50 Best Kebaya Pengantin Ad Images in 2020 - BigSpy

Instagram
Anna Rias Dekorasi
Anna Rias Dekorasi
Anna Rias Dekorasi
Anna Rias Dekorasi
Anna Rias Dekorasi
Anna Rias Dekorasi
EDEENA
Innovel
Married with single daddy 1. Pernikahan Sosok itu mematut dirinya di depan meja rias, matanya menatap lesu pada bayangan seorang gadis yang tengah mengenakan baju pengantin berwarna putih dengan make up yang lumayan tebal, untuk menutupi lingkaran hitam yang ada di sekeliling matanya. Gadis dalam bayangan itu tampak terlihat lebih dewasa dari pada biasanya. Rambutnya disanggul rapi dengan penjepit rambut yang sederhana namun tetap terlihat elegan. Kebaya putih panjang yang sedikit mengekspos pundaknya, membalut tubuhnya yang ramping namun berisi dengan sempurna. Tidak ada yang spesial dari baju pengantin yang dipakainya, hanya saja saat Meisya yang mengenakan gaun pengantin itu, gaun tersebut tampak begitu pas dan cantik membalut tubuhnya. Lagi-lagi suara helaan napas terdengar dari mulut gadis tersebut, atau lebih tepatnya seorang wanita setelah ia resmi menikah sebentar lagi. Sedikit pun tidak terpikir di benak Meisya bahwa ia akan menikah semuda ini. Jika saja diizinkan, saat ini ia sangat ingin kabur dan melarikan diri dari acara pernikahan ini. Tapi ia tidak boleh egois dan memikirkan diri sendiri, sementara di luar sana ada seseorang yang dengan begitu berharap menginginkannya menjadi penyemangat hidupnya. Mau tidak mau ia harus tetap menjalankan pernikahan ini, demi kesembuhan anak itu. Ya, harus! Cklek "Oh Meisya.. lihatlah, hari ini kamu sangat cantik sayang. Mama tidak menyangka kamu akan menikah secepat ini." Mama Meisya atau yang biasa dipanggil Reina Holand memeluk Meisya dengan erat, hingga membuat Meisya ikut terhanyut dalam pelukan hangat ibunya yang sangat ia sayangi. "Mama berdoa semoga kamu bahagia bersama suamimu nanti sayang." 'Ya, semoga saja.' Meisya hanya bisa tersenyum paksa di hadapan mamanya, karena yang mamanya tahu Meisya menikah dengan seseorang yang dicintainya. Berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya, Meisya menikah bukan atas dasar cinta, akan tetapi sebuah keharusan yang tidak bisa disangkalnya. Flashback Saat Meisya kembali ke taman, ia melihat seorang ana
Innovel
Married with single daddy 1. Pernikahan Sosok itu mematut dirinya di depan meja rias, matanya menatap lesu pada bayangan seorang gadis yang tengah mengenakan baju pengantin berwarna putih dengan make up yang lumayan tebal, untuk menutupi lingkaran hitam yang ada di sekeliling matanya. Gadis dalam bayangan itu tampak terlihat lebih dewasa dari pada biasanya. Rambutnya disanggul rapi dengan penjepit rambut yang sederhana namun tetap terlihat elegan. Kebaya putih panjang yang sedikit mengekspos pundaknya, membalut tubuhnya yang ramping namun berisi dengan sempurna. Tidak ada yang spesial dari baju pengantin yang dipakainya, hanya saja saat Meisya yang mengenakan gaun pengantin itu, gaun tersebut tampak begitu pas dan cantik membalut tubuhnya. Lagi-lagi suara helaan napas terdengar dari mulut gadis tersebut, atau lebih tepatnya seorang wanita setelah ia resmi menikah sebentar lagi. Sedikit pun tidak terpikir di benak Meisya bahwa ia akan menikah semuda ini. Jika saja diizinkan, saat ini ia sangat ingin kabur dan melarikan diri dari acara pernikahan ini. Tapi ia tidak boleh egois dan memikirkan diri sendiri, sementara di luar sana ada seseorang yang dengan begitu berharap menginginkannya menjadi penyemangat hidupnya. Mau tidak mau ia harus tetap menjalankan pernikahan ini, demi kesembuhan anak itu. Ya, harus! Cklek "Oh Meisya.. lihatlah, hari ini kamu sangat cantik sayang. Mama tidak menyangka kamu akan menikah secepat ini." Mama Meisya atau yang biasa dipanggil Reina Holand memeluk Meisya dengan erat, hingga membuat Meisya ikut terhanyut dalam pelukan hangat ibunya yang sangat ia sayangi. "Mama berdoa semoga kamu bahagia bersama suamimu nanti sayang." 'Ya, semoga saja.' Meisya hanya bisa tersenyum paksa di hadapan mamanya, karena yang mamanya tahu Meisya menikah dengan seseorang yang dicintainya. Berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya, Meisya menikah bukan atas dasar cinta, akan tetapi sebuah keharusan yang tidak bisa disangkalnya. Flashback Saat Meisya kembali ke taman, ia melihat seorang ana
Dreame - Read Best Romance
Episode 1 Bulan madu seperti apakah yang diinginkan sepasang pengantin baru? Jika Alisa boleh berpendapat dia ingin pergi ke Bali. Harapan yang sederhana bukan? Dibandingkan dengan keliling Eropa atau keliling dunia seperti harapan wanita kebanyakan. Dia ingin sebuah ucapan selamat pagi dari laki-laki yang dicintainya ketika dia membuka mata. Dengan senyum manis yang membuatnya memiliki energi penuh untuk melewati harinya. Jalan-jalan di pantai sambil bergandengan tangan ,kemudian duduk di atas pasir putih menikmati matahari tenggelam sambil membicarakan masa depan panjang yang akan mereka jalani. Memikirkan berapa anak yang akan mereka miliki. Mulai memikirkan nama-nama lucu yang akan mereka berikan. Sambil sesekali tertawa karena saling melontarkan lelucon. Sesederhana itu Perfect Honeymoon dimata seorang Alisa Ayudia. Lalu bagaimana dengan Adrian Setyo Aji? Dengan penuh percaya diri dia akan menyebut sebuah kota yang menurutnya sangat romantis. Venice. Dia akan memanjakan mata dengan arsitektur klasik bangunan disana. Sambil bergandengan tangan mesra menikmati pagi, siang, sore bahkan malam hari. Sesekali mereka akan mengurung diri di dalam kamar hotel dan menikmati indahnya pagi dari balik jendela sambil masih berpelukan dalam keadaan tubuh telanjang di dalam selimut yang sama. Lalu seperti apakah Perfect Honeymoon yang diberikan Tuhan pada mereka? Semuanya akan jadi sangat berbeda dari bayangan mereka. Karena makna bahagia yang sesungguhnya baru saja akan mereka pelajari dalam pahitnya penderitaan yang terlebih dahulu diberikan takdir. Selamat menikmati kisah mereka. Jangan lupa siapkan minuman manis sebagai pelengkap rasa pahit dari setiap ujian yang mereka jalani! Episode 2 Sebuah pernikahan tanpa Cinta adalah seperti mimpi buruk bagi siapa saja, tapi tidak ada yang pernah tahu bahwa mimpi buruk bisa menjadi manis bila takdir berpihak padanya. Hari ini dia mengumandangkan ijab kabul dengan namaku yang sialnya terdengar merdu ketika di ucapkannya. Seharusnya bukan aku yang duduk dengan jantung berdebar disampingnya. Seharusnya bukan aku yang didandani seperti Putri Raja dan membuat semua tamu undangan memandang takjub setiap kali bertata muka. Laki-laki itu, yang sekarang mungkin boleh ku sebut suamiku. Sebenarnya adalah pacar sahabatku sendiri. Dan dia membenciku setengah mati. Sudah terbayang kan bagaimana nantinya pernikahan ini akan berjalan ? Aku meremas kain kebaya yang membalut tubuhku dengan Indah. Tanganku berkeringat dan jantungku luar biasa berpacu. Ku lihat Nancy, memandangku dengan tatapn benci sekaligus terluka. Ku akui ketegarannya menyaksikan pacarnya menikahi sahabatnya sendiri. Tapi bukan aku yang menginginkan pernikahan ini. Aku memang pernah menyukai Adrian suamiku dahulu, saat kami masih duduk di bangku kuliah. Sebelum dia mengenal Nancy. Tapi untuk bermimpi menjadi temannya saja aku tidak berani. Dia terlalu bersinar dan aku hanya gadis sederhana yang kebetulan mendapat beasiswa di kampus yang sama dengannya. Aku biasa berteman dengan anak-anak biasa yang lebih banyak menghabiskan sebagian waktu luangnya di perpustakaan. Sedangkan Adrian adalah laki-laki populer dimana saat dia berjalan semua perempuan memandangnya takjub. Ada yang menundukan wajahnya malu dan ada yang terang-terangan berteriak mengucapkan kata cinta kearahnya. Semua acara sudah selesai. Para tamu undangan sudah pergi. Adrian menarikku kedalam mobil yang akan membawa kami ke apartemennya. Dia menolak pemberian rumah dari tante Imel ibunya. Dia bilang kami akan tinggal di apartemen saja. Aku sangat mengerti maksud dari semua itu. Dia pasti ingin membuatku menderita karena sudah berani menerima lamaran yang diajukan ibunya padaku. Aku menerima pernikahan ini bukan tanpa alasan. Adikku sakit jantung, dan dia membutuhkan biaya yang banyak untuk pengobatannya. Kemudian tante Imel datang menawari bantuan dengan syarat aku mau menikahi putranya. Aku sudah menolak pada awalnya, tapi alasan yang diucapkan tante Imel membuatku terpaksa menerimanya. Entah apa penyebab tante Imel sangat tidak menyukai Nancy. Dan Adrian be
EDEENA
EDEENA
EDEENA
EDEENA
EDEENA
EDEENA
Innovel
"Kau harus menikah denganku!" "Tidak! Mengapa aku harus menikah denganmu?" "Tidak ada pilihan lain, jika kamu menolak, aku bisa saja membuatmu berhenti dari kuliahmu dan menuntutmu karena telah mempertaruhkan nyawa orang lain." "Tidak adakah cara lain? Aku masih kuliah, dan aku belum siap untuk menikah." "Tidak ada penolakan! Secepatnya kita akan menikah, jadi bersiap-siaplah." "Hey tunggu! Kau tidak bisa seenaknya memutuskan." Meisya terduduk lesu di lorong rumah sakit. Bagaimana mungkin diumurnya yang masih muda ia harus menikah, ditambah lagi ia harus menikah dengan seorang duda. Entah pernikahan macam apa yang nanti akan dijalaninya. Pernikahan tanpa cinta. "Arghh.., mengapa takdir begitu buruk mempertemukanku dengan lelaki semacam dia?" Sosok itu mematut dirinya di depan meja rias, matanya menatap lesu pada bayangan seorang gadis yang tengah mengenakan baju pengantin berwarna putih dengan make up yang lumayan tebal, untuk menutupi lingkaran hitam yang ada di sekeliling matanya. Gadis dalam bayangan itu tampak terlihat lebih dewasa dari pada biasanya. Rambutnya disanggul rapi dengan penjepit rambut yang sederhana namun tetap terlihat elegan. Kebaya putih panjang yang sedikit mengekspos pundaknya, membalut tubuhnya yang ramping namun berisi dengan sempurna. Tidak ada yang spesial dari baju pengantin yang dipakainya, hanya saja saat Meisya yang mengenakan gaun pengantin itu, gaun tersebut tampak begitu pas dan cantik membalut tubuhnya. Lagi-lagi suara helaan napas terdengar dari mulut gadis tersebut, atau lebih tepatnya seorang wanita setelah ia resmi menikah sebentar lagi. Sedikit pun tidak terpikir di benak Meisya bahwa ia akan menikah semuda ini. Jika saja diizinkan, saat ini ia sangat ingin kabur dan melarikan diri dari acara pernikahan ini. Tapi ia tidak boleh egois dan memikirkan diri sendiri, sementara di luar sana ada seseorang yang dengan begitu berharap menginginkannya menjadi penyemangat hidupnya. Mau tidak mau ia harus tetap menjalankan pernikahan ini, demi kesembuhan anak itu. Ya, harus! Cklek "Oh Meisya.. lihatlah, hari ini kamu sangat cantik sayang. Mama tidak menyangka kamu akan menikah secepat ini." Mama Meisya atau yang biasa dipanggil Reina Holand memeluk Meisya dengan erat, hingga membuat Meisya ikut terhanyut dalam pelukan hangat ibunya yang sangat ia sayangi. "Mama berdoa semoga kamu bahagia bersama suamimu nanti sayang." 'Ya, semoga saja.' Meisya hanya bisa tersenyum paksa di hadapan mamanya, karena yang mamanya tahu Meisya menikah dengan seseorang yang dicintainya. Berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya, Meisya menikah bukan atas dasar cinta, akan tetapi sebuah keharusan yang tidak bisa disangkalnya. Flashback Saat Meisya kembali ke taman, ia melihat seorang anak kecil yang hendak terserempet motor. Meisya yang terkejut segera berlari ke arah anak tersebut dan berniat menolongnya. Tapi naas, saat Meisya berniat menolong anak itu, ternyata motor yang melintas begitu kencang membuat Meisya secara refleks mendorong anak itu ke arah pinggiran trotoar. Untunglah tidak ada hal fatal yang disebabkan dari kecelakaan tadi. Tapi Meisya tidak menyangka bahwa perbuatannya yang berniat menolong anak tersebut malah berujung fatal. Dokter mengatakan sewaktu Meisya mendorong anak tersebut, ternyata bagian pinggang anak tersebut membentur pinggiran trotoar dengan cukup keras. Hingga menyebabkan ginjal di sebelah kiri anak tersebut yang memang pada dasarnya kurang berfungsi secara sempurna harus segera dioperasi secepat mungkin. Jika tidak, maka akan berakibat fatal pada keselamatan anak itu. Meisya hanya menunduk dalam, ia tidak menyangka bahwa niatannya untuk menolong anak itu akan berakibat pada keselamatan anak itu sendiri. 'Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan untuk menolong anak ini?' meskipun baru beberapa minggu yang lalu Meisya mengenal anak manis bernama Mika ini, ia sudah cukup menyayangi anak itu. Meisya sama sekali tidak menyangka bahwa anak sekecil Mika sudah harus menanggung penderitaan seberat ini. Salah satu ginjal gadis manis ini tidak berfungsi dengan sempur
Innovel
Bulan madu seperti apakah yang diinginkan sepasang pengantin baru? Jika Alisa boleh berpendapat dia ingin pergi ke Bali. Harapan yang sederhana bukan? Dibandingkan dengan keliling Eropa atau keliling dunia seperti harapan wanita kebanyakan. Dia ingin sebuah ucapan selamat pagi dari laki-laki yang dicintainya ketika dia membuka mata. Dengan senyum manis yang membuatnya memiliki energi penuh untuk melewati harinya. Jalan-jalan di pantai sambil bergandengan tangan ,kemudian duduk di atas pasir putih menikmati matahari tenggelam sambil membicarakan masa depan panjang yang akan mereka jalani. Memikirkan berapa anak yang akan mereka miliki. Mulai memikirkan nama-nama lucu yang akan mereka berikan. Sambil sesekali tertawa karena saling melontarkan lelucon. Sesederhana itu Perfect Honeymoon dimata seorang Alisa Ayudia. Lalu bagaimana dengan Adrian Setyo Aji? Dengan penuh percaya diri dia akan menyebut sebuah kota yang menurutnya sangat romantis. Venice. Dia akan memanjakan mata dengan arsitektur klasik bangunan disana. Sambil bergandengan tangan mesra menikmati pagi, siang, sore bahkan malam hari. Sesekali mereka akan mengurung diri di dalam kamar hotel dan menikmati indahnya pagi dari balik jendela sambil masih berpelukan dalam keadaan tubuh telanjang di dalam selimut yang sama. Lalu seperti apakah Perfect Honeymoon yang diberikan Tuhan pada mereka? Semuanya akan jadi sangat berbeda dari bayangan mereka. Karena makna bahagia yang sesungguhnya baru saja akan mereka pelajari dalam pahitnya penderitaan yang terlebih dahulu diberikan takdir. Selamat menikmati kisah mereka. Jangan lupa siapkan minuman manis sebagai pelengkap rasa pahit dari setiap ujian yang mereka jalani! Sebuah pernikahan tanpa Cinta adalah seperti mimpi buruk bagi siapa saja, tapi tidak ada yang pernah tahu bahwa mimpi buruk bisa menjadi manis bila takdir berpihak padanya. Hari ini dia mengumandangkan ijab kabul dengan namaku yang sialnya terdengar merdu ketika di ucapkannya. Seharusnya bukan aku yang duduk dengan jantung berdebar disampingnya. Seharusnya bukan aku yang didandani seperti Putri Raja dan membuat semua tamu undangan memandang takjub setiap kali bertata muka. Laki-laki itu, yang sekarang mungkin boleh ku sebut suamiku. Sebenarnya adalah pacar sahabatku sendiri. Dan dia membenciku setengah mati. Sudah terbayang kan bagaimana nantinya pernikahan ini akan berjalan ? Aku meremas kain kebaya yang membalut tubuhku dengan Indah. Tanganku berkeringat dan jantungku luar biasa berpacu. Ku lihat Nancy, memandangku dengan tatapn benci sekaligus terluka. Ku akui ketegarannya menyaksikan pacarnya menikahi sahabatnya sendiri. Tapi bukan aku yang menginginkan pernikahan ini. Aku memang pernah menyukai Adrian suamiku dahulu, saat kami masih duduk di bangku kuliah. Sebelum dia mengenal Nancy. Tapi untuk bermimpi menjadi temannya saja aku tidak berani. Dia terlalu bersinar dan aku hanya gadis sederhana yang kebetulan mendapat beasiswa di kampus yang sama dengannya. Aku biasa berteman dengan anak-anak biasa yang lebih banyak menghabiskan sebagian waktu luangnya di perpustakaan. Sedangkan Adrian adalah laki-laki populer dimana saat dia berjalan semua perempuan memandangnya takjub. Ada yang menundukan wajahnya malu dan ada yang terang-terangan berteriak mengucapkan kata cinta kearahnya. Semua acara sudah selesai. Para tamu undangan sudah pergi. Adrian menarikku sedikit kasar kedalam mobil yang akan membawa kami ke apartemennya. Dia menolak pemberian rumah dari tante Imel ibunya. Dia bilang kami akan tinggal di apartemen saja. Aku sangat mengerti maksud dari semua itu. Dia pasti ingin membuatku menderita karena sudah berani menerima lamaran yang diajukan ibunya padaku. Aku menerima pernikahan ini bukan tanpa alasan. Adikku sakit jantung, dan dia membutuhkan biaya yang banyak untuk pengobatannya. Kemudian tante Imel datang menawari bantuan dengan syarat aku mau menikahi putranya. Aku sudah menolak pada awalnya, tapi alasan yang diucapkan tante Imel membuatku terpaksa menerimanya. Entah apa penyebab tante Imel sangat tidak menyukai Nancy. Dan Adrian berfikir akulah yang memp
Dreame
Bulan madu seperti apakah yang diinginkan sepasang pengantin baru? Jika Alisa boleh berpendapat dia ingin pergi ke Bali. Harapan yang sederhana bukan? Dibandingkan dengan keliling Eropa atau keliling dunia seperti harapan wanita kebanyakan. Dia ingin sebuah ucapan selamat pagi dari laki-laki yang dicintainya ketika dia membuka mata. Dengan senyum manis yang membuatnya memiliki energi penuh untuk melewati harinya. Jalan-jalan di pantai sambil bergandengan tangan ,kemudian duduk di atas pasir putih menikmati matahari tenggelam sambil membicarakan masa depan panjang yang akan mereka jalani. Memikirkan berapa anak yang akan mereka miliki. Mulai memikirkan nama-nama lucu yang akan mereka berikan. Sambil sesekali tertawa karena saling melontarkan lelucon. Sesederhana itu Perfect Honeymoon dimata seorang Alisa Ayudia. Lalu bagaimana dengan Adrian Setyo Aji? Dengan penuh percaya diri dia akan menyebut sebuah kota yang menurutnya sangat romantis. Venice. Dia akan memanjakan mata dengan arsitektur klasik bangunan disana. Sambil bergandengan tangan mesra menikmati pagi, siang, sore bahkan malam hari. Sesekali mereka akan mengurung diri di dalam kamar hotel dan menikmati indahnya pagi dari balik jendela sambil masih berpelukan dalam keadaan tubuh telanjang di dalam selimut yang sama. Lalu seperti apakah Perfect Honeymoon yang diberikan Tuhan pada mereka? Semuanya akan jadi sangat berbeda dari bayangan mereka. Karena makna bahagia yang sesungguhnya baru saja akan mereka pelajari dalam pahitnya penderitaan yang terlebih dahulu diberikan takdir. Selamat menikmati kisah mereka. Jangan lupa siapkan minuman manis sebagai pelengkap rasa pahit dari setiap ujian yang mereka jalani! Sebuah pernikahan tanpa Cinta adalah seperti mimpi buruk bagi siapa saja, tapi tidak ada yang pernah tahu bahwa mimpi buruk bisa menjadi manis bila takdir berpihak padanya. Hari ini dia mengumandangkan ijab kabul dengan namaku yang sialnya terdengar merdu ketika di ucapkannya. Seharusnya bukan aku yang duduk dengan jantung berdebar disampingnya. Seharusnya bukan aku yang didandani seperti Putri Raja dan membuat semua tamu undangan memandang takjub setiap kali bertata muka. Laki-laki itu, yang sekarang mungkin boleh ku sebut suamiku. Sebenarnya adalah pacar sahabatku sendiri. Dan dia membenciku setengah mati. Sudah terbayang kan bagaimana nantinya pernikahan ini akan berjalan ? Aku meremas kain kebaya yang membalut tubuhku dengan Indah. Tanganku berkeringat dan jantungku luar biasa berpacu. Ku lihat Nancy, memandangku dengan tatapn benci sekaligus terluka. Ku akui ketegarannya menyaksikan pacarnya menikahi sahabatnya sendiri. Tapi bukan aku yang menginginkan pernikahan ini. Aku memang pernah menyukai Adrian suamiku dahulu, saat kami masih duduk di bangku kuliah. Sebelum dia mengenal Nancy. Tapi untuk bermimpi menjadi temannya saja aku tidak berani. Dia terlalu bersinar dan aku hanya gadis sederhana yang kebetulan mendapat beasiswa di kampus yang sama dengannya. Aku biasa berteman dengan anak-anak biasa yang lebih banyak menghabiskan sebagian waktu luangnya di perpustakaan. Sedangkan Adrian adalah laki-laki populer dimana saat dia berjalan semua perempuan memandangnya takjub. Ada yang menundukan wajahnya malu dan ada yang terang-terangan berteriak mengucapkan kata cinta kearahnya. Semua acara sudah selesai. Para tamu undangan sudah pergi. Adrian menarikku sedikit kasar kedalam mobil yang akan membawa kami ke apartemennya. Dia menolak pemberian rumah dari tante Imel ibunya. Dia bilang kami akan tinggal di apartemen saja. Aku sangat mengerti maksud dari semua itu. Dia pasti ingin membuatku menderita karena sudah berani menerima lamaran yang diajukan ibunya padaku. Aku menerima pernikahan ini bukan tanpa alasan. Adikku sakit jantung, dan dia membutuhkan biaya yang banyak untuk pengobatannya. Kemudian tante Imel datang menawari bantuan dengan syarat aku mau menikahi putranya. Aku sudah menolak pada awalnya, tapi alasan yang diucapkan tante Imel membuatku terpaksa menerimanya. Entah apa penyebab tante Imel sangat tidak menyukai Nancy. Dan Adrian berfikir akulah yang mem
Dreame
Bulan madu seperti apakah yang diinginkan sepasang pengantin baru? Jika Alisa boleh berpendapat dia ingin pergi ke Bali. Harapan yang sederhana bukan? Dibandingkan dengan keliling Eropa atau keliling dunia seperti harapan wanita kebanyakan. Dia ingin sebuah ucapan selamat pagi dari laki-laki yang dicintainya ketika dia membuka mata. Dengan senyum manis yang membuatnya memiliki energi penuh untuk melewati harinya. Jalan-jalan di pantai sambil bergandengan tangan ,kemudian duduk di atas pasir putih menikmati matahari tenggelam sambil membicarakan masa depan panjang yang akan mereka jalani. Memikirkan berapa anak yang akan mereka miliki. Mulai memikirkan nama-nama lucu yang akan mereka berikan. Sambil sesekali tertawa karena saling melontarkan lelucon. Sesederhana itu Perfect Honeymoon dimata seorang Alisa Ayudia. Lalu bagaimana dengan Adrian Setyo Aji? Dengan penuh percaya diri dia akan menyebut sebuah kota yang menurutnya sangat romantis. Venice. Dia akan memanjakan mata dengan arsitektur klasik bangunan disana. Sambil bergandengan tangan mesra menikmati pagi, siang, sore bahkan malam hari. Sesekali mereka akan mengurung diri di dalam kamar hotel dan menikmati indahnya pagi dari balik jendela sambil masih berpelukan dalam keadaan tubuh telanjang di dalam selimut yang sama. Lalu seperti apakah Perfect Honeymoon yang diberikan Tuhan pada mereka? Semuanya akan jadi sangat berbeda dari bayangan mereka. Karena makna bahagia yang sesungguhnya baru saja akan mereka pelajari dalam pahitnya penderitaan yang terlebih dahulu diberikan takdir. Selamat menikmati kisah mereka. Jangan lupa siapkan minuman manis sebagai pelengkap rasa pahit dari setiap ujian yang mereka jalani! Sebuah pernikahan tanpa Cinta adalah seperti mimpi buruk bagi siapa saja, tapi tidak ada yang pernah tahu bahwa mimpi buruk bisa menjadi manis bila takdir berpihak padanya. Hari ini dia mengumandangkan ijab kabul dengan namaku yang sialnya terdengar merdu ketika di ucapkannya. Seharusnya bukan aku yang duduk dengan jantung berdebar disampingnya. Seharusnya bukan aku yang didandani seperti Putri Raja dan membuat semua tamu undangan memandang takjub setiap kali bertata muka. Laki-laki itu, yang sekarang mungkin boleh ku sebut suamiku. Sebenarnya adalah pacar sahabatku sendiri. Dan dia membenciku setengah mati. Sudah terbayang kan bagaimana nantinya pernikahan ini akan berjalan ? Aku meremas kain kebaya yang membalut tubuhku dengan Indah. Tanganku berkeringat dan jantungku luar biasa berpacu. Ku lihat Nancy, memandangku dengan tatapn benci sekaligus terluka. Ku akui ketegarannya menyaksikan pacarnya menikahi sahabatnya sendiri. Tapi bukan aku yang menginginkan pernikahan ini. Aku memang pernah menyukai Adrian suamiku dahulu, saat kami masih duduk di bangku kuliah. Sebelum dia mengenal Nancy. Tapi untuk bermimpi menjadi temannya saja aku tidak berani. Dia terlalu bersinar dan aku hanya gadis sederhana yang kebetulan mendapat beasiswa di kampus yang sama dengannya. Aku biasa berteman dengan anak-anak biasa yang lebih banyak menghabiskan sebagian waktu luangnya di perpustakaan. Sedangkan Adrian adalah laki-laki populer dimana saat dia berjalan semua perempuan memandangnya takjub. Ada yang menundukan wajahnya malu dan ada yang terang-terangan berteriak mengucapkan kata cinta kearahnya. Semua acara sudah selesai. Para tamu undangan sudah pergi. Adrian menarikku sedikit kasar kedalam mobil yang akan membawa kami ke apartemennya. Dia menolak pemberian rumah dari tante Imel ibunya. Dia bilang kami akan tinggal di apartemen saja. Aku sangat mengerti maksud dari semua itu. Dia pasti ingin membuatku menderita karena sudah berani menerima lamaran yang diajukan ibunya padaku. Aku menerima pernikahan ini bukan tanpa alasan. Adikku sakit jantung, dan dia membutuhkan biaya yang banyak untuk pengobatannya. Kemudian tante Imel datang menawari bantuan dengan syarat aku mau menikahi putranya. Aku sudah menolak pada awalnya, tapi alasan yang diucapkan tante Imel membuatku terpaksa menerimanya. Entah apa penyebab tante Imel sangat tidak menyukai Nancy. Dan Adrian berfikir akulah yang mem
Innovel
"Kau harus menikah denganku!" "Tidak! Mengapa aku harus menikah denganmu?" "Tidak ada pilihan lain, jika kamu menolak, aku bisa saja membuatmu berhenti dari kuliahmu dan menuntutmu karena telah mempertaruhkan nyawa orang lain." "Tidak adakah cara lain? Aku masih kuliah, dan aku belum siap untuk menikah." "Tidak ada penolakan! Secepatnya kita akan menikah, jadi bersiap-siaplah." "Hey tunggu! Kau tidak bisa seenaknya memutuskan." Meisya terduduk lesu di lorong rumah sakit. Bagaimana mungkin diumurnya yang masih muda ia harus menikah, ditambah lagi ia harus menikah dengan seorang duda. Entah pernikahan macam apa yang nanti akan dijalaninya. Pernikahan tanpa cinta. "Arghh.., mengapa takdir begitu buruk mempertemukanku dengan lelaki semacam dia?" Sosok itu mematut dirinya di depan meja rias, matanya menatap lesu pada bayangan seorang gadis yang tengah mengenakan baju pengantin berwarna putih dengan make up yang lumayan tebal, untuk menutupi lingkaran hitam yang ada di sekeliling matanya. Gadis dalam bayangan itu tampak terlihat lebih dewasa dari pada biasanya. Rambutnya disanggul rapi dengan penjepit rambut yang sederhana namun tetap terlihat elegan. Kebaya putih panjang yang sedikit mengekspos pundaknya, membalut tubuhnya yang ramping namun berisi dengan sempurna. Tidak ada yang spesial dari baju pengantin yang dipakainya, hanya saja saat Meisya yang mengenakan gaun pengantin itu, gaun tersebut tampak begitu pas dan cantik membalut tubuhnya. Lagi-lagi suara helaan napas terdengar dari mulut gadis tersebut, atau lebih tepatnya seorang wanita setelah ia resmi menikah sebentar lagi. Sedikit pun tidak terpikir di benak Meisya bahwa ia akan menikah semuda ini. Jika saja diizinkan, saat ini ia sangat ingin kabur dan melarikan diri dari acara pernikahan ini. Tapi ia tidak boleh egois dan memikirkan diri sendiri, sementara di luar sana ada seseorang yang dengan begitu berharap menginginkannya menjadi penyemangat hidupnya. Mau tidak mau ia harus tetap menjalankan pernikahan ini, demi kesembuhan anak itu. Ya, harus! Cklek "Oh Meisya.. lihatlah, hari ini kamu sangat cantik sayang. Mama tidak menyangka kamu akan menikah secepat ini." Mama Meisya atau yang biasa dipanggil Reina Holand memeluk Meisya dengan erat, hingga membuat Meisya ikut terhanyut dalam pelukan hangat ibunya yang sangat ia sayangi. "Mama berdoa semoga kamu bahagia bersama suamimu nanti sayang." 'Ya, semoga saja.' Meisya hanya bisa tersenyum paksa di hadapan mamanya, karena yang mamanya tahu Meisya menikah dengan seseorang yang dicintainya. Berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya, Meisya menikah bukan atas dasar cinta, akan tetapi sebuah keharusan yang tidak bisa disangkalnya. Flashback Saat Meisya kembali ke taman, ia melihat seorang anak kecil yang hendak terserempet motor. Meisya yang terkejut segera berlari ke arah anak tersebut dan berniat menolongnya. Tapi naas, saat Meisya berniat menolong anak itu, ternyata motor yang melintas begitu kencang membuat Meisya secara refleks mendorong anak itu ke arah pinggiran trotoar. Untunglah tidak ada hal fatal yang disebabkan dari kecelakaan tadi. Tapi Meisya tidak menyangka bahwa perbuatannya yang berniat menolong anak tersebut malah berujung fatal. Dokter mengatakan sewaktu Meisya mendorong anak tersebut, ternyata bagian pinggang anak tersebut membentur pinggiran trotoar dengan cukup keras. Hingga menyebabkan ginjal di sebelah kiri anak tersebut yang memang pada dasarnya kurang berfungsi secara sempurna harus segera dioperasi secepat mungkin. Jika tidak, maka akan berakibat fatal pada keselamatan anak itu. Meisya hanya menunduk dalam, ia tidak menyangka bahwa niatannya untuk menolong anak itu akan berakibat pada keselamatan anak itu sendiri. 'Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan untuk menolong anak ini?' meskipun baru beberapa minggu yang lalu Meisya mengenal anak manis bernama Mika ini, ia sudah cukup menyayangi anak itu. Meisya sama sekali tidak menyangka bahwa anak sekecil Mika sudah harus menanggung penderitaan seberat ini. Salah satu ginjal gadis manis ini tidak berfungsi dengan sempur
Dreame
Bulan madu seperti apakah yang diinginkan sepasang pengantin baru? Jika Alisa boleh berpendapat dia ingin pergi ke Bali. Harapan yang sederhana bukan? Dibandingkan dengan keliling Eropa atau keliling dunia seperti harapan wanita kebanyakan. Dia ingin sebuah ucapan selamat pagi dari laki-laki yang dicintainya ketika dia membuka mata. Dengan senyum manis yang membuatnya memiliki energi penuh untuk melewati harinya. Jalan-jalan di pantai sambil bergandengan tangan ,kemudian duduk di atas pasir putih menikmati matahari tenggelam sambil membicarakan masa depan panjang yang akan mereka jalani. Memikirkan berapa anak yang akan mereka miliki. Mulai memikirkan nama-nama lucu yang akan mereka berikan. Sambil sesekali tertawa karena saling melontarkan lelucon. Sesederhana itu Perfect Honeymoon dimata seorang Alisa Ayudia. Lalu bagaimana dengan Adrian Setyo Aji? Dengan penuh percaya diri dia akan menyebut sebuah kota yang menurutnya sangat romantis. Venice. Dia akan memanjakan mata dengan arsitektur klasik bangunan disana. Sambil bergandengan tangan mesra menikmati pagi, siang, sore bahkan malam hari. Sesekali mereka akan mengurung diri di dalam kamar hotel dan menikmati indahnya pagi dari balik jendela sambil masih berpelukan dalam keadaan tubuh telanjang di dalam selimut yang sama. Lalu seperti apakah Perfect Honeymoon yang diberikan Tuhan pada mereka? Semuanya akan jadi sangat berbeda dari bayangan mereka. Karena makna bahagia yang sesungguhnya baru saja akan mereka pelajari dalam pahitnya penderitaan yang terlebih dahulu diberikan takdir. Selamat menikmati kisah mereka. Jangan lupa siapkan minuman manis sebagai pelengkap rasa pahit dari setiap ujian yang mereka jalani! Sebuah pernikahan tanpa Cinta adalah seperti mimpi buruk bagi siapa saja, tapi tidak ada yang pernah tahu bahwa mimpi buruk bisa menjadi manis bila takdir berpihak padanya. Hari ini dia mengumandangkan ijab kabul dengan namaku yang sialnya terdengar merdu ketika di ucapkannya. Seharusnya bukan aku yang duduk dengan jantung berdebar disampingnya. Seharusnya bukan aku yang didandani seperti Putri Raja dan membuat semua tamu undangan memandang takjub setiap kali bertata muka. Laki-laki itu, yang sekarang mungkin boleh ku sebut suamiku. Sebenarnya adalah pacar sahabatku sendiri. Dan dia membenciku setengah mati. Sudah terbayang kan bagaimana nantinya pernikahan ini akan berjalan ? Aku meremas kain kebaya yang membalut tubuhku dengan Indah. Tanganku berkeringat dan jantungku luar biasa berpacu. Ku lihat Nancy, memandangku dengan tatapn benci sekaligus terluka. Ku akui ketegarannya menyaksikan pacarnya menikahi sahabatnya sendiri. Tapi bukan aku yang menginginkan pernikahan ini. Aku memang pernah menyukai Adrian suamiku dahulu, saat kami masih duduk di bangku kuliah. Sebelum dia mengenal Nancy. Tapi untuk bermimpi menjadi temannya saja aku tidak berani. Dia terlalu bersinar dan aku hanya gadis sederhana yang kebetulan mendapat beasiswa di kampus yang sama dengannya. Aku biasa berteman dengan anak-anak biasa yang lebih banyak menghabiskan sebagian waktu luangnya di perpustakaan. Sedangkan Adrian adalah laki-laki populer dimana saat dia berjalan semua perempuan memandangnya takjub. Ada yang menundukan wajahnya malu dan ada yang terang-terangan berteriak mengucapkan kata cinta kearahnya. Semua acara sudah selesai. Para tamu undangan sudah pergi. Adrian menarikku sedikit kasar kedalam mobil yang akan membawa kami ke apartemennya. Dia menolak pemberian rumah dari tante Imel ibunya. Dia bilang kami akan tinggal di apartemen saja. Aku sangat mengerti maksud dari semua itu. Dia pasti ingin membuatku menderita karena sudah berani menerima lamaran yang diajukan ibunya padaku. Aku menerima pernikahan ini bukan tanpa alasan. Adikku sakit jantung, dan dia membutuhkan biaya yang banyak untuk pengobatannya. Kemudian tante Imel datang menawari bantuan dengan syarat aku mau menikahi putranya. Aku sudah menolak pada awalnya, tapi alasan yang diucapkan tante Imel membuatku terpaksa menerimanya. Entah apa penyebab tante Imel sangat tidak menyukai Nancy. Dan Adrian berfikir akulah yang m
Dreame
Bulan madu seperti apakah yang diinginkan sepasang pengantin baru? Jika Alisa boleh berpendapat dia ingin pergi ke Bali. Harapan yang sederhana bukan? Dibandingkan dengan keliling Eropa atau keliling dunia seperti harapan wanita kebanyakan. Dia ingin sebuah ucapan selamat pagi dari laki-laki yang dicintainya ketika dia membuka mata. Dengan senyum manis yang membuatnya memiliki energi penuh untuk melewati harinya. Jalan-jalan di pantai sambil bergandengan tangan ,kemudian duduk di atas pasir putih menikmati matahari tenggelam sambil membicarakan masa depan panjang yang akan mereka jalani. Memikirkan berapa anak yang akan mereka miliki. Mulai memikirkan nama-nama lucu yang akan mereka berikan. Sambil sesekali tertawa karena saling melontarkan lelucon. Sesederhana itu Perfect Honeymoon dimata seorang Alisa Ayudia. Lalu bagaimana dengan Adrian Setyo Aji? Dengan penuh percaya diri dia akan menyebut sebuah kota yang menurutnya sangat romantis. Venice. Dia akan memanjakan mata dengan arsitektur klasik bangunan disana. Sambil bergandengan tangan mesra menikmati pagi, siang, sore bahkan malam hari. Sesekali mereka akan mengurung diri di dalam kamar hotel dan menikmati indahnya pagi dari balik jendela sambil masih berpelukan dalam keadaan tubuh telanjang di dalam selimut yang sama. Lalu seperti apakah Perfect Honeymoon yang diberikan Tuhan pada mereka? Semuanya akan jadi sangat berbeda dari bayangan mereka. Karena makna bahagia yang sesungguhnya baru saja akan mereka pelajari dalam pahitnya penderitaan yang terlebih dahulu diberikan takdir. Selamat menikmati kisah mereka. Jangan lupa siapkan minuman manis sebagai pelengkap rasa pahit dari setiap ujian yang mereka jalani! Sebuah pernikahan tanpa Cinta adalah seperti mimpi buruk bagi siapa saja, tapi tidak ada yang pernah tahu bahwa mimpi buruk bisa menjadi manis bila takdir berpihak padanya. Hari ini dia mengumandangkan ijab kabul dengan namaku yang sialnya terdengar merdu ketika di ucapkannya. Seharusnya bukan aku yang duduk dengan jantung berdebar disampingnya. Seharusnya bukan aku yang didandani seperti Putri Raja dan membuat semua tamu undangan memandang takjub setiap kali bertata muka. Laki-laki itu, yang sekarang mungkin boleh ku sebut suamiku. Sebenarnya adalah pacar sahabatku sendiri. Dan dia membenciku setengah mati. Sudah terbayang kan bagaimana nantinya pernikahan ini akan berjalan ? Aku meremas kain kebaya yang membalut tubuhku dengan Indah. Tanganku berkeringat dan jantungku luar biasa berpacu. Ku lihat Nancy, memandangku dengan tatapn benci sekaligus terluka. Ku akui ketegarannya menyaksikan pacarnya menikahi sahabatnya sendiri. Tapi bukan aku yang menginginkan pernikahan ini. Aku memang pernah menyukai Adrian suamiku dahulu, saat kami masih duduk di bangku kuliah. Sebelum dia mengenal Nancy. Tapi untuk bermimpi menjadi temannya saja aku tidak berani. Dia terlalu bersinar dan aku hanya gadis sederhana yang kebetulan mendapat beasiswa di kampus yang sama dengannya. Aku biasa berteman dengan anak-anak biasa yang lebih banyak menghabiskan sebagian waktu luangnya di perpustakaan. Sedangkan Adrian adalah laki-laki populer dimana saat dia berjalan semua perempuan memandangnya takjub. Ada yang menundukan wajahnya malu dan ada yang terang-terangan berteriak mengucapkan kata cinta kearahnya. Semua acara sudah selesai. Para tamu undangan sudah pergi. Adrian menarikku sedikit kasar kedalam mobil yang akan membawa kami ke apartemennya. Dia menolak pemberian rumah dari tante Imel ibunya. Dia bilang kami akan tinggal di apartemen saja. Aku sangat mengerti maksud dari semua itu. Dia pasti ingin membuatku menderita karena sudah berani menerima lamaran yang diajukan ibunya padaku. Aku menerima pernikahan ini bukan tanpa alasan. Adikku sakit jantung, dan dia membutuhkan biaya yang banyak untuk pengobatannya. Kemudian tante Imel datang menawari bantuan dengan syarat aku mau menikahi putranya. Aku sudah menolak pada awalnya, tapi alasan yang diucapkan tante Imel membuatku terpaksa menerimanya. Entah apa penyebab tante Imel sangat tidak menyukai Nancy. Dan Adrian berfikir akulah yang memp
Dreame
Bulan madu seperti apakah yang diinginkan sepasang pengantin baru? Jika Alisa boleh berpendapat dia ingin pergi ke Bali. Harapan yang sederhana bukan? Dibandingkan dengan keliling Eropa atau keliling dunia seperti harapan wanita kebanyakan. Dia ingin sebuah ucapan selamat pagi dari laki-laki yang dicintainya ketika dia membuka mata. Dengan senyum manis yang membuatnya memiliki energi penuh untuk melewati harinya. Jalan-jalan di pantai sambil bergandengan tangan ,kemudian duduk di atas pasir putih menikmati matahari tenggelam sambil membicarakan masa depan panjang yang akan mereka jalani. Memikirkan berapa anak yang akan mereka miliki. Mulai memikirkan nama-nama lucu yang akan mereka berikan. Sambil sesekali tertawa karena saling melontarkan lelucon. Sesederhana itu Perfect Honeymoon dimata seorang Alisa Ayudia. Lalu bagaimana dengan Adrian Setyo Aji? Dengan penuh percaya diri dia akan menyebut sebuah kota yang menurutnya sangat romantis. Venice. Dia akan memanjakan mata dengan arsitektur klasik bangunan disana. Sambil bergandengan tangan mesra menikmati pagi, siang, sore bahkan malam hari. Sesekali mereka akan mengurung diri di dalam kamar hotel dan menikmati indahnya pagi dari balik jendela sambil masih berpelukan dalam keadaan tubuh telanjang di dalam selimut yang sama. Lalu seperti apakah Perfect Honeymoon yang diberikan Tuhan pada mereka? Semuanya akan jadi sangat berbeda dari bayangan mereka. Karena makna bahagia yang sesungguhnya baru saja akan mereka pelajari dalam pahitnya penderitaan yang terlebih dahulu diberikan takdir. Selamat menikmati kisah mereka. Jangan lupa siapkan minuman manis sebagai pelengkap rasa pahit dari setiap ujian yang mereka jalani! Sebuah pernikahan tanpa Cinta adalah seperti mimpi buruk bagi siapa saja, tapi tidak ada yang pernah tahu bahwa mimpi buruk bisa menjadi manis bila takdir berpihak padanya. Hari ini dia mengumandangkan ijab kabul dengan namaku yang sialnya terdengar merdu ketika di ucapkannya. Seharusnya bukan aku yang duduk dengan jantung berdebar disampingnya. Seharusnya bukan aku yang didandani seperti Putri Raja dan membuat semua tamu undangan memandang takjub setiap kali bertata muka. Laki-laki itu, yang sekarang mungkin boleh ku sebut suamiku. Sebenarnya adalah pacar sahabatku sendiri. Dan dia membenciku setengah mati. Sudah terbayang kan bagaimana nantinya pernikahan ini akan berjalan ? Aku meremas kain kebaya yang membalut tubuhku dengan Indah. Tanganku berkeringat dan jantungku luar biasa berpacu. Ku lihat Nancy, memandangku dengan tatapn benci sekaligus terluka. Ku akui ketegarannya menyaksikan pacarnya menikahi sahabatnya sendiri. Tapi bukan aku yang menginginkan pernikahan ini. Aku memang pernah menyukai Adrian suamiku dahulu, saat kami masih duduk di bangku kuliah. Sebelum dia mengenal Nancy. Tapi untuk bermimpi menjadi temannya saja aku tidak berani. Dia terlalu bersinar dan aku hanya gadis sederhana yang kebetulan mendapat beasiswa di kampus yang sama dengannya. Aku biasa berteman dengan anak-anak biasa yang lebih banyak menghabiskan sebagian waktu luangnya di perpustakaan. Sedangkan Adrian adalah laki-laki populer dimana saat dia berjalan semua perempuan memandangnya takjub. Ada yang menundukan wajahnya malu dan ada yang terang-terangan berteriak mengucapkan kata cinta kearahnya. Semua acara sudah selesai. Para tamu undangan sudah pergi. Adrian menarikku sedikit kasar kedalam mobil yang akan membawa kami ke apartemennya. Dia menolak pemberian rumah dari tante Imel ibunya. Dia bilang kami akan tinggal di apartemen saja. Aku sangat mengerti maksud dari semua itu. Dia pasti ingin membuatku menderita karena sudah berani menerima lamaran yang diajukan ibunya padaku. Aku menerima pernikahan ini bukan tanpa alasan. Adikku sakit jantung, dan dia membutuhkan biaya yang banyak untuk pengobatannya. Kemudian tante Imel datang menawari bantuan dengan syarat aku mau menikahi putranya. Aku sudah menolak pada awalnya, tapi alasan yang diucapkan tante Imel membuatku terpaksa menerimanya. Entah apa penyebab tante Imel sangat tidak menyukai Nancy. Dan Adrian berfikir akulah yang m
Dreame
Bulan madu seperti apakah yang diinginkan sepasang pengantin baru? Jika Alisa boleh berpendapat dia ingin pergi ke Bali. Harapan yang sederhana bukan? Dibandingkan dengan keliling Eropa atau keliling dunia seperti harapan wanita kebanyakan. Dia ingin sebuah ucapan selamat pagi dari laki-laki yang dicintainya ketika dia membuka mata. Dengan senyum manis yang membuatnya memiliki energi penuh untuk melewati harinya. Jalan-jalan di pantai sambil bergandengan tangan ,kemudian duduk di atas pasir putih menikmati matahari tenggelam sambil membicarakan masa depan panjang yang akan mereka jalani. Memikirkan berapa anak yang akan mereka miliki. Mulai memikirkan nama-nama lucu yang akan mereka berikan. Sambil sesekali tertawa karena saling melontarkan lelucon. Sesederhana itu Perfect Honeymoon dimata seorang Alisa Ayudia. Lalu bagaimana dengan Adrian Setyo Aji? Dengan penuh percaya diri dia akan menyebut sebuah kota yang menurutnya sangat romantis. Venice. Dia akan memanjakan mata dengan arsitektur klasik bangunan disana. Sambil bergandengan tangan mesra menikmati pagi, siang, sore bahkan malam hari. Sesekali mereka akan mengurung diri di dalam kamar hotel dan menikmati indahnya pagi dari balik jendela sambil masih berpelukan dalam keadaan tubuh telanjang di dalam selimut yang sama. Lalu seperti apakah Perfect Honeymoon yang diberikan Tuhan pada mereka? Semuanya akan jadi sangat berbeda dari bayangan mereka. Karena makna bahagia yang sesungguhnya baru saja akan mereka pelajari dalam pahitnya penderitaan yang terlebih dahulu diberikan takdir. Selamat menikmati kisah mereka. Jangan lupa siapkan minuman manis sebagai pelengkap rasa pahit dari setiap ujian yang mereka jalani! Sebuah pernikahan tanpa Cinta adalah seperti mimpi buruk bagi siapa saja, tapi tidak ada yang pernah tahu bahwa mimpi buruk bisa menjadi manis bila takdir berpihak padanya. Hari ini dia mengumandangkan ijab kabul dengan namaku yang sialnya terdengar merdu ketika di ucapkannya. Seharusnya bukan aku yang duduk dengan jantung berdebar disampingnya. Seharusnya bukan aku yang didandani seperti Putri Raja dan membuat semua tamu undangan memandang takjub setiap kali bertata muka. Laki-laki itu, yang sekarang mungkin boleh ku sebut suamiku. Sebenarnya adalah pacar sahabatku sendiri. Dan dia membenciku setengah mati. Sudah terbayang kan bagaimana nantinya pernikahan ini akan berjalan ? Aku meremas kain kebaya yang membalut tubuhku dengan Indah. Tanganku berkeringat dan jantungku luar biasa berpacu. Ku lihat Nancy, memandangku dengan tatapn benci sekaligus terluka. Ku akui ketegarannya menyaksikan pacarnya menikahi sahabatnya sendiri. Tapi bukan aku yang menginginkan pernikahan ini. Aku memang pernah menyukai Adrian suamiku dahulu, saat kami masih duduk di bangku kuliah. Sebelum dia mengenal Nancy. Tapi untuk bermimpi menjadi temannya saja aku tidak berani. Dia terlalu bersinar dan aku hanya gadis sederhana yang kebetulan mendapat beasiswa di kampus yang sama dengannya. Aku biasa berteman dengan anak-anak biasa yang lebih banyak menghabiskan sebagian waktu luangnya di perpustakaan. Sedangkan Adrian adalah laki-laki populer dimana saat dia berjalan semua perempuan memandangnya takjub. Ada yang menundukan wajahnya malu dan ada yang terang-terangan berteriak mengucapkan kata cinta kearahnya. Semua acara sudah selesai. Para tamu undangan sudah pergi. Adrian menarikku sedikit kasar kedalam mobil yang akan membawa kami ke apartemennya. Dia menolak pemberian rumah dari tante Imel ibunya. Dia bilang kami akan tinggal di apartemen saja. Aku sangat mengerti maksud dari semua itu. Dia pasti ingin membuatku menderita karena sudah berani menerima lamaran yang diajukan ibunya padaku. Aku menerima pernikahan ini bukan tanpa alasan. Adikku sakit jantung, dan dia membutuhkan biaya yang banyak untuk pengobatannya. Kemudian tante Imel datang menawari bantuan dengan syarat aku mau menikahi putranya. Aku sudah menolak pada awalnya, tapi alasan yang diucapkan tante Imel membuatku terpaksa menerimanya. Entah apa penyebab tante Imel sangat tidak menyukai Nan
Dreame
"Kau harus menikah denganku!" "Tidak! Mengapa aku harus menikah denganmu?" "Tidak ada pilihan lain, jika kamu menolak, aku bisa saja membuatmu berhenti dari kuliahmu dan menuntutmu karena telah mempertaruhkan nyawa orang lain." "Tidak adakah cara lain? Aku masih kuliah, dan aku belum siap untuk menikah." "Tidak ada penolakan! Secepatnya kita akan menikah, jadi bersiap-siaplah." "Hey tunggu! Kau tidak bisa seenaknya memutuskan." Meisya terduduk lesu di lorong rumah sakit. Bagaimana mungkin diumurnya yang masih muda ia harus menikah, ditambah lagi ia harus menikah dengan seorang duda. Entah pernikahan macam apa yang nanti akan dijalaninya. Pernikahan tanpa cinta. "Arghh.., mengapa takdir begitu buruk mempertemukanku dengan lelaki semacam dia?" Sosok itu mematut dirinya di depan meja rias, matanya menatap lesu pada bayangan seorang gadis yang tengah mengenakan baju pengantin berwarna putih dengan make up yang lumayan tebal, untuk menutupi lingkaran hitam yang ada di sekeliling matanya. Gadis dalam bayangan itu tampak terlihat lebih dewasa dari pada biasanya. Rambutnya disanggul rapi dengan penjepit rambut yang sederhana namun tetap terlihat elegan. Kebaya putih panjang yang sedikit mengekspos pundaknya, membalut tubuhnya yang ramping namun berisi dengan sempurna. Tidak ada yang spesial dari baju pengantin yang dipakainya, hanya saja saat Meisya yang mengenakan gaun pengantin itu, gaun tersebut tampak begitu pas dan cantik membalut tubuhnya. Lagi-lagi suara helaan napas terdengar dari mulut gadis tersebut, atau lebih tepatnya seorang wanita setelah ia resmi menikah sebentar lagi. Sedikit pun tidak terpikir di benak Meisya bahwa ia akan menikah semuda ini. Jika saja diizinkan, saat ini ia sangat ingin kabur dan melarikan diri dari acara pernikahan ini. Tapi ia tidak boleh egois dan memikirkan diri sendiri, sementara di luar sana ada seseorang yang dengan begitu berharap menginginkannya menjadi penyemangat hidupnya. Mau tidak mau ia harus tetap menjalankan pernikahan ini, demi kesembuhan anak itu. Ya, harus! Cklek "Oh Meisya.. lihatlah, hari ini kamu sangat cantik sayang. Mama tidak menyangka kamu akan menikah secepat ini." Mama Meisya atau yang biasa dipanggil Reina Holand memeluk Meisya dengan erat, hingga membuat Meisya ikut terhanyut dalam pelukan hangat ibunya yang sangat ia sayangi. "Mama berdoa semoga kamu bahagia bersama suamimu nanti sayang." 'Ya, semoga saja.' Meisya hanya bisa tersenyum paksa di hadapan mamanya, karena yang mamanya tahu Meisya menikah dengan seseorang yang dicintainya. Berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya, Meisya menikah bukan atas dasar cinta, akan tetapi sebuah keharusan yang tidak bisa disangkalnya. Flashback Saat Meisya kembali ke taman, ia melihat seorang anak kecil yang hendak terserempet motor. Meisya yang terkejut segera berlari ke arah anak tersebut dan berniat menolongnya. Tapi naas, saat Meisya berniat menolong anak itu, ternyata motor yang melintas begitu kencang membuat Meisya secara refleks mendorong anak itu ke arah pinggiran trotoar. Untunglah tidak ada hal fatal yang disebabkan dari kecelakaan tadi. Tapi Meisya tidak menyangka bahwa perbuatannya yang berniat menolong anak tersebut malah berujung fatal. Dokter mengatakan sewaktu Meisya mendorong anak tersebut, ternyata bagian pinggang anak tersebut membentur pinggiran trotoar dengan cukup keras. Hingga menyebabkan ginjal di sebelah kiri anak tersebut yang memang pada dasarnya kurang berfungsi secara sempurna harus segera dioperasi secepat mungkin. Jika tidak, maka akan berakibat fatal pada keselamatan anak itu. Meisya hanya menunduk dalam, ia tidak menyangka bahwa niatannya untuk menolong anak itu akan berakibat pada keselamatan anak itu sendiri. 'Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan untuk menolong anak ini?' meskipun baru beberapa minggu yang lalu Meisya mengenal anak manis bernama Mika ini, ia sudah cukup menyayangi anak itu. Meisya sama sekali tidak menyangka bahwa anak sekecil Mika sudah harus menanggung penderitaan seberat ini. Salah satu ginjal gadis manis ini tidak berfungsi dengan sempur
Hanaliana Boutique
Dreame
Sosok itu mematut dirinya di depan meja rias, matanya menatap lesu pada bayangan seorang gadis yang tengah mengenakan baju pengantin berwarna putih dengan make up yang lumayan tebal, untuk menutupi lingkaran hitam yang ada di sekeliling matanya. Gadis dalam bayangan itu tampak terlihat lebih dewasa dari pada biasanya. Rambutnya disanggul rapi dengan penjepit rambut yang sederhana namun tetap terlihat elegan. Kebaya putih panjang yang sedikit mengekspos pundaknya, membalut tubuhnya yang ramping namun berisi dengan sempurna. Tidak ada yang spesial dari baju pengantin yang dipakainya, hanya saja saat Meisya yang mengenakan gaun pengantin itu, gaun tersebut tampak begitu pas dan cantik membalut tubuhnya. Lagi-lagi suara helaan napas terdengar dari mulut gadis tersebut, atau lebih tepatnya seorang wanita setelah ia resmi menikah sebentar lagi. Sedikit pun tidak terpikir di benak Meisya bahwa ia akan menikah semuda ini. Jika saja diizinkan, saat ini ia sangat ingin kabur dan melarikan diri dari acara pernikahan ini. Tapi ia tidak boleh egois dan memikirkan diri sendiri, sementara di luar sana ada seseorang yang dengan begitu berharap menginginkannya menjadi penyemangat hidupnya. Mau tidak mau ia harus tetap menjalankan pernikahan ini, demi kesembuhan anak itu. Ya, harus! Cklek "Oh Meisya.. lihatlah, hari ini kamu sangat cantik sayang. Mama tidak menyangka kamu akan menikah secepat ini." Mama Meisya atau yang biasa dipanggil Reina Holand memeluk Meisya dengan erat, hingga membuat Meisya ikut terhanyut dalam pelukan hangat ibunya yang sangat ia sayangi. "Mama berdoa semoga kamu bahagia bersama suamimu nanti sayang." 'Ya, semoga saja.' Meisya hanya bisa tersenyum paksa di hadapan mamanya, karena yang mamanya tahu Meisya menikah dengan seseorang yang dicintainya. Berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya, Meisya menikah bukan atas dasar cinta, akan tetapi sebuah keharusan yang tidak bisa disangkalnya. Flashback Saat Meisya kembali ke taman, ia melihat seorang anak kecil yang hendak terserempet motor. Meisya yang terkejut segera berlari ke arah anak tersebut dan berniat menolongnya. Tapi naas, saat Meisya berniat menolong anak itu, ternyata motor yang melintas begitu kencang membuat Meisya secara refleks mendorong anak itu ke arah pinggiran trotoar. Untunglah tidak ada hal fatal yang disebabkan dari kecelakaan tadi. Tapi Meisya tidak menyangka bahwa perbuatannya yang berniat menolong anak tersebut malah berujung fatal. Dokter mengatakan sewaktu Meisya mendorong anak tersebut, ternyata bagian pinggang anak tersebut membentur pinggiran trotoar dengan cukup keras. Hingga menyebabkan ginjal di sebelah kiri anak tersebut yang memang pada dasarnya kurang berfungsi secara sempurna harus segera dioperasi secepat mungkin. Jika tidak, maka akan berakibat fatal pada keselamatan anak itu. Meisya hanya menunduk dalam, ia tidak menyangka bahwa niatannya untuk menolong anak itu akan berakibat pada keselamatan anak itu sendiri. 'Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan untuk menolong anak ini?' meskipun baru beberapa minggu yang lalu Meisya mengenal anak manis bernama Mika ini, ia sudah cukup menyayangi anak itu. Meisya sama sekali tidak menyangka bahwa anak sekecil Mika sudah harus menanggung penderitaan seberat ini. Salah satu ginjal gadis manis ini tidak berfungsi dengan sempurna, entah sesakit apa penderitaan yang diderita gadis ini sedari kecil. Ketika Meisya masih sibuk dengan pemikirannya sendiri, tiba-tiba pintu ruang rawat Mika dibuka dengan kuat membuat Meisya seketika mendongak kaget. Tak lama kemudian, tampaklah raut wajah khawatir dari seorang pria dewasa yang Meisya tahu adalah ayah dari Mika. Matanya memancing tajam memandang Meisya yang hanya bisa menunduk mendapati tatapan tajam dari Alando. Meisya tahu Alando atau yang biasa dipanggil Ando pastilah sangat marah pada Meisya, karena Meisya tidak mendengarkan perintah Alando untuk tidak mengajak Mika ke taman, dan berakhir dengan adanya kecelakaan yang mengharuskan Mika untuk segera dioperasi lebih cepat dari jangka waktu yang telah ditentukan. "Kau..." Cek
Dreame
"Kau harus menikah denganku!" "Tidak! Mengapa aku harus menikah denganmu?" "Tidak ada pilihan lain, jika kamu menolak, aku bisa saja membuatmu berhenti dari kuliahmu dan menuntutmu karena telah mempertaruhkan nyawa orang lain." "Tidak adakah cara lain? Aku masih kuliah, dan aku belum siap untuk menikah." "Tidak ada penolakan! Secepatnya kita akan menikah, jadi bersiap-siaplah." "Hey tunggu! Kau tidak bisa seenaknya memutuskan." Meisya terduduk lesu di lorong rumah sakit. Bagaimana mungkin diumurnya yang masih muda ia harus menikah, ditambah lagi ia harus menikah dengan seorang duda. Entah pernikahan macam apa yang nanti akan dijalaninya. Pernikahan tanpa cinta. "Arghh.., mengapa takdir begitu buruk mempertemukanku dengan lelaki semacam dia?" Sosok itu mematut dirinya di depan meja rias, matanya menatap lesu pada bayangan seorang gadis yang tengah mengenakan baju pengantin berwarna putih dengan make up yang lumayan tebal, untuk menutupi lingkaran hitam yang ada di sekeliling matanya. Gadis dalam bayangan itu tampak terlihat lebih dewasa dari pada biasanya. Rambutnya disanggul rapi dengan penjepit rambut yang sederhana namun tetap terlihat elegan. Kebaya putih panjang yang sedikit mengekspos pundaknya, membalut tubuhnya yang ramping namun berisi dengan sempurna. Tidak ada yang spesial dari baju pengantin yang dipakainya, hanya saja saat Meisya yang mengenakan gaun pengantin itu, gaun tersebut tampak begitu pas dan cantik membalut tubuhnya. Lagi-lagi suara helaan napas terdengar dari mulut gadis tersebut, atau lebih tepatnya seorang wanita setelah ia resmi menikah sebentar lagi. Sedikit pun tidak terpikir di benak Meisya bahwa ia akan menikah semuda ini. Jika saja diizinkan, saat ini ia sangat ingin kabur dan melarikan diri dari acara pernikahan ini. Tapi ia tidak boleh egois dan memikirkan diri sendiri, sementara di luar sana ada seseorang yang dengan begitu berharap menginginkannya menjadi penyemangat hidupnya. Mau tidak mau ia harus tetap menjalankan pernikahan ini, demi kesembuhan anak itu. Ya, harus! Cklek "Oh Meisya.. lihatlah, hari ini kamu sangat cantik sayang. Mama tidak menyangka kamu akan menikah secepat ini." Mama Meisya atau yang biasa dipanggil Reina Holand memeluk Meisya dengan erat, hingga membuat Meisya ikut terhanyut dalam pelukan hangat ibunya yang sangat ia sayangi. "Mama berdoa semoga kamu bahagia bersama suamimu nanti sayang." 'Ya, semoga saja.' Meisya hanya bisa tersenyum paksa di hadapan mamanya, karena yang mamanya tahu Meisya menikah dengan seseorang yang dicintainya. Berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya, Meisya menikah bukan atas dasar cinta, akan tetapi sebuah keharusan yang tidak bisa disangkalnya. Flashback Saat Meisya kembali ke taman, ia melihat seorang anak kecil yang hendak terserempet motor. Meisya yang terkejut segera berlari ke arah anak tersebut dan berniat menolongnya. Tapi naas, saat Meisya berniat menolong anak itu, ternyata motor yang melintas begitu kencang membuat Meisya secara refleks mendorong anak itu ke arah pinggiran trotoar. Untunglah tidak ada hal fatal yang disebabkan dari kecelakaan tadi. Tapi Meisya tidak menyangka bahwa perbuatannya yang berniat menolong anak tersebut malah berujung fatal. Dokter mengatakan sewaktu Meisya mendorong anak tersebut, ternyata bagian pinggang anak tersebut membentur pinggiran trotoar dengan cukup keras. Hingga menyebabkan ginjal di sebelah kiri anak tersebut yang memang pada dasarnya kurang berfungsi secara sempurna harus segera dioperasi secepat mungkin. Jika tidak, maka akan berakibat fatal pada keselamatan anak itu. Meisya hanya menunduk dalam, ia tidak menyangka bahwa niatannya untuk menolong anak itu akan berakibat pada keselamatan anak itu sendiri. 'Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan untuk menolong anak ini?' meskipun baru beberapa minggu yang lalu Meisya mengenal anak manis bernama Mika ini, ia sudah cukup menyayangi anak itu. Meisya sama sekali tidak menyangka bahwa anak sekecil Mika sudah harus menanggung penderitaan seberat ini. Salah satu ginjal gadis manis ini tidak berfungsi dengan sempur
Dreame
Bulan madu seperti apakah yang diinginkan sepasang pengantin baru? Jika Alisa boleh berpendapat dia ingin pergi ke Bali. Harapan yang sederhana bukan? Dibandingkan dengan keliling Eropa atau keliling dunia seperti harapan wanita kebanyakan. Dia ingin sebuah ucapan selamat pagi dari laki-laki yang dicintainya ketika dia membuka mata. Dengan senyum manis yang membuatnya memiliki energi penuh untuk melewati harinya. Jalan-jalan di pantai sambil bergandengan tangan ,kemudian duduk di atas pasir putih menikmati matahari tenggelam sambil membicarakan masa depan panjang yang akan mereka jalani. Memikirkan berapa anak yang akan mereka miliki. Mulai memikirkan nama-nama lucu yang akan mereka berikan. Sambil sesekali tertawa karena saling melontarkan lelucon. Sesederhana itu Perfect Honeymoon dimata seorang Alisa Ayudia. Lalu bagaimana dengan Adrian Setyo Aji? Dengan penuh percaya diri dia akan menyebut sebuah kota yang menurutnya sangat romantis. Venice. Dia akan memanjakan mata dengan arsitektur klasik bangunan disana. Sambil bergandengan tangan mesra menikmati pagi, siang, sore bahkan malam hari. Sesekali mereka akan mengurung diri di dalam kamar hotel dan menikmati indahnya pagi dari balik jendela sambil masih berpelukan dalam keadaan tubuh telanjang di dalam selimut yang sama. Lalu seperti apakah Perfect Honeymoon yang diberikan Tuhan pada mereka? Semuanya akan jadi sangat berbeda dari bayangan mereka. Karena makna bahagia yang sesungguhnya baru saja akan mereka pelajari dalam pahitnya penderitaan yang terlebih dahulu diberikan takdir. Selamat menikmati kisah mereka. Jangan lupa siapkan minuman manis sebagai pelengkap rasa pahit dari setiap ujian yang mereka jalani! Sebuah pernikahan tanpa Cinta adalah seperti mimpi buruk bagi siapa saja, tapi tidak ada yang pernah tahu bahwa mimpi buruk bisa menjadi manis bila takdir berpihak padanya. Hari ini dia mengumandangkan ijab kabul dengan namaku yang sialnya terdengar merdu ketika di ucapkannya. Seharusnya bukan aku yang duduk dengan jantung berdebar disampingnya. Seharusnya bukan aku yang didandani seperti Putri Raja dan membuat semua tamu undangan memandang takjub setiap kali bertata muka. Laki-laki itu, yang sekarang mungkin boleh ku sebut suamiku. Sebenarnya adalah pacar sahabatku sendiri. Dan dia membenciku setengah mati. Sudah terbayang kan bagaimana nantinya pernikahan ini akan berjalan ? Aku meremas kain kebaya yang membalut tubuhku dengan Indah. Tanganku berkeringat dan jantungku luar biasa berpacu. Ku lihat Nancy, memandangku dengan tatapn benci sekaligus terluka. Ku akui ketegarannya menyaksikan pacarnya menikahi sahabatnya sendiri. Tapi bukan aku yang menginginkan pernikahan ini. Aku memang pernah menyukai Adrian suamiku dahulu, saat kami masih duduk di bangku kuliah. Sebelum dia mengenal Nancy. Tapi untuk bermimpi menjadi temannya saja aku tidak berani. Dia terlalu bersinar dan aku hanya gadis sederhana yang kebetulan mendapat beasiswa di kampus yang sama dengannya. Aku biasa berteman dengan anak-anak biasa yang lebih banyak menghabiskan sebagian waktu luangnya di perpustakaan. Sedangkan Adrian adalah laki-laki populer dimana saat dia berjalan semua perempuan memandangnya takjub. Ada yang menundukan wajahnya malu dan ada yang terang-terangan berteriak mengucapkan kata cinta kearahnya. Semua acara sudah selesai. Para tamu undangan sudah pergi. Adrian menarikku sedikit kasar kedalam mobil yang akan membawa kami ke apartemennya. Dia menolak pemberian rumah dari tante Imel ibunya. Dia bilang kami akan tinggal di apartemen saja. Aku sangat mengerti maksud dari semua itu. Dia pasti ingin membuatku menderita karena sudah berani menerima lamaran yang diajukan ibunya padaku. Aku menerima pernikahan ini bukan tanpa alasan. Adikku sakit jantung, dan dia membutuhkan biaya yang banyak untuk pengobatannya. Kemudian tante Imel datang menawari bantuan dengan syarat aku mau menikahi putranya. Aku sudah menolak pada awalnya, tapi alasan yang diucapkan tante Imel membuatku terpaksa menerimanya. Entah apa penyebab tante Imel sangat tidak menyukai Nan
Dreame
Sosok itu mematut dirinya di depan meja rias, matanya menatap lesu pada bayangan seorang gadis yang tengah mengenakan baju pengantin berwarna putih dengan make up yang lumayan tebal, untuk menutupi lingkaran hitam yang ada di sekeliling matanya. Gadis dalam bayangan itu tampak terlihat lebih dewasa dari pada biasanya. Rambutnya disanggul rapi dengan penjepit rambut yang sederhana namun tetap terlihat elegan. Kebaya putih panjang yang sedikit mengekspos pundaknya, membalut tubuhnya yang ramping namun berisi dengan sempurna. Tidak ada yang spesial dari baju pengantin yang dipakainya, hanya saja saat Meisya yang mengenakan gaun pengantin itu, gaun tersebut tampak begitu pas dan cantik membalut tubuhnya. Lagi-lagi suara helaan napas terdengar dari mulut gadis tersebut, atau lebih tepatnya seorang wanita setelah ia resmi menikah sebentar lagi. Sedikit pun tidak terpikir di benak Meisya bahwa ia akan menikah semuda ini. Jika saja diizinkan, saat ini ia sangat ingin kabur dan melarikan diri dari acara pernikahan ini. Tapi ia tidak boleh egois dan memikirkan diri sendiri, sementara di luar sana ada seseorang yang dengan begitu berharap menginginkannya menjadi penyemangat hidupnya. Mau tidak mau ia harus tetap menjalankan pernikahan ini, demi kesembuhan anak itu. Ya, harus! Cklek "Oh Meisya.. lihatlah, hari ini kamu sangat cantik sayang. Mama tidak menyangka kamu akan menikah secepat ini." Mama Meisya atau yang biasa dipanggil Reina Holand memeluk Meisya dengan erat, hingga membuat Meisya ikut terhanyut dalam pelukan hangat ibunya yang sangat ia sayangi. "Mama berdoa semoga kamu bahagia bersama suamimu nanti sayang." 'Ya, semoga saja.' Meisya hanya bisa tersenyum paksa di hadapan mamanya, karena yang mamanya tahu Meisya menikah dengan seseorang yang dicintainya. Berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya, Meisya menikah bukan atas dasar cinta, akan tetapi sebuah keharusan yang tidak bisa disangkalnya. Flashback Saat Meisya kembali ke taman, ia melihat seorang anak kecil yang hendak terserempet motor. Meisya yang terkejut segera berlari ke arah anak tersebut dan berniat menolongnya. Tapi naas, saat Meisya berniat menolong anak itu, ternyata motor yang melintas begitu kencang membuat Meisya secara refleks mendorong anak itu ke arah pinggiran trotoar. Untunglah tidak ada hal fatal yang disebabkan dari kecelakaan tadi. Tapi Meisya tidak menyangka bahwa perbuatannya yang berniat menolong anak tersebut malah berujung fatal. Dokter mengatakan sewaktu Meisya mendorong anak tersebut, ternyata bagian pinggang anak tersebut membentur pinggiran trotoar dengan cukup keras. Hingga menyebabkan ginjal di sebelah kiri anak tersebut yang memang pada dasarnya kurang berfungsi secara sempurna harus segera dioperasi secepat mungkin. Jika tidak, maka akan berakibat fatal pada keselamatan anak itu. Meisya hanya menunduk dalam, ia tidak menyangka bahwa niatannya untuk menolong anak itu akan berakibat pada keselamatan anak itu sendiri. 'Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan untuk menolong anak ini?' meskipun baru beberapa minggu yang lalu Meisya mengenal anak manis bernama Mika ini, ia sudah cukup menyayangi anak itu. Meisya sama sekali tidak menyangka bahwa anak sekecil Mika sudah harus menanggung penderitaan seberat ini. Salah satu ginjal gadis manis ini tidak berfungsi dengan sempurna, entah sesakit apa penderitaan yang diderita gadis ini sedari kecil. Ketika Meisya masih sibuk dengan pemikirannya sendiri, tiba-tiba pintu ruang rawat Mika dibuka dengan kuat membuat Meisya seketika mendongak kaget. Tak lama kemudian, tampaklah raut wajah khawatir dari seorang pria dewasa yang Meisya tahu adalah ayah dari Mika. Matanya memancing tajam memandang Meisya yang hanya bisa menunduk mendapati tatapan tajam dari Alando. Meisya tahu Alando atau yang biasa dipanggil Ando pastilah sangat marah pada Meisya, karena Meisya tidak mendengarkan perintah Alando untuk tidak mengajak Mika ke taman, dan berakhir dengan adanya kecelakaan yang mengharuskan Mika untuk segera dioperasi lebih cepat dari jangka waktu yang telah ditentukan. "Kau..." Cek
Hanaliana Boutique
Hanaliana Boutique
Dreame
Bulan madu seperti apakah yang diinginkan sepasang pengantin baru? Jika Alisa boleh berpendapat dia ingin pergi ke Bali. Harapan yang sederhana bukan? Dibandingkan dengan keliling Eropa atau keliling dunia seperti harapan wanita kebanyakan. Dia ingin sebuah ucapan selamat pagi dari laki-laki yang dicintainya ketika dia membuka mata. Dengan senyum manis yang membuatnya memiliki energi penuh untuk melewati harinya. Jalan-jalan di pantai sambil bergandengan tangan ,kemudian duduk di atas pasir putih menikmati matahari tenggelam sambil membicarakan masa depan panjang yang akan mereka jalani. Memikirkan berapa anak yang akan mereka miliki. Mulai memikirkan nama-nama lucu yang akan mereka berikan. Sambil sesekali tertawa karena saling melontarkan lelucon. Sesederhana itu Perfect Honeymoon dimata seorang Alisa Ayudia. Lalu bagaimana dengan Adrian Setyo Aji? Dengan penuh percaya diri dia akan menyebut sebuah kota yang menurutnya sangat romantis. Venice. Dia akan memanjakan mata dengan arsitektur klasik bangunan disana. Sambil bergandengan tangan mesra menikmati pagi, siang, sore bahkan malam hari. Sesekali mereka akan mengurung diri di dalam kamar hotel dan menikmati indahnya pagi dari balik jendela sambil masih berpelukan dalam keadaan tubuh telanjang di dalam selimut yang sama. Lalu seperti apakah Perfect Honeymoon yang diberikan Tuhan pada mereka? Semuanya akan jadi sangat berbeda dari bayangan mereka. Karena makna bahagia yang sesungguhnya baru saja akan mereka pelajari dalam pahitnya penderitaan yang terlebih dahulu diberikan takdir. Selamat menikmati kisah mereka. Jangan lupa siapkan minuman manis sebagai pelengkap rasa pahit dari setiap ujian yang mereka jalani! Sebuah pernikahan tanpa Cinta adalah seperti mimpi buruk bagi siapa saja, tapi tidak ada yang pernah tahu bahwa mimpi buruk bisa menjadi manis bila takdir berpihak padanya. Hari ini dia mengumandangkan ijab kabul dengan namaku yang sialnya terdengar merdu ketika di ucapkannya. Seharusnya bukan aku yang duduk dengan jantung berdebar disampingnya. Seharusnya bukan aku yang didandani seperti Putri Raja dan membuat semua tamu undangan memandang takjub setiap kali bertata muka. Laki-laki itu, yang sekarang mungkin boleh ku sebut suamiku. Sebenarnya adalah pacar sahabatku sendiri. Dan dia membenciku setengah mati. Sudah terbayang kan bagaimana nantinya pernikahan ini akan berjalan ? Aku meremas kain kebaya yang membalut tubuhku dengan Indah. Tanganku berkeringat dan jantungku luar biasa berpacu. Ku lihat Nancy, memandangku dengan tatapn benci sekaligus terluka. Ku akui ketegarannya menyaksikan pacarnya menikahi sahabatnya sendiri. Tapi bukan aku yang menginginkan pernikahan ini. Aku memang pernah menyukai Adrian suamiku dahulu, saat kami masih duduk di bangku kuliah. Sebelum dia mengenal Nancy. Tapi untuk bermimpi menjadi temannya saja aku tidak berani. Dia terlalu bersinar dan aku hanya gadis sederhana yang kebetulan mendapat beasiswa di kampus yang sama dengannya. Aku biasa berteman dengan anak-anak biasa yang lebih banyak menghabiskan sebagian waktu luangnya di perpustakaan. Sedangkan Adrian adalah laki-laki populer dimana saat dia berjalan semua perempuan memandangnya takjub. Ada yang menundukan wajahnya malu dan ada yang terang-terangan berteriak mengucapkan kata cinta kearahnya. Semua acara sudah selesai. Para tamu undangan sudah pergi. Adrian menarikku sedikit kasar kedalam mobil yang akan membawa kami ke apartemennya. Dia menolak pemberian rumah dari tante Imel ibunya. Dia bilang kami akan tinggal di apartemen saja. Aku sangat mengerti maksud dari semua itu. Dia pasti ingin membuatku menderita karena sudah berani menerima lamaran yang diajukan ibunya padaku. Aku menerima pernikahan ini bukan tanpa alasan. Adikku sakit jantung, dan dia membutuhkan biaya yang banyak untuk pengobatannya. Kemudian tante Imel datang menawari bantuan dengan syarat aku mau menikahi putranya. Aku sudah menolak pada awalnya, tapi alasan yang diucapkan tante Imel membuatku terpaksa menerimanya. Entah apa penyebab tante Imel sangat tidak menyukai Nan
Innovel
Bulan madu seperti apakah yang diinginkan sepasang pengantin baru? Jika Alisa boleh berpendapat dia ingin pergi ke Bali. Harapan yang sederhana bukan? Dibandingkan dengan keliling Eropa atau keliling dunia seperti harapan wanita kebanyakan. Dia ingin sebuah ucapan selamat pagi dari laki-laki yang dicintainya ketika dia membuka mata. Dengan senyum manis yang membuatnya memiliki energi penuh untuk melewati harinya. Jalan-jalan di pantai sambil bergandengan tangan ,kemudian duduk di atas pasir putih menikmati matahari tenggelam sambil membicarakan masa depan panjang yang akan mereka jalani. Memikirkan berapa anak yang akan mereka miliki. Mulai memikirkan nama-nama lucu yang akan mereka berikan. Sambil sesekali tertawa karena saling melontarkan lelucon. Sesederhana itu Perfect Honeymoon dimata seorang Alisa Ayudia. Lalu bagaimana dengan Adrian Setyo Aji? Dengan penuh percaya diri dia akan menyebut sebuah kota yang menurutnya sangat romantis. Venice. Dia akan memanjakan mata dengan arsitektur klasik bangunan disana. Sambil bergandengan tangan mesra menikmati pagi, siang, sore bahkan malam hari. Sesekali mereka akan mengurung diri di dalam kamar hotel dan menikmati indahnya pagi dari balik jendela sambil masih berpelukan dalam keadaan tubuh telanjang di dalam selimut yang sama. Lalu seperti apakah Perfect Honeymoon yang diberikan Tuhan pada mereka? Semuanya akan jadi sangat berbeda dari bayangan mereka. Karena makna bahagia yang sesungguhnya baru saja akan mereka pelajari dalam pahitnya penderitaan yang terlebih dahulu diberikan takdir. Selamat menikmati kisah mereka. Jangan lupa siapkan minuman manis sebagai pelengkap rasa pahit dari setiap ujian yang mereka jalani! Sebuah pernikahan tanpa Cinta adalah seperti mimpi buruk bagi siapa saja, tapi tidak ada yang pernah tahu bahwa mimpi buruk bisa menjadi manis bila takdir berpihak padanya. Hari ini dia mengumandangkan ijab kabul dengan namaku yang sialnya terdengar merdu ketika di ucapkannya. Seharusnya bukan aku yang duduk dengan jantung berdebar disampingnya. Seharusnya bukan aku yang didandani seperti Putri Raja dan membuat semua tamu undangan memandang takjub setiap kali bertata muka. Laki-laki itu, yang sekarang mungkin boleh ku sebut suamiku. Sebenarnya adalah pacar sahabatku sendiri. Dan dia membenciku setengah mati. Sudah terbayang kan bagaimana nantinya pernikahan ini akan berjalan ? Aku meremas kain kebaya yang membalut tubuhku dengan Indah. Tanganku berkeringat dan jantungku luar biasa berpacu. Ku lihat Nancy, memandangku dengan tatapn benci sekaligus terluka. Ku akui ketegarannya menyaksikan pacarnya menikahi sahabatnya sendiri. Tapi bukan aku yang menginginkan pernikahan ini. Aku memang pernah menyukai Adrian suamiku dahulu, saat kami masih duduk di bangku kuliah. Sebelum dia mengenal Nancy. Tapi untuk bermimpi menjadi temannya saja aku tidak berani. Dia terlalu bersinar dan aku hanya gadis sederhana yang kebetulan mendapat beasiswa di kampus yang sama dengannya. Aku biasa berteman dengan anak-anak biasa yang lebih banyak menghabiskan sebagian waktu luangnya di perpustakaan. Sedangkan Adrian adalah laki-laki populer dimana saat dia berjalan semua perempuan memandangnya takjub. Ada yang menundukan wajahnya malu dan ada yang terang-terangan berteriak mengucapkan kata cinta kearahnya. Semua acara sudah selesai. Para tamu undangan sudah pergi. Adrian menarikku sedikit kasar kedalam mobil yang akan membawa kami ke apartemennya. Dia menolak pemberian rumah dari tante Imel ibunya. Dia bilang kami akan tinggal di apartemen saja. Aku sangat mengerti maksud dari semua itu. Dia pasti ingin membuatku menderita karena sudah berani menerima lamaran yang diajukan ibunya padaku. Aku menerima pernikahan ini bukan tanpa alasan. Adikku sakit jantung, dan dia membutuhkan biaya yang banyak untuk pengobatannya. Kemudian tante Imel datang menawari bantuan dengan syarat aku mau menikahi putranya. Aku sudah menolak pada awalnya, tapi alasan yang diucapkan tante Imel membuatku terpaksa menerimanya. Entah apa penyebab tante Imel sangat tidak menyukai Nancy. Dan Adrian berfikir akulah yang memp
Dreame - Read Best Romance
Bulan madu seperti apakah yang diinginkan sepasang pengantin baru? Jika Alisa boleh berpendapat dia ingin pergi ke Bali. Harapan yang sederhana bukan? Dibandingkan dengan keliling Eropa atau keliling dunia seperti harapan wanita kebanyakan. Dia ingin sebuah ucapan selamat pagi dari laki-laki yang dicintainya ketika dia membuka mata. Dengan senyum manis yang membuatnya memiliki energi penuh untuk melewati harinya. Jalan-jalan di pantai sambil bergandengan tangan ,kemudian duduk di atas pasir putih menikmati matahari tenggelam sambil membicarakan masa depan panjang yang akan mereka jalani. Memikirkan berapa anak yang akan mereka miliki. Mulai memikirkan nama-nama lucu yang akan mereka berikan. Sambil sesekali tertawa karena saling melontarkan lelucon. Sesederhana itu Perfect Honeymoon dimata seorang Alisa Ayudia. Lalu bagaimana dengan Adrian Setyo Aji? Dengan penuh percaya diri dia akan menyebut sebuah kota yang menurutnya sangat romantis. Venice. Dia akan memanjakan mata dengan arsitektur klasik bangunan disana. Sambil bergandengan tangan mesra menikmati pagi, siang, sore bahkan malam hari. Sesekali mereka akan mengurung diri di dalam kamar hotel dan menikmati indahnya pagi dari balik jendela sambil masih berpelukan dalam keadaan tubuh telanjang di dalam selimut yang sama. Lalu seperti apakah Perfect Honeymoon yang diberikan Tuhan pada mereka? Semuanya akan jadi sangat berbeda dari bayangan mereka. Karena makna bahagia yang sesungguhnya baru saja akan mereka pelajari dalam pahitnya penderitaan yang terlebih dahulu diberikan takdir. Selamat menikmati kisah mereka. Jangan lupa siapkan minuman manis sebagai pelengkap rasa pahit dari setiap ujian yang mereka jalani! Sebuah pernikahan tanpa Cinta adalah seperti mimpi buruk bagi siapa saja, tapi tidak ada yang pernah tahu bahwa mimpi buruk bisa menjadi manis bila takdir berpihak padanya. Hari ini dia mengumandangkan ijab kabul dengan namaku yang sialnya terdengar merdu ketika di ucapkannya. Seharusnya bukan aku yang duduk dengan jantung berdebar disampingnya. Seharusnya bukan aku yang didandani seperti Putri Raja dan membuat semua tamu undangan memandang takjub setiap kali bertata muka. Laki-laki itu, yang sekarang mungkin boleh ku sebut suamiku. Sebenarnya adalah pacar sahabatku sendiri. Dan dia membenciku setengah mati. Sudah terbayang kan bagaimana nantinya pernikahan ini akan berjalan ? Aku meremas kain kebaya yang membalut tubuhku dengan Indah. Tanganku berkeringat dan jantungku luar biasa berpacu. Ku lihat Nancy, memandangku dengan tatapn benci sekaligus terluka. Ku akui ketegarannya menyaksikan pacarnya menikahi sahabatnya sendiri. Tapi bukan aku yang menginginkan pernikahan ini. Aku memang pernah menyukai Adrian suamiku dahulu, saat kami masih duduk di bangku kuliah. Sebelum dia mengenal Nancy. Tapi untuk bermimpi menjadi temannya saja aku tidak berani. Dia terlalu bersinar dan aku hanya gadis sederhana yang kebetulan mendapat beasiswa di kampus yang sama dengannya. Aku biasa berteman dengan anak-anak biasa yang lebih banyak menghabiskan sebagian waktu luangnya di perpustakaan. Sedangkan Adrian adalah laki-laki populer dimana saat dia berjalan semua perempuan memandangnya takjub. Ada yang menundukan wajahnya malu dan ada yang terang-terangan berteriak mengucapkan kata cinta kearahnya. Semua acara sudah selesai. Para tamu undangan sudah pergi. Adrian menarikku sedikit kasar kedalam mobil yang akan membawa kami ke apartemennya. Dia menolak pemberian rumah dari tante Imel ibunya. Dia bilang kami akan tinggal di apartemen saja. Aku sangat mengerti maksud dari semua itu. Dia pasti ingin membuatku menderita karena sudah berani menerima lamaran yang diajukan ibunya padaku. Aku menerima pernikahan ini bukan tanpa alasan. Adikku sakit jantung, dan dia membutuhkan biaya yang banyak untuk pengobatannya. Kemudian tante Imel datang menawari bantuan dengan syarat aku mau menikahi putranya. Aku sudah menolak pada awalnya, tapi alasan yang diucapkan tante Imel membuatku terpaksa menerimanya. Entah apa penyebab tante Imel sangat tidak menyukai Nan
Innovel
"Kau harus menikah denganku!" "Tidak! Mengapa aku harus menikah denganmu?" "Tidak ada pilihan lain, jika kamu menolak, aku bisa saja membuatmu berhenti dari kuliahmu dan menuntutmu karena telah mempertaruhkan nyawa orang lain." "Tidak adakah cara lain? Aku masih kuliah, dan aku belum siap untuk menikah." "Tidak ada penolakan! Secepatnya kita akan menikah, jadi bersiap-siaplah." "Hey tunggu! Kau tidak bisa seenaknya memutuskan." Meisya terduduk lesu di lorong rumah sakit. Bagaimana mungkin diumurnya yang masih muda ia harus menikah, ditambah lagi ia harus menikah dengan seorang duda. Entah pernikahan macam apa yang nanti akan dijalaninya. Pernikahan tanpa cinta. "Arghh.., mengapa takdir begitu buruk mempertemukanku dengan lelaki semacam dia?" Sosok itu mematut dirinya di depan meja rias, matanya menatap lesu pada bayangan seorang gadis yang tengah mengenakan baju pengantin berwarna putih dengan make up yang lumayan tebal, untuk menutupi lingkaran hitam yang ada di sekeliling matanya. Gadis dalam bayangan itu tampak terlihat lebih dewasa dari pada biasanya. Rambutnya disanggul rapi dengan penjepit rambut yang sederhana namun tetap terlihat elegan. Kebaya putih panjang yang sedikit mengekspos pundaknya, membalut tubuhnya yang ramping namun berisi dengan sempurna. Tidak ada yang spesial dari baju pengantin yang dipakainya, hanya saja saat Meisya yang mengenakan gaun pengantin itu, gaun tersebut tampak begitu pas dan cantik membalut tubuhnya. Lagi-lagi suara helaan napas terdengar dari mulut gadis tersebut, atau lebih tepatnya seorang wanita setelah ia resmi menikah sebentar lagi. Sedikit pun tidak terpikir di benak Meisya bahwa ia akan menikah semuda ini. Jika saja diizinkan, saat ini ia sangat ingin kabur dan melarikan diri dari acara pernikahan ini. Tapi ia tidak boleh egois dan memikirkan diri sendiri, sementara di luar sana ada seseorang yang dengan begitu berharap menginginkannya menjadi penyemangat hidupnya. Mau tidak mau ia harus tetap menjalankan pernikahan ini, demi kesembuhan anak itu. Ya, harus! Cklek "Oh Meisya.. lihatlah, hari ini kamu sangat cantik sayang. Mama tidak menyangka kamu akan menikah secepat ini." Mama Meisya atau yang biasa dipanggil Reina Holand memeluk Meisya dengan erat, hingga membuat Meisya ikut terhanyut dalam pelukan hangat ibunya yang sangat ia sayangi. "Mama berdoa semoga kamu bahagia bersama suamimu nanti sayang." 'Ya, semoga saja.' Meisya hanya bisa tersenyum paksa di hadapan mamanya, karena yang mamanya tahu Meisya menikah dengan seseorang yang dicintainya. Berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya, Meisya menikah bukan atas dasar cinta, akan tetapi sebuah keharusan yang tidak bisa disangkalnya. Flashback Saat Meisya kembali ke taman, ia melihat seorang anak kecil yang hendak terserempet motor. Meisya yang terkejut segera berlari ke arah anak tersebut dan berniat menolongnya. Tapi naas, saat Meisya berniat menolong anak itu, ternyata motor yang melintas begitu kencang membuat Meisya secara refleks mendorong anak itu ke arah pinggiran trotoar. Untunglah tidak ada hal fatal yang disebabkan dari kecelakaan tadi. Tapi Meisya tidak menyangka bahwa perbuatannya yang berniat menolong anak tersebut malah berujung fatal. Dokter mengatakan sewaktu Meisya mendorong anak tersebut, ternyata bagian pinggang anak tersebut membentur pinggiran trotoar dengan cukup keras. Hingga menyebabkan ginjal di sebelah kiri anak tersebut yang memang pada dasarnya kurang berfungsi secara sempurna harus segera dioperasi secepat mungkin. Jika tidak, maka akan berakibat fatal pada keselamatan anak itu. Meisya hanya menunduk dalam, ia tidak menyangka bahwa niatannya untuk menolong anak itu akan berakibat pada keselamatan anak itu sendiri. 'Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan untuk menolong anak ini?' meskipun baru beberapa minggu yang lalu Meisya mengenal anak manis bernama Mika ini, ia sudah cukup menyayangi anak itu. Meisya sama sekali tidak menyangka bahwa anak sekecil Mika sudah harus menanggung penderitaan seberat ini. Salah satu ginjal gadis manis ini tidak berfungsi dengan sempur
Innovel
"Kau harus menikah denganku!" "Tidak! Mengapa aku harus menikah denganmu?" "Tidak ada pilihan lain, jika kamu menolak, aku bisa saja membuatmu berhenti dari kuliahmu dan menuntutmu karena telah mempertaruhkan nyawa orang lain." "Tidak adakah cara lain? Aku masih kuliah, dan aku belum siap untuk menikah." "Tidak ada penolakan! Secepatnya kita akan menikah, jadi bersiap-siaplah." "Hey tunggu! Kau tidak bisa seenaknya memutuskan." Meisya terduduk lesu di lorong rumah sakit. Bagaimana mungkin diumurnya yang masih muda ia harus menikah, ditambah lagi ia harus menikah dengan seorang duda. Entah pernikahan macam apa yang nanti akan dijalaninya. Pernikahan tanpa cinta. "Arghh.., mengapa takdir begitu buruk mempertemukanku dengan lelaki semacam dia?" Sosok itu mematut dirinya di depan meja rias, matanya menatap lesu pada bayangan seorang gadis yang tengah mengenakan baju pengantin berwarna putih dengan make up yang lumayan tebal, untuk menutupi lingkaran hitam yang ada di sekeliling matanya. Gadis dalam bayangan itu tampak terlihat lebih dewasa dari pada biasanya. Rambutnya disanggul rapi dengan penjepit rambut yang sederhana namun tetap terlihat elegan. Kebaya putih panjang yang sedikit mengekspos pundaknya, membalut tubuhnya yang ramping namun berisi dengan sempurna. Tidak ada yang spesial dari baju pengantin yang dipakainya, hanya saja saat Meisya yang mengenakan gaun pengantin itu, gaun tersebut tampak begitu pas dan cantik membalut tubuhnya. Lagi-lagi suara helaan napas terdengar dari mulut gadis tersebut, atau lebih tepatnya seorang wanita setelah ia resmi menikah sebentar lagi. Sedikit pun tidak terpikir di benak Meisya bahwa ia akan menikah semuda ini. Jika saja diizinkan, saat ini ia sangat ingin kabur dan melarikan diri dari acara pernikahan ini. Tapi ia tidak boleh egois dan memikirkan diri sendiri, sementara di luar sana ada seseorang yang dengan begitu berharap menginginkannya menjadi penyemangat hidupnya. Mau tidak mau ia harus tetap menjalankan pernikahan ini, demi kesembuhan anak itu. Ya, harus! Cklek "Oh Meisya.. lihatlah, hari ini kamu sangat cantik sayang. Mama tidak menyangka kamu akan menikah secepat ini." Mama Meisya atau yang biasa dipanggil Reina Holand memeluk Meisya dengan erat, hingga membuat Meisya ikut terhanyut dalam pelukan hangat ibunya yang sangat ia sayangi. "Mama berdoa semoga kamu bahagia bersama suamimu nanti sayang." 'Ya, semoga saja.' Meisya hanya bisa tersenyum paksa di hadapan mamanya, karena yang mamanya tahu Meisya menikah dengan seseorang yang dicintainya. Berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya, Meisya menikah bukan atas dasar cinta, akan tetapi sebuah keharusan yang tidak bisa disangkalnya. Flashback Saat Meisya kembali ke taman, ia melihat seorang anak kecil yang hendak terserempet motor. Meisya yang terkejut segera berlari ke arah anak tersebut dan berniat menolongnya. Tapi naas, saat Meisya berniat menolong anak itu, ternyata motor yang melintas begitu kencang membuat Meisya secara refleks mendorong anak itu ke arah pinggiran trotoar. Untunglah tidak ada hal fatal yang disebabkan dari kecelakaan tadi. Tapi Meisya tidak menyangka bahwa perbuatannya yang berniat menolong anak tersebut malah berujung fatal. Dokter mengatakan sewaktu Meisya mendorong anak tersebut, ternyata bagian pinggang anak tersebut membentur pinggiran trotoar dengan cukup keras. Hingga menyebabkan ginjal di sebelah kiri anak tersebut yang memang pada dasarnya kurang berfungsi secara sempurna harus segera dioperasi secepat mungkin. Jika tidak, maka akan berakibat fatal pada keselamatan anak itu. Meisya hanya menunduk dalam, ia tidak menyangka bahwa niatannya untuk menolong anak itu akan berakibat pada keselamatan anak itu sendiri. 'Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan untuk menolong anak ini?' meskipun baru beberapa minggu yang lalu Meisya mengenal anak manis bernama Mika ini, ia sudah cukup menyayangi anak itu. Meisya sama sekali tidak menyangka bahwa anak sekecil Mika sudah harus menanggung penderitaan seberat ini. Salah satu ginjal gadis manis ini tidak berfungsi dengan sempurn
Hanaliana Boutique
Hanaliana Boutique
Innovel
"Kau harus menikah denganku!" "Tidak! Mengapa aku harus menikah denganmu?" "Tidak ada pilihan lain, jika kamu menolak, aku bisa saja membuatmu berhenti dari kuliahmu dan menuntutmu karena telah mempertaruhkan nyawa orang lain." "Tidak adakah cara lain? Aku masih kuliah, dan aku belum siap untuk menikah." "Tidak ada penolakan! Secepatnya kita akan menikah, jadi bersiap-siaplah." "Hey tunggu! Kau tidak bisa seenaknya memutuskan." Meisya terduduk lesu di lorong rumah sakit. Bagaimana mungkin diumurnya yang masih muda ia harus menikah, ditambah lagi ia harus menikah dengan seorang duda. Entah pernikahan macam apa yang nanti akan dijalaninya. Pernikahan tanpa cinta. "Arghh.., mengapa takdir begitu buruk mempertemukanku dengan lelaki semacam dia?" Sosok itu mematut dirinya di depan meja rias, matanya menatap lesu pada bayangan seorang gadis yang tengah mengenakan baju pengantin berwarna putih dengan make up yang lumayan tebal, untuk menutupi lingkaran hitam yang ada di sekeliling matanya. Gadis dalam bayangan itu tampak terlihat lebih dewasa dari pada biasanya. Rambutnya disanggul rapi dengan penjepit rambut yang sederhana namun tetap terlihat elegan. Kebaya putih panjang yang sedikit mengekspos pundaknya, membalut tubuhnya yang ramping namun berisi dengan sempurna. Tidak ada yang spesial dari baju pengantin yang dipakainya, hanya saja saat Meisya yang mengenakan gaun pengantin itu, gaun tersebut tampak begitu pas dan cantik membalut tubuhnya. Lagi-lagi suara helaan napas terdengar dari mulut gadis tersebut, atau lebih tepatnya seorang wanita setelah ia resmi menikah sebentar lagi. Sedikit pun tidak terpikir di benak Meisya bahwa ia akan menikah semuda ini. Jika saja diizinkan, saat ini ia sangat ingin kabur dan melarikan diri dari acara pernikahan ini. Tapi ia tidak boleh egois dan memikirkan diri sendiri, sementara di luar sana ada seseorang yang dengan begitu berharap menginginkannya menjadi penyemangat hidupnya. Mau tidak mau ia harus tetap menjalankan pernikahan ini, demi kesembuhan anak itu. Ya, harus! Cklek "Oh Meisya.. lihatlah, hari ini kamu sangat cantik sayang. Mama tidak menyangka kamu akan menikah secepat ini." Mama Meisya atau yang biasa dipanggil Reina Holand memeluk Meisya dengan erat, hingga membuat Meisya ikut terhanyut dalam pelukan hangat ibunya yang sangat ia sayangi. "Mama berdoa semoga kamu bahagia bersama suamimu nanti sayang." 'Ya, semoga saja.' Meisya hanya bisa tersenyum paksa di hadapan mamanya, karena yang mamanya tahu Meisya menikah dengan seseorang yang dicintainya. Berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya, Meisya menikah bukan atas dasar cinta, akan tetapi sebuah keharusan yang tidak bisa disangkalnya. Flashback Saat Meisya kembali ke taman, ia melihat seorang anak kecil yang hendak terserempet motor. Meisya yang terkejut segera berlari ke arah anak tersebut dan berniat menolongnya. Tapi naas, saat Meisya berniat menolong anak itu, ternyata motor yang melintas begitu kencang membuat Meisya secara refleks mendorong anak itu ke arah pinggiran trotoar. Untunglah tidak ada hal fatal yang disebabkan dari kecelakaan tadi. Tapi Meisya tidak menyangka bahwa perbuatannya yang berniat menolong anak tersebut malah berujung fatal. Dokter mengatakan sewaktu Meisya mendorong anak tersebut, ternyata bagian pinggang anak tersebut membentur pinggiran trotoar dengan cukup keras. Hingga menyebabkan ginjal di sebelah kiri anak tersebut yang memang pada dasarnya kurang berfungsi secara sempurna harus segera dioperasi secepat mungkin. Jika tidak, maka akan berakibat fatal pada keselamatan anak itu. Meisya hanya menunduk dalam, ia tidak menyangka bahwa niatannya untuk menolong anak itu akan berakibat pada keselamatan anak itu sendiri. 'Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan untuk menolong anak ini?' meskipun baru beberapa minggu yang lalu Meisya mengenal anak manis bernama Mika ini, ia sudah cukup menyayangi anak itu. Meisya sama sekali tidak menyangka bahwa anak sekecil Mika sudah harus menanggung penderitaan seberat ini. Salah satu ginjal gadis manis ini t
Dreame
Bulan madu seperti apakah yang diinginkan sepasang pengantin baru? Jika Alisa boleh berpendapat dia ingin pergi ke Bali. Harapan yang sederhana bukan? Dibandingkan dengan keliling Eropa atau keliling dunia seperti harapan wanita kebanyakan. Dia ingin sebuah ucapan selamat pagi dari laki-laki yang dicintainya ketika dia membuka mata. Dengan senyum manis yang membuatnya memiliki energi penuh untuk melewati harinya. Jalan-jalan di pantai sambil bergandengan tangan ,kemudian duduk di atas pasir putih menikmati matahari tenggelam sambil membicarakan masa depan panjang yang akan mereka jalani. Memikirkan berapa anak yang akan mereka miliki. Mulai memikirkan nama-nama lucu yang akan mereka berikan. Sambil sesekali tertawa karena saling melontarkan lelucon. Sesederhana itu Perfect Honeymoon dimata seorang Alisa Ayudia. Lalu bagaimana dengan Adrian Setyo Aji? Dengan penuh percaya diri dia akan menyebut sebuah kota yang menurutnya sangat romantis. Venice. Dia akan memanjakan mata dengan arsitektur klasik bangunan disana. Sambil bergandengan tangan mesra menikmati pagi, siang, sore bahkan malam hari. Sesekali mereka akan mengurung diri di dalam kamar hotel dan menikmati indahnya pagi dari balik jendela sambil masih berpelukan dalam keadaan tubuh telanjang di dalam selimut yang sama. Lalu seperti apakah Perfect Honeymoon yang diberikan Tuhan pada mereka? Semuanya akan jadi sangat berbeda dari bayangan mereka. Karena makna bahagia yang sesungguhnya baru saja akan mereka pelajari dalam pahitnya penderitaan yang terlebih dahulu diberikan takdir. Selamat menikmati kisah mereka. Jangan lupa siapkan minuman manis sebagai pelengkap rasa pahit dari setiap ujian yang mereka jalani! Sebuah pernikahan tanpa Cinta adalah seperti mimpi buruk bagi siapa saja, tapi tidak ada yang pernah tahu bahwa mimpi buruk bisa menjadi manis bila takdir berpihak padanya. Hari ini dia mengumandangkan ijab kabul dengan namaku yang sialnya terdengar merdu ketika di ucapkannya. Seharusnya bukan aku yang duduk dengan jantung berdebar disampingnya. Seharusnya bukan aku yang didandani seperti Putri Raja dan membuat semua tamu undangan memandang takjub setiap kali bertata muka. Laki-laki itu, yang sekarang mungkin boleh ku sebut suamiku. Sebenarnya adalah pacar sahabatku sendiri. Dan dia membenciku setengah mati. Sudah terbayang kan bagaimana nantinya pernikahan ini akan berjalan ? Aku meremas kain kebaya yang membalut tubuhku dengan Indah. Tanganku berkeringat dan jantungku luar biasa berpacu. Ku lihat Nancy, memandangku dengan tatapn benci sekaligus terluka. Ku akui ketegarannya menyaksikan pacarnya menikahi sahabatnya sendiri. Tapi bukan aku yang menginginkan pernikahan ini. Aku memang pernah menyukai Adrian suamiku dahulu, saat kami masih duduk di bangku kuliah. Sebelum dia mengenal Nancy. Tapi untuk bermimpi menjadi temannya saja aku tidak berani. Dia terlalu bersinar dan aku hanya gadis sederhana yang kebetulan mendapat beasiswa di kampus yang sama dengannya. Aku biasa berteman dengan anak-anak biasa yang lebih banyak menghabiskan sebagian waktu luangnya di perpustakaan. Sedangkan Adrian adalah laki-laki populer dimana saat dia berjalan semua perempuan memandangnya takjub. Ada yang menundukan wajahnya malu dan ada yang terang-terangan berteriak mengucapkan kata cinta kearahnya. Semua acara sudah selesai. Para tamu undangan sudah pergi. Adrian menarikku sedikit kasar kedalam mobil yang akan membawa kami ke apartemennya. Dia menolak pemberian rumah dari tante Imel ibunya. Dia bilang kami akan tinggal di apartemen saja. Aku sangat mengerti maksud dari semua itu. Dia pasti ingin membuatku menderita karena sudah berani menerima lamaran yang diajukan ibunya padaku. Aku menerima pernikahan ini bukan tanpa alasan. Adikku sakit jantung, dan dia membutuhkan biaya yang banyak untuk pengobatannya. Kemudian tante Imel datang menawari bantuan dengan syarat aku mau menikahi putranya. Aku sudah menolak pada awalnya, tapi alasan yang diucapkan tante Imel membuatku terpaksa menerimanya. Entah apa penyebab tante Imel sangat tidak menyukai Nan
Innovel
"Kau harus menikah denganku!" "Tidak! Mengapa aku harus menikah denganmu?" "Tidak ada pilihan lain, jika kamu menolak, aku bisa saja membuatmu berhenti dari kuliahmu dan menuntutmu karena telah mempertaruhkan nyawa orang lain." "Tidak adakah cara lain? Aku masih kuliah, dan aku belum siap untuk menikah." "Tidak ada penolakan! Secepatnya kita akan menikah, jadi bersiap-siaplah." "Hey tunggu! Kau tidak bisa seenaknya memutuskan." Meisya terduduk lesu di lorong rumah sakit. Bagaimana mungkin diumurnya yang masih muda ia harus menikah, ditambah lagi ia harus menikah dengan seorang duda. Entah pernikahan macam apa yang nanti akan dijalaninya. Pernikahan tanpa cinta. "Arghh.., mengapa takdir begitu buruk mempertemukanku dengan lelaki semacam dia?" Sosok itu mematut dirinya di depan meja rias, matanya menatap lesu pada bayangan seorang gadis yang tengah mengenakan baju pengantin berwarna putih dengan make up yang lumayan tebal, untuk menutupi lingkaran hitam yang ada di sekeliling matanya. Gadis dalam bayangan itu tampak terlihat lebih dewasa dari pada biasanya. Rambutnya disanggul rapi dengan penjepit rambut yang sederhana namun tetap terlihat elegan. Kebaya putih panjang yang sedikit mengekspos pundaknya, membalut tubuhnya yang ramping namun berisi dengan sempurna. Tidak ada yang spesial dari baju pengantin yang dipakainya, hanya saja saat Meisya yang mengenakan gaun pengantin itu, gaun tersebut tampak begitu pas dan cantik membalut tubuhnya. Lagi-lagi suara helaan napas terdengar dari mulut gadis tersebut, atau lebih tepatnya seorang wanita setelah ia resmi menikah sebentar lagi. Sedikit pun tidak terpikir di benak Meisya bahwa ia akan menikah semuda ini. Jika saja diizinkan, saat ini ia sangat ingin kabur dan melarikan diri dari acara pernikahan ini. Tapi ia tidak boleh egois dan memikirkan diri sendiri, sementara di luar sana ada seseorang yang dengan begitu berharap menginginkannya menjadi penyemangat hidupnya. Mau tidak mau ia harus tetap menjalankan pernikahan ini, demi kesembuhan anak itu. Ya, harus! Cklek "Oh Meisya.. lihatlah, hari ini kamu sangat cantik sayang. Mama tidak menyangka kamu akan menikah secepat ini." Mama Meisya atau yang biasa dipanggil Reina Holand memeluk Meisya dengan erat, hingga membuat Meisya ikut terhanyut dalam pelukan hangat ibunya yang sangat ia sayangi. "Mama berdoa semoga kamu bahagia bersama suamimu nanti sayang." 'Ya, semoga saja.' Meisya hanya bisa tersenyum paksa di hadapan mamanya, karena yang mamanya tahu Meisya menikah dengan seseorang yang dicintainya. Berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya, Meisya menikah bukan atas dasar cinta, akan tetapi sebuah keharusan yang tidak bisa disangkalnya. Flashback Saat Meisya kembali ke taman, ia melihat seorang anak kecil yang hendak terserempet motor. Meisya yang terkejut segera berlari ke arah anak tersebut dan berniat menolongnya. Tapi naas, saat Meisya berniat menolong anak itu, ternyata motor yang melintas begitu kencang membuat Meisya secara refleks mendorong anak itu ke arah pinggiran trotoar. Untunglah tidak ada hal fatal yang disebabkan dari kecelakaan tadi. Tapi Meisya tidak menyangka bahwa perbuatannya yang berniat menolong anak tersebut malah berujung fatal. Dokter mengatakan sewaktu Meisya mendorong anak tersebut, ternyata bagian pinggang anak tersebut membentur pinggiran trotoar dengan cukup keras. Hingga menyebabkan ginjal di sebelah kiri anak tersebut yang memang pada dasarnya kurang berfungsi secara sempurna harus segera dioperasi secepat mungkin. Jika tidak, maka akan berakibat fatal pada keselamatan anak itu. Meisya hanya menunduk dalam, ia tidak menyangka bahwa niatannya untuk menolong anak itu akan berakibat pada keselamatan anak itu sendiri. 'Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan untuk menolong anak ini?' meskipun baru beberapa minggu yang lalu Meisya mengenal anak manis bernama Mika ini, ia sudah cukup menyayangi anak itu. Meisya sama sekali tidak menyangka bahwa anak sekecil Mika sudah harus menanggung penderitaan seberat ini. Salah satu ginjal gadis manis ini tidak berfungsi dengan sempur
Dreame
Bulan madu seperti apakah yang diinginkan sepasang pengantin baru? Jika Alisa boleh berpendapat dia ingin pergi ke Bali. Harapan yang sederhana bukan? Dibandingkan dengan keliling Eropa atau keliling dunia seperti harapan wanita kebanyakan. Dia ingin sebuah ucapan selamat pagi dari laki-laki yang dicintainya ketika dia membuka mata. Dengan senyum manis yang membuatnya memiliki energi penuh untuk melewati harinya. Jalan-jalan di pantai sambil bergandengan tangan ,kemudian duduk di atas pasir putih menikmati matahari tenggelam sambil membicarakan masa depan panjang yang akan mereka jalani. Memikirkan berapa anak yang akan mereka miliki. Mulai memikirkan nama-nama lucu yang akan mereka berikan. Sambil sesekali tertawa karena saling melontarkan lelucon. Sesederhana itu Perfect Honeymoon dimata seorang Alisa Ayudia. Lalu bagaimana dengan Adrian Setyo Aji? Dengan penuh percaya diri dia akan menyebut sebuah kota yang menurutnya sangat romantis. Venice. Dia akan memanjakan mata dengan arsitektur klasik bangunan disana. Sambil bergandengan tangan mesra menikmati pagi, siang, sore bahkan malam hari. Sesekali mereka akan mengurung diri di dalam kamar hotel dan menikmati indahnya pagi dari balik jendela sambil masih berpelukan dalam keadaan tubuh telanjang di dalam selimut yang sama. Lalu seperti apakah Perfect Honeymoon yang diberikan Tuhan pada mereka? Semuanya akan jadi sangat berbeda dari bayangan mereka. Karena makna bahagia yang sesungguhnya baru saja akan mereka pelajari dalam pahitnya penderitaan yang terlebih dahulu diberikan takdir. Selamat menikmati kisah mereka. Jangan lupa siapkan minuman manis sebagai pelengkap rasa pahit dari setiap ujian yang mereka jalani! Sebuah pernikahan tanpa Cinta adalah seperti mimpi buruk bagi siapa saja, tapi tidak ada yang pernah tahu bahwa mimpi buruk bisa menjadi manis bila takdir berpihak padanya. Hari ini dia mengumandangkan ijab kabul dengan namaku yang sialnya terdengar merdu ketika di ucapkannya. Seharusnya bukan aku yang duduk dengan jantung berdebar disampingnya. Seharusnya bukan aku yang didandani seperti Putri Raja dan membuat semua tamu undangan memandang takjub setiap kali bertata muka. Laki-laki itu, yang sekarang mungkin boleh ku sebut suamiku. Sebenarnya adalah pacar sahabatku sendiri. Dan dia membenciku setengah mati. Sudah terbayang kan bagaimana nantinya pernikahan ini akan berjalan ? Aku meremas kain kebaya yang membalut tubuhku dengan Indah. Tanganku berkeringat dan jantungku luar biasa berpacu. Ku lihat Nancy, memandangku dengan tatapn benci sekaligus terluka. Ku akui ketegarannya menyaksikan pacarnya menikahi sahabatnya sendiri. Tapi bukan aku yang menginginkan pernikahan ini. Aku memang pernah menyukai Adrian suamiku dahulu, saat kami masih duduk di bangku kuliah. Sebelum dia mengenal Nancy. Tapi untuk bermimpi menjadi temannya saja aku tidak berani. Dia terlalu bersinar dan aku hanya gadis sederhana yang kebetulan mendapat beasiswa di kampus yang sama dengannya. Aku biasa berteman dengan anak-anak biasa yang lebih banyak menghabiskan sebagian waktu luangnya di perpustakaan. Sedangkan Adrian adalah laki-laki populer dimana saat dia berjalan semua perempuan memandangnya takjub. Ada yang menundukan wajahnya malu dan ada yang terang-terangan berteriak mengucapkan kata cinta kearahnya. Semua acara sudah selesai. Para tamu undangan sudah pergi. Adrian menarikku sedikit kasar kedalam mobil yang akan membawa kami ke apartemennya. Dia menolak pemberian rumah dari tante Imel ibunya. Dia bilang kami akan tinggal di apartemen saja. Aku sangat mengerti maksud dari semua itu. Dia pasti ingin membuatku menderita karena sudah berani menerima lamaran yang diajukan ibunya padaku. Aku menerima pernikahan ini bukan tanpa alasan. Adikku sakit jantung, dan dia membutuhkan biaya yang banyak untuk pengobatannya. Kemudian tante Imel datang menawari bantuan dengan syarat aku mau menikahi putranya. Aku sudah menolak pada awalnya, tapi alasan yang diucapkan tante Imel membuatku terpaksa menerimanya. Entah apa penyebab tante Ime
Innovel
"Kau harus menikah denganku!" "Tidak! Mengapa aku harus menikah denganmu?" "Tidak ada pilihan lain, jika kamu menolak, aku bisa saja membuatmu berhenti dari kuliahmu dan menuntutmu karena telah mempertaruhkan nyawa orang lain." "Tidak adakah cara lain? Aku masih kuliah, dan aku belum siap untuk menikah." "Tidak ada penolakan! Secepatnya kita akan menikah, jadi bersiap-siaplah." "Hey tunggu! Kau tidak bisa seenaknya memutuskan." Meisya terduduk lesu di lorong rumah sakit. Bagaimana mungkin diumurnya yang masih muda ia harus menikah, ditambah lagi ia harus menikah dengan seorang duda. Entah pernikahan macam apa yang nanti akan dijalaninya. Pernikahan tanpa cinta. "Arghh.., mengapa takdir begitu buruk mempertemukanku dengan lelaki semacam dia?" Sosok itu mematut dirinya di depan meja rias, matanya menatap lesu pada bayangan seorang gadis yang tengah mengenakan baju pengantin berwarna putih dengan make up yang lumayan tebal, untuk menutupi lingkaran hitam yang ada di sekeliling matanya. Gadis dalam bayangan itu tampak terlihat lebih dewasa dari pada biasanya. Rambutnya disanggul rapi dengan penjepit rambut yang sederhana namun tetap terlihat elegan. Kebaya putih panjang yang sedikit mengekspos pundaknya, membalut tubuhnya yang ramping namun berisi dengan sempurna. Tidak ada yang spesial dari baju pengantin yang dipakainya, hanya saja saat Meisya yang mengenakan gaun pengantin itu, gaun tersebut tampak begitu pas dan cantik membalut tubuhnya. Lagi-lagi suara helaan napas terdengar dari mulut gadis tersebut, atau lebih tepatnya seorang wanita setelah ia resmi menikah sebentar lagi. Sedikit pun tidak terpikir di benak Meisya bahwa ia akan menikah semuda ini. Jika saja diizinkan, saat ini ia sangat ingin kabur dan melarikan diri dari acara pernikahan ini. Tapi ia tidak boleh egois dan memikirkan diri sendiri, sementara di luar sana ada seseorang yang dengan begitu berharap menginginkannya menjadi penyemangat hidupnya. Mau tidak mau ia harus tetap menjalankan pernikahan ini, demi kesembuhan anak itu. Ya, harus! Cklek "Oh Meisya.. lihatlah, hari ini kamu sangat cantik sayang. Mama tidak menyangka kamu akan menikah secepat ini." Mama Meisya atau yang biasa dipanggil Reina Holand memeluk Meisya dengan erat, hingga membuat Meisya ikut terhanyut dalam pelukan hangat ibunya yang sangat ia sayangi. "Mama berdoa semoga kamu bahagia bersama suamimu nanti sayang." 'Ya, semoga saja.' Meisya hanya bisa tersenyum paksa di hadapan mamanya, karena yang mamanya tahu Meisya menikah dengan seseorang yang dicintainya. Berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya, Meisya menikah bukan atas dasar cinta, akan tetapi sebuah keharusan yang tidak bisa disangkalnya. Flashback Saat Meisya kembali ke taman, ia melihat seorang anak kecil yang hendak terserempet motor. Meisya yang terkejut segera berlari ke arah anak tersebut dan berniat menolongnya. Tapi naas, saat Meisya berniat menolong anak itu, ternyata motor yang melintas begitu kencang membuat Meisya secara refleks mendorong anak itu ke arah pinggiran trotoar. Untunglah tidak ada hal fatal yang disebabkan dari kecelakaan tadi. Tapi Meisya tidak menyangka bahwa perbuatannya yang berniat menolong anak tersebut malah berujung fatal. Dokter mengatakan sewaktu Meisya mendorong anak tersebut, ternyata bagian pinggang anak tersebut membentur pinggiran trotoar dengan cukup keras. Hingga menyebabkan ginjal di sebelah kiri anak tersebut yang memang pada dasarnya kurang berfungsi secara sempurna harus segera dioperasi secepat mungkin. Jika tidak, maka akan berakibat fatal pada keselamatan anak itu. Meisya hanya menunduk dalam, ia tidak menyangka bahwa niatannya untuk menolong anak itu akan berakibat pada keselamatan anak itu sendiri. 'Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan untuk menolong anak ini?' meskipun baru beberapa minggu yang lalu Meisya mengenal anak manis bernama Mika ini, ia sudah cukup menyayangi anak itu. Meisya sama sekali tidak menyangka bahwa anak sekecil Mika sudah harus menanggung penderitaan seberat ini. Salah satu ginjal gadis manis ini tidak berfungsi dengan sempur
Innovel
"Kau harus menikah denganku!" "Tidak! Mengapa aku harus menikah denganmu?" "Tidak ada pilihan lain, jika kamu menolak, aku bisa saja membuatmu berhenti dari kuliahmu dan menuntutmu karena telah mempertaruhkan nyawa orang lain." "Tidak adakah cara lain? Aku masih kuliah, dan aku belum siap untuk menikah." "Tidak ada penolakan! Secepatnya kita akan menikah, jadi bersiap-siaplah." "Hey tunggu! Kau tidak bisa seenaknya memutuskan." Meisya terduduk lesu di lorong rumah sakit. Bagaimana mungkin diumurnya yang masih muda ia harus menikah, ditambah lagi ia harus menikah dengan seorang duda. Entah pernikahan macam apa yang nanti akan dijalaninya. Pernikahan tanpa cinta. "Arghh.., mengapa takdir begitu buruk mempertemukanku dengan lelaki semacam dia?" Sosok itu mematut dirinya di depan meja rias, matanya menatap lesu pada bayangan seorang gadis yang tengah mengenakan baju pengantin berwarna putih dengan make up yang lumayan tebal, untuk menutupi lingkaran hitam yang ada di sekeliling matanya. Gadis dalam bayangan itu tampak terlihat lebih dewasa dari pada biasanya. Rambutnya disanggul rapi dengan penjepit rambut yang sederhana namun tetap terlihat elegan. Kebaya putih panjang yang sedikit mengekspos pundaknya, membalut tubuhnya yang ramping namun berisi dengan sempurna. Tidak ada yang spesial dari baju pengantin yang dipakainya, hanya saja saat Meisya yang mengenakan gaun pengantin itu, gaun tersebut tampak begitu pas dan cantik membalut tubuhnya. Lagi-lagi suara helaan napas terdengar dari mulut gadis tersebut, atau lebih tepatnya seorang wanita setelah ia resmi menikah sebentar lagi. Sedikit pun tidak terpikir di benak Meisya bahwa ia akan menikah semuda ini. Jika saja diizinkan, saat ini ia sangat ingin kabur dan melarikan diri dari acara pernikahan ini. Tapi ia tidak boleh egois dan memikirkan diri sendiri, sementara di luar sana ada seseorang yang dengan begitu berharap menginginkannya menjadi penyemangat hidupnya. Mau tidak mau ia harus tetap menjalankan pernikahan ini, demi kesembuhan anak itu. Ya, harus! Cklek "Oh Meisya.. lihatlah, hari ini kamu sangat cantik sayang. Mama tidak menyangka kamu akan menikah secepat ini." Mama Meisya atau yang biasa dipanggil Reina Holand memeluk Meisya dengan erat, hingga membuat Meisya ikut terhanyut dalam pelukan hangat ibunya yang sangat ia sayangi. "Mama berdoa semoga kamu bahagia bersama suamimu nanti sayang." 'Ya, semoga saja.' Meisya hanya bisa tersenyum paksa di hadapan mamanya, karena yang mamanya tahu Meisya menikah dengan seseorang yang dicintainya. Berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya, Meisya menikah bukan atas dasar cinta, akan tetapi sebuah keharusan yang tidak bisa disangkalnya. Flashback Saat Meisya kembali ke taman, ia melihat seorang anak kecil yang hendak terserempet motor. Meisya yang terkejut segera berlari ke arah anak tersebut dan berniat menolongnya. Tapi naas, saat Meisya berniat menolong anak itu, ternyata motor yang melintas begitu kencang membuat Meisya secara refleks mendorong anak itu ke arah pinggiran trotoar. Untunglah tidak ada hal fatal yang disebabkan dari kecelakaan tadi. Tapi Meisya tidak menyangka bahwa perbuatannya yang berniat menolong anak tersebut malah berujung fatal. Dokter mengatakan sewaktu Meisya mendorong anak tersebut, ternyata bagian pinggang anak tersebut membentur pinggiran trotoar dengan cukup keras. Hingga menyebabkan ginjal di sebelah kiri anak tersebut yang memang pada dasarnya kurang berfungsi secara sempurna harus segera dioperasi secepat mungkin. Jika tidak, maka akan berakibat fatal pada keselamatan anak itu. Meisya hanya menunduk dalam, ia tidak menyangka bahwa niatannya untuk menolong anak itu akan berakibat pada keselamatan anak itu sendiri. 'Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan untuk menolong anak ini?' meskipun baru beberapa minggu yang lalu Meisya mengenal anak manis bernama Mika ini, ia sudah cukup menyayangi anak itu. Meisya sama sekali tidak menyangka bahwa anak sekecil Mika sudah harus menanggung penderitaan seberat ini. Salah satu ginjal gadis manis ini tidak berfungsi dengan sempur
Innovel
Bulan madu seperti apakah yang diinginkan sepasang pengantin baru? Jika Alisa boleh berpendapat dia ingin pergi ke Bali. Harapan yang sederhana bukan? Dibandingkan dengan keliling Eropa atau keliling dunia seperti harapan wanita kebanyakan. Dia ingin sebuah ucapan selamat pagi dari laki-laki yang dicintainya ketika dia membuka mata. Dengan senyum manis yang membuatnya memiliki energi penuh untuk melewati harinya. Jalan-jalan di pantai sambil bergandengan tangan ,kemudian duduk di atas pasir putih menikmati matahari tenggelam sambil membicarakan masa depan panjang yang akan mereka jalani. Memikirkan berapa anak yang akan mereka miliki. Mulai memikirkan nama-nama lucu yang akan mereka berikan. Sambil sesekali tertawa karena saling melontarkan lelucon. Sesederhana itu Perfect Honeymoon dimata seorang Alisa Ayudia. Lalu bagaimana dengan Adrian Setyo Aji? Dengan penuh percaya diri dia akan menyebut sebuah kota yang menurutnya sangat romantis. Venice. Dia akan memanjakan mata dengan arsitektur klasik bangunan disana. Sambil bergandengan tangan mesra menikmati pagi, siang, sore bahkan malam hari. Sesekali mereka akan mengurung diri di dalam kamar hotel dan menikmati indahnya pagi dari balik jendela sambil masih berpelukan dalam keadaan tubuh telanjang di dalam selimut yang sama. Lalu seperti apakah Perfect Honeymoon yang diberikan Tuhan pada mereka? Semuanya akan jadi sangat berbeda dari bayangan mereka. Karena makna bahagia yang sesungguhnya baru saja akan mereka pelajari dalam pahitnya penderitaan yang terlebih dahulu diberikan takdir. Selamat menikmati kisah mereka. Jangan lupa siapkan minuman manis sebagai pelengkap rasa pahit dari setiap ujian yang mereka jalani! Sebuah pernikahan tanpa Cinta adalah seperti mimpi buruk bagi siapa saja, tapi tidak ada yang pernah tahu bahwa mimpi buruk bisa menjadi manis bila takdir berpihak padanya. Hari ini dia mengumandangkan ijab kabul dengan namaku yang sialnya terdengar merdu ketika di ucapkannya. Seharusnya bukan aku yang duduk dengan jantung berdebar disampingnya. Seharusnya bukan aku yang didandani seperti Putri Raja dan membuat semua tamu undangan memandang takjub setiap kali bertata muka. Laki-laki itu, yang sekarang mungkin boleh ku sebut suamiku. Sebenarnya adalah pacar sahabatku sendiri. Dan dia membenciku setengah mati. Sudah terbayang kan bagaimana nantinya pernikahan ini akan berjalan ? Aku meremas kain kebaya yang membalut tubuhku dengan Indah. Tanganku berkeringat dan jantungku luar biasa berpacu. Ku lihat Nancy, memandangku dengan tatapn benci sekaligus terluka. Ku akui ketegarannya menyaksikan pacarnya menikahi sahabatnya sendiri. Tapi bukan aku yang menginginkan pernikahan ini. Aku memang pernah menyukai Adrian suamiku dahulu, saat kami masih duduk di bangku kuliah. Sebelum dia mengenal Nancy. Tapi untuk bermimpi menjadi temannya saja aku tidak berani. Dia terlalu bersinar dan aku hanya gadis sederhana yang kebetulan mendapat beasiswa di kampus yang sama dengannya. Aku biasa berteman dengan anak-anak biasa yang lebih banyak menghabiskan sebagian waktu luangnya di perpustakaan. Sedangkan Adrian adalah laki-laki populer dimana saat dia berjalan semua perempuan memandangnya takjub. Ada yang menundukan wajahnya malu dan ada yang terang-terangan berteriak mengucapkan kata cinta kearahnya. Semua acara sudah selesai. Para tamu undangan sudah pergi. Adrian menarikku sedikit kasar kedalam mobil yang akan membawa kami ke apartemennya. Dia menolak pemberian rumah dari tante Imel ibunya. Dia bilang kami akan tinggal di apartemen saja. Aku sangat mengerti maksud dari semua itu. Dia pasti ingin membuatku menderita karena sudah berani menerima lamaran yang diajukan ibunya padaku. Aku menerima pernikahan ini bukan tanpa alasan. Adikku sakit jantung, dan dia membutuhkan biaya yang banyak untuk pengobatannya. Kemudian tante Imel datang menawari bantuan dengan syarat aku mau menikahi putranya. Aku sudah menolak pada awalnya, tapi alasan yang diucapkan tante Imel membuatku terpaksa menerimanya. Entah apa penyebab tante Ime
Dreame - Read Best Romance
Bulan madu seperti apakah yang diinginkan sepasang pengantin baru? Jika Alisa boleh berpendapat dia ingin pergi ke Bali. Harapan yang sederhana bukan? Dibandingkan dengan keliling Eropa atau keliling dunia seperti harapan wanita kebanyakan. Dia ingin sebuah ucapan selamat pagi dari laki-laki yang dicintainya ketika dia membuka mata. Dengan senyum manis yang membuatnya memiliki energi penuh untuk melewati harinya. Jalan-jalan di pantai sambil bergandengan tangan ,kemudian duduk di atas pasir putih menikmati matahari tenggelam sambil membicarakan masa depan panjang yang akan mereka jalani. Memikirkan berapa anak yang akan mereka miliki. Mulai memikirkan nama-nama lucu yang akan mereka berikan. Sambil sesekali tertawa karena saling melontarkan lelucon. Sesederhana itu Perfect Honeymoon dimata seorang Alisa Ayudia. Lalu bagaimana dengan Adrian Setyo Aji? Dengan penuh percaya diri dia akan menyebut sebuah kota yang menurutnya sangat romantis. Venice. Dia akan memanjakan mata dengan arsitektur klasik bangunan disana. Sambil bergandengan tangan mesra menikmati pagi, siang, sore bahkan malam hari. Sesekali mereka akan mengurung diri di dalam kamar hotel dan menikmati indahnya pagi dari balik jendela sambil masih berpelukan dalam keadaan tubuh telanjang di dalam selimut yang sama. Lalu seperti apakah Perfect Honeymoon yang diberikan Tuhan pada mereka? Semuanya akan jadi sangat berbeda dari bayangan mereka. Karena makna bahagia yang sesungguhnya baru saja akan mereka pelajari dalam pahitnya penderitaan yang terlebih dahulu diberikan takdir. Selamat menikmati kisah mereka. Jangan lupa siapkan minuman manis sebagai pelengkap rasa pahit dari setiap ujian yang mereka jalani! Sebuah pernikahan tanpa Cinta adalah seperti mimpi buruk bagi siapa saja, tapi tidak ada yang pernah tahu bahwa mimpi buruk bisa menjadi manis bila takdir berpihak padanya. Hari ini dia mengumandangkan ijab kabul dengan namaku yang sialnya terdengar merdu ketika di ucapkannya. Seharusnya bukan aku yang duduk dengan jantung berdebar disampingnya. Seharusnya bukan aku yang didandani seperti Putri Raja dan membuat semua tamu undangan memandang takjub setiap kali bertata muka. Laki-laki itu, yang sekarang mungkin boleh ku sebut suamiku. Sebenarnya adalah pacar sahabatku sendiri. Dan dia membenciku setengah mati. Sudah terbayang kan bagaimana nantinya pernikahan ini akan berjalan ? Aku meremas kain kebaya yang membalut tubuhku dengan Indah. Tanganku berkeringat dan jantungku luar biasa berpacu. Ku lihat Nancy, memandangku dengan tatapn benci sekaligus terluka. Ku akui ketegarannya menyaksikan pacarnya menikahi sahabatnya sendiri. Tapi bukan aku yang menginginkan pernikahan ini. Aku memang pernah menyukai Adrian suamiku dahulu, saat kami masih duduk di bangku kuliah. Sebelum dia mengenal Nancy. Tapi untuk bermimpi menjadi temannya saja aku tidak berani. Dia terlalu bersinar dan aku hanya gadis sederhana yang kebetulan mendapat beasiswa di kampus yang sama dengannya. Aku biasa berteman dengan anak-anak biasa yang lebih banyak menghabiskan sebagian waktu luangnya di perpustakaan. Sedangkan Adrian adalah laki-laki populer dimana saat dia berjalan semua perempuan memandangnya takjub. Ada yang menundukan wajahnya malu dan ada yang terang-terangan berteriak mengucapkan kata cinta kearahnya. Semua acara sudah selesai. Para tamu undangan sudah pergi. Adrian menarikku sedikit kasar kedalam mobil yang akan membawa kami ke apartemennya. Dia menolak pemberian rumah dari tante Imel ibunya. Dia bilang kami akan tinggal di apartemen saja. Aku sangat mengerti maksud dari semua itu. Dia pasti ingin membuatku menderita karena sudah berani menerima lamaran yang diajukan ibunya padaku. Aku menerima pernikahan ini bukan tanpa alasan. Adikku sakit jantung, dan dia membutuhkan biaya yang banyak untuk pengobatannya. Kemudian tante Imel datang menawari bantuan dengan syarat aku mau menikahi putranya. Aku sudah menolak pada awalnya, tapi alasan yang diucapkan tante Imel membuatku terpaksa menerimanya. Entah apa penyebab tante Imel sangat tidak menyukai Nan
Dreame - Read Best Romance
Bulan madu seperti apakah yang diinginkan sepasang pengantin baru? Jika Alisa boleh berpendapat dia ingin pergi ke Bali. Harapan yang sederhana bukan? Dibandingkan dengan keliling Eropa atau keliling dunia seperti harapan wanita kebanyakan. Dia ingin sebuah ucapan selamat pagi dari laki-laki yang dicintainya ketika dia membuka mata. Dengan senyum manis yang membuatnya memiliki energi penuh untuk melewati harinya. Jalan-jalan di pantai sambil bergandengan tangan ,kemudian duduk di atas pasir putih menikmati matahari tenggelam sambil membicarakan masa depan panjang yang akan mereka jalani. Memikirkan berapa anak yang akan mereka miliki. Mulai memikirkan nama-nama lucu yang akan mereka berikan. Sambil sesekali tertawa karena saling melontarkan lelucon. Sesederhana itu Perfect Honeymoon dimata seorang Alisa Ayudia. Lalu bagaimana dengan Adrian Setyo Aji? Dengan penuh percaya diri dia akan menyebut sebuah kota yang menurutnya sangat romantis. Venice. Dia akan memanjakan mata dengan arsitektur klasik bangunan disana. Sambil bergandengan tangan mesra menikmati pagi, siang, sore bahkan malam hari. Sesekali mereka akan mengurung diri di dalam kamar hotel dan menikmati indahnya pagi dari balik jendela sambil masih berpelukan dalam keadaan tubuh telanjang di dalam selimut yang sama. Lalu seperti apakah Perfect Honeymoon yang diberikan Tuhan pada mereka? Semuanya akan jadi sangat berbeda dari bayangan mereka. Karena makna bahagia yang sesungguhnya baru saja akan mereka pelajari dalam pahitnya penderitaan yang terlebih dahulu diberikan takdir. Selamat menikmati kisah mereka. Jangan lupa siapkan minuman manis sebagai pelengkap rasa pahit dari setiap ujian yang mereka jalani! Sebuah pernikahan tanpa Cinta adalah seperti mimpi buruk bagi siapa saja, tapi tidak ada yang pernah tahu bahwa mimpi buruk bisa menjadi manis bila takdir berpihak padanya. Hari ini dia mengumandangkan ijab kabul dengan namaku yang sialnya terdengar merdu ketika di ucapkannya. Seharusnya bukan aku yang duduk dengan jantung berdebar disampingnya. Seharusnya bukan aku yang didandani seperti Putri Raja dan membuat semua tamu undangan memandang takjub setiap kali bertata muka. Laki-laki itu, yang sekarang mungkin boleh ku sebut suamiku. Sebenarnya adalah pacar sahabatku sendiri. Dan dia membenciku setengah mati. Sudah terbayang kan bagaimana nantinya pernikahan ini akan berjalan ? Aku meremas kain kebaya yang membalut tubuhku dengan Indah. Tanganku berkeringat dan jantungku luar biasa berpacu. Ku lihat Nancy, memandangku dengan tatapn benci sekaligus terluka. Ku akui ketegarannya menyaksikan pacarnya menikahi sahabatnya sendiri. Tapi bukan aku yang menginginkan pernikahan ini. Aku memang pernah menyukai Adrian suamiku dahulu, saat kami masih duduk di bangku kuliah. Sebelum dia mengenal Nancy. Tapi untuk bermimpi menjadi temannya saja aku tidak berani. Dia terlalu bersinar dan aku hanya gadis sederhana yang kebetulan mendapat beasiswa di kampus yang sama dengannya. Aku biasa berteman dengan anak-anak biasa yang lebih banyak menghabiskan sebagian waktu luangnya di perpustakaan. Sedangkan Adrian adalah laki-laki populer dimana saat dia berjalan semua perempuan memandangnya takjub. Ada yang menundukan wajahnya malu dan ada yang terang-terangan berteriak mengucapkan kata cinta kearahnya. Semua acara sudah selesai. Para tamu undangan sudah pergi. Adrian menarikku sedikit kasar kedalam mobil yang akan membawa kami ke apartemennya. Dia menolak pemberian rumah dari tante Imel ibunya. Dia bilang kami akan tinggal di apartemen saja. Aku sangat mengerti maksud dari semua itu. Dia pasti ingin membuatku menderita karena sudah berani menerima lamaran yang diajukan ibunya padaku. Aku menerima pernikahan ini bukan tanpa alasan. Adikku sakit jantung, dan dia membutuhkan biaya yang banyak untuk pengobatannya. Kemudian tante Imel datang menawari bantuan dengan syarat aku mau menikahi putranya. Aku sudah menolak pada awalnya, tapi alasan yang diucapkan tante Imel membuatku terpaksa menerimanya. Entah apa p