. Ya, kami ... aku-Anyelir, Adi dan Melati terikat dalam sebuah pernikahan yang sah secara hukum dan agama. Jika kalian bertanya siapa istri pertama Adi Akulah istri pertamanya. Namun, siapa yang dicintai Adi Maka jawabannya adalah Melati. Mengapa bisa begini Semua berawal dari perjodohan yang dicetuskan oleh orang tua Adi dan orang tuaku. Akulah orang ketiga di hubungan Adi dan Melati. Aku hadir di antara kisah cinta mereka yang telah terjalin bertahun-tahun. Aku pun yang pada akhirnya dengan sadar mengizinkan Adi menikahi Melati, meski sejujurnya Adi tak benar-benar membutuhkan izinku. Lalu ... apa kabar dengan hatiku Di suatu sore tiga bulan lalu. Tepat sebulan setelah pernikahanku dan Adi berlangsung, Adi menemuiku di kamar. Kami memang tidur terpisah, meski telah berstatus suami istri. Dan selama sebulan itu tak ada kontak fisik di antara kami, hingga detik ini. Entah, rumah tangga macam apa yang sedang kami jalani saat ini. "Anye, aku mau bicara," ucapnya saat itu. Wajahnya seperti biasa, datar tanpa ekspresi. Dua bulan aku mengenalnya sejak pertama kali bertemu, sebulan aku hidup dengannya, belum pernah sekalipun ia tersenyum padaku. Aku menghentikan kegiatanku membaca novel. Kutatap wajahnya sekilas, lalu beralih menatap jendela kamar yang mulai basah terkena percikan air hujan. "Ada apa" "Aku akan menikahi Melati." Kata-katanya meluncur dengan lugas tanpa beban. Aku sudah tahu siapa sosok Melati itu. Saat pernikahan kami berlangsung, ia datang. Sepupu Adi yang memberitahuku betapa berharganya wanita itu bagi Adi. Aku kembali menatapnya. Kali ini sedikit lebih lama. Mencoba menggali celah keraguan di sana. Ah, tapi setelahnya aku sadar, Adi bukan sedang bertanya melainkan membuat pernyataan yang tak membutuhkan jawaban. "Nikahi saja dia," jawabku kemudian. Aku sadar, aku baru saja mengatakan hal yang mungkin untuk sebagian wanita begitu menyakitkan. Dimadu. Meski Allah memang memperbolehkan. Namun, dengan cinta Adi yang begitu besar pada Melati, jelas akan membuat sikapnya lebih condong pada Melati. Dan hari-hariku akan dihiasi dengan sikap ketidakadilannya pada kami. Tapi aku bisa apa Selain setuju. Saat Ayah dan Bunda mengutarakan niatan mereka untuk menjodohkanku dengan Adi. Aku hanya bisa terdiam. Meski hati memberontak, namun bibir mengatup rapat. Karena aku sadar siapa diri ini di keluarga mereka. Aku-Anyelir yang saat ini menginjak umur 22 tahun dan menyandang gelar sarjana ekonomi, hanyalah anak angkat. Ayah dan Bunda yang selama ini kukira adalah orang tua kandungku, ternyata bukan. Mereka yang memiliki hati seputih kertas, dua puluh tahun lalu mengadopsiku dari sebuah panti asuhan. Dan keputusanku menerima perjodohan ini, kuanggap sebagai salah satu balas budiku pada Ayah dan Bunda, selaku orang tua angkatku. Orang tua yang dengan ikhlas dan penuh kasih membesarkanku hingga aku bisa berdiri tegak dan sanggup menghidupi diriku sendiri. "Dengan atau tanpa ijinmu, aku akan tetap menikahinya. Kamu tentu tahu, sebelum pernikahan bodoh ini terjadi, kami sudah menjalin hubungan bertahun-tahun. Jadi ... aku harap kamu mengerti posisimu." Aku masih menatapnya. Tidakkah Adi berbelas kasihan padaku sedikit saja "Aku mengerti ... hanya saja aku memikirkan ke dua orang tua kita. Mereka pasti ...." Adi dengan cepat memotong perkataanku. "Rahasiakan ini dulu dari orang tuamu. Mereka tidak akan tahu jika kamu tidak mengatakannya. Untuk orang tuaku, biar aku yang mengurusnya." Aku mengangguk samar. Tak mampu lagi berkata-kata. "Melati juga akan tinggal di sini. Jadi, aku minta kamu bisa bersikap baik padanya." Setelah mengatakan itu, Adi pergi. Meninggalkanku dengan perasaan yang aku sendiri tak mampu menggambarkan. Kami baru saja menikah sebulan lalu karena perjodohan. Dan suamiku baru saja mengatakan akan menikahi kekasihnya. Meski belum ada cinta di antara kami, tapi bolehkah aku mengatakan jika aku terluka Melati dengan telaten
Heat: 202
Website URL: com.dreame.reader.indonesia
Headline: 娱乐
Button label: INSTALL_MOBILE_APP
Innovel

18 Days

Winda dan Dirga sudah benar-benar lupa akan dosa, mereka ingin mencoba dan merasakan apa yang baru mereka lihat dari dvd yang mereka putar dan tonton berdua.\n\nSekarang Winda hanya tinggal menyisakan celana dalam ditubuhnya, begitu pula Dirga.\n\nMereka sudah lupa kalau mereka belum boleh melakukan itu sebelum mereka menikah.\n\nGejolak jiwa muda yang ingin tahu, ingin mencoba, ingin merasakan sudah merasuk dan merongrong pikiran dan perasaan mereka.\n\nWinda mendesah nikmat saat Dirga mengisap pelan ujung payudaranya.\n\n"Dirga.... "\n\nTangan Dirga mulai merayapi perut Winda dan ingin menyusup masuk kebalik celana dalam, untuk menyentuh pangkal paha Winda.\n\nMereka tidak mendengar suara-suara yang memanggil nama Winda dari luar karena nafsu yang sudah menguasai kepala mereka berdua.\n\nBraaakkkk!\n\nPintu kamar yang terkunci didobrak dari luar, dan kini terbuka lebar.\n\nKedua orang tua Winda berdiri tegak di ambang pintu kamar bersama kakak, Nenek, dan beberapa pelayan di rumah mereka.\n\n"Winda!!" jeritan mamahnya memekakkan telinga.\n\nMembuat Winda, dan Dirga dengan spontan terlonjak berdiri dari atas ranjang di kamar Winda.\n\nWinda menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang hampir telanjang. Papahnya langsung merenggut rambut Winda, yang sedang bersembunyi ketakutan di balik tubuh Dirga.\n\nPlakk!\n\nPlakkk!\n\nDua tamparan Papahnya mendarat dikedua pipi Winda. Winda tak bersuara, hanya ada air mata yang mengalir di pipinya saat ada rasa panas menerpa pipi akibat tamparan Papahnya. Sungguh Winda tidak menyangka kalau orang tuanya pulang hari ini, setahunya mereka akan pulang dari Singapura dua hari lagi. Orang tuanya pergi ke Singapura bersama Neneknya untuk melakukan check up kesehatan Nenek dan kedua orang tuanya.\n\n"Om ini salahku bukan sa.... "\n\n"Diam kau!" bentak Pak Wahid Papah Winda pada Dirga yang berusaha membela Winda.\n\n"Telpon sekarang juga orang tuamu, suruh mereka kesini sekarang!" Pak Wahid menatap Dirga dengan pandangan mengancam.\n\n"I-iya, Om.... " jawab Dirga terbata.\n\nMamah W
Heat: 195
Website URL: com.dreame.reader.indonesia
Headline: 娱乐
Button label: DOWNLOAD
Innovel

17 Days

Patah. Aku menyaksikan sendiri bagaimana Adi memperlakukan Melati begitu lembut dan penuh cinta. Berbeda dengan caranya memperlakukanku. Sangat berbeda. Ya, kami ... aku-Anyelir, Adi dan Melati terikat dalam sebuah pernikahan yang sah secara hukum dan agama. Jika kalian bertanya siapa istri pertama Adi Akulah istri pertamanya. Namun, siapa yang dicintai Adi Maka jawabannya adalah Melati. Mengapa bisa begini Semua berawal dari perjodohan yang dicetuskan oleh orang tua Adi dan orang tuaku. Akulah orang ketiga di hubungan Adi dan Melati. Aku hadir di antara kisah cinta mereka yang telah terjalin bertahun-tahun. Aku pun yang pada akhirnya dengan sadar mengizinkan Adi menikahi Melati, meski sejujurnya Adi tak benar-benar membutuhkan izinku. Lalu ... apa kabar dengan hatiku Di suatu sore tiga bulan lalu. Tepat sebulan setelah pernikahanku dan Adi berlangsung, Adi menemuiku di kamar. Kami memang tidur terpisah, meski telah berstatus suami istri. Dan selama sebulan itu tak ada kontak fisik di antara kami, hingga detik ini. Entah, rumah tangga macam apa yang sedang kami jalani saat ini. "Anye, aku mau bicara," ucapnya saat itu. Wajahnya seperti biasa, datar tanpa ekspresi. Dua bulan aku mengenalnya sejak pertama kali bertemu, sebulan aku hidup dengannya, belum pernah sekalipun ia tersenyum padaku. Aku menghentikan kegiatanku membaca novel. Kutatap wajahnya sekilas, lalu beralih menatap jendela kamar yang mulai basah terkena percikan air hujan. "Ada apa" "Aku akan menikahi Melati." Kata-katanya meluncur dengan lugas tanpa beban. Aku sudah tahu siapa sosok Melati itu. Saat pernikahan kami berlangsung, ia datang. Sepupu Adi yang memberitahuku betapa berharganya wanita itu bagi Adi. Aku kembali menatapnya. Kali ini sedikit lebih lama. Mencoba menggali celah keraguan di sana. Ah, tapi setelahnya aku sadar, Adi bukan sedang bertanya melainkan membuat pernyataan yang tak membutuhkan jawaban. "Nikahi saja dia," jawabku kemudian. Aku sadar, aku baru saja mengatakan hal yang mungkin untuk sebagian wanita begi
Heat: 189
Website URL: com.dreame.reader.indonesia
Headline: 娱乐
Button label: LEARN_MORE
Innovel

16 Days

Kehidupan yang aku inginkan yaitu kebahagiaan dan ketenangan. Sejak kecil aku berusaha menjadi yang terbaik dalam bidang akedemik untuk membuat kedua orang tuaku bangga dan aku ingin berhasil membahagiakan mereka. Namun kehidupan tenangku tiba-tiba berubah sejak saudara kembarku dikabarkan menghilang. Entah apa yang terjadi padanya. Aku memang dibesarkan oleh kedua orang tuaku tapi Zava sejak kecil dibesarkan pamanku Edwar. Aku dan Zava hanya bertemu beberapa kali dan dari sikapnya kepadaku aku tahu dia tidak menyukaiku karena aku begitu mirip dengannya.\n\nSaat ini Paman Edwar menatapku dengan sendu, saat Mama memintaku untuk segera pulang karena aku tinggal di Apartemen dan bekerja di sebuah perusahaan yang cukup jauh dari kediaman orang tuaku. Aku merasa pasti ada sesuatu yang terjadi karena kedua orang tuaku tidak pernah memintaku pulang mendadak seperti saat ini dan ternyata apa yang kupikirkan benar. Kabar yang begitu mengejutkan karena Zava menghilang tanpa kabar.\n\nZava adalah kakak perempuanku, ia merupakan seorang model terkenal dan jika berita kehilangan Zava terkuak maka perusahaan keluarga besar kami sepertinya akan terancam bangkrut. Aku hanya mendengar cerita dari Mama beberapa tahun yang lalu mengenai pernikahan Zava dengan keluarga Cristopher yang sangat berpengaruh di negara ini. Keluarga kami dilarang untuk muncul ke publik karena publik hanya tahu Zava adalah putri kandung Paman Edwar dan ia tidak memiliki saudara kembar sepertiku.\n\n"Zack kamu harus ingat janji yang pernah kamu ucapkan. Kau lebih memilih menikah dengan Selena orang yang ditugaskan untuk membunuhku. Aku mengizinkan dia hidup karena kalian berjanji kapanpun aku meminta hidup kalian. Kalian akan memberikannya!" ucap Paman Edwar.\n\nAku masih bingung dengan pembicaraan antara Paman dan Papa. Entah situasi apa yang sedang kami hadapi saat ini yang jelas aku melihat tatapan Mama terlihat sangat ketakutan. Aku memeluk lengan Mama dan berusaha membuat Mama tenang. Kehilangan Zava menjadi pukulan terberat bagi Mama. Apa lagi sejak k
Heat: 187
Website URL: com.dreame.reader.indonesia
Headline: N/A
Button label: DOWNLOAD
Innovel

18 Days

Aku menyaksikan sendiri bagaimana Adi memperlakukan Melati begitu lembut dan penuh cinta. Berbeda dengan caranya memperlakukanku. Sangat berbeda.\n\nYa, kami ... aku-Anyelir, Adi dan Melati terikat dalam sebuah pernikahan yang sah secara hukum dan agama.\n\nJika kalian bertanya siapa istri pertama Adi\n\nAkulah istri pertamanya.\n\nNamun, siapa yang dicintai Adi\n\nMaka jawabannya adalah Melati.\n\nMengapa bisa begini\n\nSemua berawal dari perjodohan yang dicetuskan oleh orang tua Adi dan orang tuaku.\n\nAkulah orang ketiga di hubungan Adi dan Melati. Aku hadir di antara kisah cinta mereka yang telah terjalin bertahun-tahun. Aku pun yang pada akhirnya dengan sadar mengizinkan Adi menikahi Melati, meski sejujurnya Adi tak benar-benar membutuhkan izinku.\n\nLalu ... apa kabar dengan hatiku\n\nDi suatu sore tiga bulan lalu. Tepat sebulan setelah pernikahanku dan Adi berlangsung, Adi menemuiku di kamar. Kami memang tidur terpisah, meski telah berstatus suami istri. Dan selama sebulan itu tak ada kontak fisik di antara kami, hingga detik ini. Entah, rumah tangga macam apa yang sedang kami jalani saat ini.\n\n"Anye, aku mau bicara," ucapnya saat itu. Wajahnya seperti biasa, datar tanpa ekspresi. Dua bulan aku mengenalnya sejak pertama kali bertemu, sebulan aku hidup dengannya, belum pernah sekalipun ia tersenyum padaku.\n\nAku menghentikan kegiatanku membaca novel. Kutatap wajahnya sekilas, lalu beralih menatap jendela kamar yang mulai basah terkena percikan air hujan.\n\n"Ada apa"\n\n"Aku akan menikahi Melati." Kata-katanya meluncur dengan lugas tanpa beban.\n\nAku sudah tahu siapa sosok Melati itu. Saat pernikahan kami berlangsung, ia datang. Sepupu Adi yang memberitahuku betapa berharganya wanita itu bagi Adi.\n\nAku kembali menatapnya. Kali ini sedikit lebih lama. Mencoba menggali celah keraguan di sana. Ah, tapi setelahnya aku sadar, Adi bukan sedang bertanya melainkan membuat pernyataan yang tak membutuhkan jawaban.\n\n"Nikahi saja dia," jawabku kemudian. Aku sadar, aku baru saja mengatakan hal yang mungkin
Heat: 182
Website URL: com.dreame.reader.indonesia
Headline: N/A
Button label: INSTALL_MOBILE_APP
Innovel

15 Days

Sebuah pernikahan tanpa Cinta adalah seperti mimpi buruk bagi siapa saja, tapi tidak ada yang pernah tahu bahwa mimpi buruk bisa menjadi manis bila takdir berpihak padanya. Hari ini dia mengumandangkan ijab kabul dengan namaku yang sialnya terdengar merdu ketika di ucapkannya. Seharusnya bukan aku yang duduk dengan jantung berdebar disampingnya. Seharusnya bukan aku yang didandani seperti Putri Raja dan membuat semua tamu undangan memandang takjub setiap kali bertata muka. Laki-laki itu, yang sekarang mungkin boleh ku sebut suamiku. Sebenarnya adalah pacar sahabatku sendiri. Dan dia membenciku setengah mati. Sudah terbayang kan bagaimana nantinya pernikahan ini akan berjalan Aku meremas kain kebaya yang membalut tubuhku dengan Indah. Tanganku berkeringat dan jantungku luar biasa berpacu. Ku lihat Nancy, memandangku dengan tatapn benci sekaligus terluka. Ku akui ketegarannya menyaksikan pacarnya menikahi sahabatnya sendiri. Tapi bukan aku yang menginginkan pernikahan ini. Aku memang pernah menyukai Adrian suamiku dahulu, saat kami masih duduk di bangku kuliah. Sebelum dia mengenal Nancy. Tapi untuk bermimpi menjadi temannya saja aku tidak berani. Dia terlalu bersinar dan aku hanya gadis sederhana yang kebetulan mendapat beasiswa di kampus yang sama dengannya. Aku biasa berteman dengan anak-anak biasa yang lebih banyak menghabiskan sebagian waktu luangnya di perpustakaan. Sedangkan Adrian adalah laki-laki populer dimana saat dia berjalan semua perempuan memandangnya takjub. Ada yang menundukan wajahnya malu dan ada yang terang-terangan berteriak mengucapkan kata cinta kearahnya. Semua acara sudah selesai. Para tamu undangan sudah pergi. Adrian menarikku sedikit kasar kedalam mobil yang akan membawa kami ke apartemennya. Dia menolak pemberian rumah dari tante Imel ibunya. Dia bilang kami akan tinggal di apartemen saja. Aku sangat mengerti maksud dari semua itu. Dia pasti ingin membuatku menderita karena sudah berani menerima lamaran yang diajukan ibunya padaku. Aku menerima pernikahan ini bukan tanpa alasan. Adikku sakit jantung, dan dia membutuhkan biaya yang banyak untuk pengobatannya. Kemudian tante Imel datang menawari bantuan dengan syarat aku mau menikahi putranya. Aku sudah menolak pada awalnya, tapi alasan yang diucapkan tante Imel membuatku terpaksa menerimanya. Entah apa penyebab tante Imel sangat tidak menyukai Nancy. Dan Adrian berfikir akulah yang mempengaruhinya untuk tidak menyukai kekasihnya itu. Mungkin keputusan yang aku ambil ini bisa dibilang jahat. Tapi aku tidak bisa diam saja sementara adikku meregang nyawa di rumah sakit. Biarlah aku berkorban perasaanku. *** “Puas kan, lo udah hancurin semua mimpi gue” Adrian mendorongku sampai terjatuh di samping tempat tidur. “Dasar cewe matre, gue tahu lo dibayar sama nyokap gue buat nikah sama gue.” Adrian tidak pernah tahu, atau lebih tepatnya tidak mau tahu alasan aku menerima uang itu. Aku terduduk dengan genangan air mata yang sebentar lagi akan jatuh tanpa mampu berkata apapun. Karena pada kenyataannya memang benar. Aku baru saja menghancurkan mimpinya untuk menikahi seorang Nancy yang sangat cantik dan sempurna. “Jangan mengharapkan apapun dari pernikahan ini, apalagi uangku. Kau tidak akan mendapat apapun kecuali rasa sakit yang lama lama akan menggerogoti tubuhmu.” Adrian berucap penuh kebencian kemudian keluar sambil membanting pintu keras-keras. *** Sudah genap satu bulan aku menjadi istrinya. Tanpa senyum darinya, tanpa kata-kata manis, bahkan sekedar ucapan selamat pagi. Apartemen ini rasanya sangat sunyi. Dia selalu mengabaikanku seolah aku tidak ada. Aku masih bisa menerimanya. Ini memang salahku, setidaknya dia tidak kasar padaku. Tapi ternyata pemikiranku salah. Suatu malam dia datang ke kamar ketika aku sudah terlelap. Dia mengikat kedua tanganku dengan tali ke salah satu besi di sandaran tempat tidurku. Saat itu aku tersadar dan sedikit panik. “A-Adrian kenapa aku diikat seperti ini” Dia menyeringai sambil menatapku penuh gairah. “Ibuku sud
Heat: 177
Website URL: com.dreame.reader.indonesia
Headline: N/A
Button label: LEARN_MORE