50 Best Kamar Ad Images in 2020 - BigSpy

QueenMirror
LED SMART MIRROR NO.1 DI INDONESIA !!!🔥 🔥 🔥 Tunggu apalagi ayoo buruan miliki sekarang cermin LED cantik yang bisa memperindah ruangan kamu 😎✨ Sangat cocok dipasang di meja rias, kamar mandi, cafe, Bar dan wastafel 🤩 ___ SHOP NOW www.queenmirror.com
Kitabisa.com - Indonesia's Fundraising Platform
“Bu, Fadlan menang bu lomba ngaji tadi! Juara 2!” “Bu, Fadlan pamit dulu ya, mau main basket di lapangan. Sebelum maghrib udah pulang kok.” “Bu, nanti kalau adek-adek udah gedean dikit, Fadlan ajak ngaji juga ya Bu. Biar bisa pada juara juga, kayak Fadlan…” --- Dalam hening kamar RS tempat Fadlan terbaring, Bu Ita hanya dapat berharap ia dapat mendengar suara riang Fadlan lagi di rumah. Dalam koma Fadlan terbaring, penggumpalan darah di otak mengancam jiwanya, dan Bu Ita serta Pak Tedi tak tahu kapan ia akan bangun kembali… Mereka tak mengira, satu sore saat Fadlan pamit ingin bermain basket seperti biasa, akan jadi hari terakhir mereka mendengar suaranya. Dalam perjalanan ke lapangan, Fadlan diserempet motor dan kepalanya terbentur trotoar. Walau tubuhnya tak tergores parah, namun Pak Tedi dan Bu Ita yang langsung bergegas ke RS begitu mereka mendapat panggilan menyadari Fadlan kritis saat ia tak menanggapi panggilan mereka. Dokter bilang, ada penggumpalan darah akibat benturan tersebut di dua tempat, bagian atas kepala dan batang otaknya. Alhasil, 9 hari Fadlan terbaring tak sadarkan diri, matanya hanya setengah terbuka sementara tubuhnya berjuang bernapas lewat ventilator. Dokter bilang, tak ada pilihan lain buat Fadlan selain operasi, atau penggumpalan tersebut akan membuatnya terkena komplikasi dan lumpuh selamanya... Dalam doa Bu Ita berjuang demi putranya, sementara Pak Tedi tak lelah menawarkan jualan minuman jahenya ke warung-warung di ibukota. Panas dan hujan ia tembus tanpa mengeluh, wajah Fadlan yang tak berdaya terpampang di pikirannya. Namun dengan penghasilan pas-pasan, terlebih di masa wabah, Rp100jt untuk operasi Fadlan begitu berat di pundaknya. Harta benda habis dijual, kemana lagi ia harus berpaling? Di rumah, Al Quran yang Fadlan biasa gunakan untuk mengaji, tak lagi tersentuh dan mulai berdebu. Begitu juga bola basketnya yang teronggok di kasur, menunggu Fadlan pulang bersama kedua adiknya. #OrangBaik, yuk kita berikan kembali masa kecil Fadlan yang bahagia padany
Facebook
Facebook
Facebook
Facebook
Facebook
Facebook
agniasari.com
Innovel
Aku menyaksikan sendiri bagaimana Adi memperlakukan Melati begitu lembut dan penuh cinta. Berbeda dengan caranya memperlakukanku. Sangat berbeda.\nYa, kami ... aku-Anyelir, Adi dan Melati terikat dalam sebuah pernikahan yang sah secara hukum dan agama.\nJika kalian bertanya siapa istri pertama Adi?\nAkulah istri pertamanya.\nNamun, siapa yang dicintai Adi?\nMaka jawabannya adalah Melati.\nMengapa bisa begini?\nSemua berawal dari perjodohan yang dicetuskan oleh orang tua Adi dan orang tuaku.\nAkulah orang ketiga di hubungan Adi dan Melati. Aku hadir di antara kisah cinta mereka yang telah terjalin bertahun-tahun. Aku pun yang pada akhirnya dengan sadar mengizinkan Adi menikahi Melati, meski sejujurnya Adi tak benar-benar membutuhkan izinku.\nLalu ... apa kabar dengan hatiku?\nDi suatu sore tiga bulan lalu. Tepat sebulan setelah pernikahanku dan Adi berlangsung, Adi menemuiku di kamar. Kami memang tidur terpisah, meski telah berstatus suami istri. Dan selama sebulan itu tak ada kontak fisik di antara kami, hingga detik ini. Entah, rumah tangga macam apa yang sedang kami jalani saat ini.\n"Anye, aku mau bicara," ucapnya saat itu. Wajahnya seperti biasa, datar tanpa ekspresi. Dua bulan aku mengenalnya sejak pertama kali bertemu, sebulan aku hidup dengannya, belum pernah sekalipun ia tersenyum padaku.\nAku menghentikan kegiatanku membaca novel. Kutatap wajahnya sekilas, lalu beralih menatap jendela kamar yang mulai basah terkena percikan air hujan.\n"Ada apa?"\n"Aku akan menikahi Melati." Kata-katanya meluncur dengan lugas tanpa beban.\nAku sudah tahu siapa sosok Melati itu. Saat pernikahan kami berlangsung, ia datang. Sepupu Adi yang memberitahukubetapa berharganya wanita itu bagi Adi.\nAku kembali menatapnya. Kali ini sedikit lebih lama. Mencoba menggali celah keraguan di sana. Ah, tapi setelahnya aku sadar, Adi bukan sedang bertanya melainkan membuat pernyataan yang tak membutuhkan jawaban.\n"Nikahi saja dia," jawabku kemudian. Aku sadar, aku baru saja mengatakan hal yang mungkin untuk sebagian wanita begitu menyak
Nachrichten aktuell • NEWS.AT
Konsultan Marketing Properti & Jual Beli Rumah Indonesia
Konsultan Marketing Properti & Jual Beli Rumah Indonesia
Kitabisa.com - Indonesia's Fundraising Platform
“Bu, Fadlan menang bu lomba ngaji tadi! Juara 2!” “Bu, Fadlan pamit dulu ya, mau main basket di lapangan. Sebelum maghrib udah pulang kok.” “Bu, nanti kalau adek-adek udah gedean dikit, Fadlan ajak ngaji juga ya Bu. Biar bisa pada juara juga, kayak Fadlan…” --- Dalam hening kamar RS tempat Fadlan terbaring, Bu Ita hanya dapat berharap ia dapat mendengar suara riang Fadlan lagi di rumah. Dalam koma Fadlan terbaring, penggumpalan darah di otak mengancam jiwanya, dan Bu Ita serta Pak Tedi tak tahu kapan ia akan bangun kembali… Mereka tak mengira, satu sore saat Fadlan pamit ingin bermain basket seperti biasa, akan jadi hari terakhir mereka mendengar suaranya. Dalam perjalanan ke lapangan, Fadlan diserempet motor dan kepalanya terbentur trotoar. Walau tubuhnya tak tergores parah, namun Pak Tedi dan Bu Ita yang langsung bergegas ke RS begitu mereka mendapat panggilan menyadari Fadlan kritis saat ia tak menanggapi panggilan mereka. Dokter bilang, ada penggumpalan darah akibat benturan tersebut di dua tempat, bagian atas kepala dan batang otaknya. Alhasil, 9 hari Fadlan terbaring tak sadarkan diri, matanya hanya setengah terbuka sementara tubuhnya berjuang bernapas lewat ventilator. Dokter bilang, tak ada pilihan lain buat Fadlan selain operasi, atau penggumpalan tersebut akan membuatnya terkena komplikasi dan lumpuh selamanya... Dalam doa Bu Ita berjuang demi putranya, sementara Pak Tedi tak lelah menawarkan jualan minuman jahenya ke warung-warung di ibukota. Panas dan hujan ia tembus tanpa mengeluh, wajah Fadlan yang tak berdaya terpampang di pikirannya. Namun dengan penghasilan pas-pasan, terlebih di masa wabah, Rp100jt untuk operasi Fadlan begitu berat di pundaknya. Harta benda habis dijual, kemana lagi ia harus berpaling? Di rumah, Al Quran yang Fadlan biasa gunakan untuk mengaji, tak lagi tersentuh dan mulai berdebu. Begitu juga bola basketnya yang teronggok di kasur, menunggu Fadlan pulang bersama kedua adiknya. #OrangBaik, yuk kita berikan kembali masa kecil Fadlan yang bahagia padany
Facebook
aku store aja – jual barang amanah
Kitabisa.com - Indonesia's Fundraising Platform
“Bu, Fadlan menang bu lomba ngaji tadi! Juara 2!” “Bu, Fadlan pamit dulu ya, mau main basket di lapangan. Sebelum maghrib udah pulang kok.” “Bu, nanti kalau adek-adek udah gedean dikit, Fadlan ajak ngaji juga ya Bu. Biar bisa pada juara juga, kayak Fadlan…” --- Dalam hening kamar RS tempat Fadlan terbaring, Bu Ita hanya dapat berharap ia dapat mendengar suara riang Fadlan lagi di rumah. Dalam koma Fadlan terbaring, penggumpalan darah di otak mengancam jiwanya, dan Bu Ita serta Pak Tedi tak tahu kapan ia akan bangun kembali… Mereka tak mengira, satu sore saat Fadlan pamit ingin bermain basket seperti biasa, akan jadi hari terakhir mereka mendengar suaranya. Dalam perjalanan ke lapangan, Fadlan diserempet motor dan kepalanya terbentur trotoar. Walau tubuhnya tak tergores parah, namun Pak Tedi dan Bu Ita yang langsung bergegas ke RS begitu mereka mendapat panggilan menyadari Fadlan kritis saat ia tak menanggapi panggilan mereka. Dokter bilang, ada penggumpalan darah akibat benturan tersebut di dua tempat, bagian atas kepala dan batang otaknya. Alhasil, 9 hari Fadlan terbaring tak sadarkan diri, matanya hanya setengah terbuka sementara tubuhnya berjuang bernapas lewat ventilator. Dokter bilang, tak ada pilihan lain buat Fadlan selain operasi, atau penggumpalan tersebut akan membuatnya terkena komplikasi dan lumpuh selamanya... Dalam doa Bu Ita berjuang demi putranya, sementara Pak Tedi tak lelah menawarkan jualan minuman jahenya ke warung-warung di ibukota. Panas dan hujan ia tembus tanpa mengeluh, wajah Fadlan yang tak berdaya terpampang di pikirannya. Namun dengan penghasilan pas-pasan, terlebih di masa wabah, Rp100jt untuk operasi Fadlan begitu berat di pundaknya. Harta benda habis dijual, kemana lagi ia harus berpaling? Di rumah, Al Quran yang Fadlan biasa gunakan untuk mengaji, tak lagi tersentuh dan mulai berdebu. Begitu juga bola basketnya yang teronggok di kasur, menunggu Fadlan pulang bersama kedua adiknya. #OrangBaik, yuk kita berikan kembali masa kecil Fadlan yang bahagia padany
Innovel
Aku menyaksikan sendiri bagaimana Adi memperlakukan Melati begitu lembut dan penuh cinta. Berbeda dengan caranya memperlakukanku. Sangat berbeda.\nYa, kami ... aku-Anyelir, Adi dan Melati terikat dalam sebuah pernikahan yang sah secara hukum dan agama.\nJika kalian bertanya siapa istri pertama Adi?\nAkulah istri pertamanya.\nNamun, siapa yang dicintai Adi?\nMaka jawabannya adalah Melati.\nMengapa bisa begini?\nSemua berawal dari perjodohan yang dicetuskan oleh orang tua Adi dan orang tuaku.\nAkulah orang ketiga di hubungan Adi dan Melati. Aku hadir di antara kisah cinta mereka yang telah terjalin bertahun-tahun. Aku pun yang pada akhirnya dengan sadar mengizinkan Adi menikahi Melati, meski sejujurnya Adi tak benar-benar membutuhkan izinku.\nLalu ... apa kabar dengan hatiku?\nDi suatu sore tiga bulan lalu. Tepat sebulan setelah pernikahanku dan Adi berlangsung, Adi menemuiku di kamar. Kami memang tidur terpisah, meski telah berstatus suami istri. Dan selama sebulan itu tak ada kontak fisik di antara kami, hingga detik ini. Entah, rumah tangga macam apa yang sedang kami jalani saat ini.\n"Anye, aku mau bicara," ucapnya saat itu. Wajahnya seperti biasa, datar tanpa ekspresi. Dua bulan aku mengenalnya sejak pertama kali bertemu, sebulan aku hidup dengannya, belum pernah sekalipun ia tersenyum padaku.\nAku menghentikan kegiatanku membaca novel. Kutatap wajahnya sekilas, lalu beralih menatap jendela kamar yang mulai basah terkena percikan air hujan.\n"Ada apa?"\n"Aku akan menikahi Melati." Kata-katanya meluncur dengan lugas tanpa beban.\nAku sudah tahu siapa sosok Melati itu. Saat pernikahan kami berlangsung, ia datang. Sepupu Adi yang memberitahukubetapa berharganya wanita itu bagi Adi.\nAku kembali menatapnya. Kali ini sedikit lebih lama. Mencoba menggali celah keraguan di sana. Ah, tapi setelahnya aku sadar, Adi bukan sedang bertanya melainkan membuat pernyataan yang tak membutuhkan jawaban.\n"Nikahi saja dia," jawabku kemudian. Aku sadar, aku baru saja mengatakan hal yang mungkin untuk sebagian wanita begitu menyak
Centrum Ogrzewania Kamar Sp z o.o.
Facebook
Paket tour murah meriah tapi kualitas bukan murahan
Innovel
Aku menyaksikan sendiri bagaimana Adi memperlakukan Melati begitu lembut dan penuh cinta. Berbeda dengan caranya memperlakukanku. Sangat berbeda.\nYa, kami ... aku-Anyelir, Adi dan Melati terikat dalam sebuah pernikahan yang sah secara hukum dan agama.\nJika kalian bertanya siapa istri pertama Adi?\nAkulah istri pertamanya.\nNamun, siapa yang dicintai Adi?\nMaka jawabannya adalah Melati.\nMengapa bisa begini?\nSemua berawal dari perjodohan yang dicetuskan oleh orang tua Adi dan orang tuaku.\nAkulah orang ketiga di hubungan Adi dan Melati. Aku hadir di antara kisah cinta mereka yang telah terjalin bertahun-tahun. Aku pun yang pada akhirnya dengan sadar mengizinkan Adi menikahi Melati, meski sejujurnya Adi tak benar-benar membutuhkan izinku.\nLalu ... apa kabar dengan hatiku?\nDi suatu sore tiga bulan lalu. Tepat sebulan setelah pernikahanku dan Adi berlangsung, Adi menemuiku di kamar. Kami memang tidur terpisah, meski telah berstatus suami istri. Dan selama sebulan itu tak ada kontak fisik di antara kami, hingga detik ini. Entah, rumah tangga macam apa yang sedang kami jalani saat ini.\n"Anye, aku mau bicara," ucapnya saat itu. Wajahnya seperti biasa, datar tanpa ekspresi. Dua bulan aku mengenalnya sejak pertama kali bertemu, sebulan aku hidup dengannya, belum pernah sekalipun ia tersenyum padaku.\nAku menghentikan kegiatanku membaca novel. Kutatap wajahnya sekilas, lalu beralih menatap jendela kamar yang mulai basah terkena percikan air hujan.\n"Ada apa?"\n"Aku akan menikahi Melati." Kata-katanya meluncur dengan lugas tanpa beban.\nAku sudah tahu siapa sosok Melati itu. Saat pernikahan kami berlangsung, ia datang. Sepupu Adi yang memberitahukubetapa berharganya wanita itu bagi Adi.\nAku kembali menatapnya. Kali ini sedikit lebih lama. Mencoba menggali celah keraguan di sana. Ah, tapi setelahnya aku sadar, Adi bukan sedang bertanya melainkan membuat pernyataan yang tak membutuhkan jawaban.\n"Nikahi saja dia," jawabku kemudian. Aku sadar, aku baru saja mengatakan hal yang mungkin untuk sebagian wanita begitu menyak
agniasari.com
Rumah Cluster
Konsultan Marketing Properti & Jual Beli Rumah Indonesia
Konsultan Marketing Properti & Jual Beli Rumah Indonesia
Konsultan Marketing Properti & Jual Beli Rumah Indonesia
Konsultan Marketing Properti & Jual Beli Rumah Indonesia
Kamar Hummus
: : KAMAR : :
Kamar Hummus
: : KAMAR : :
: : KAMAR : :
Kamar Hummus
Media viral
Media viral
Agent Asuransi Prudential
Innovel
Aku menyaksikan sendiri bagaimana Adi memperlakukan Melati begitu lembut dan penuh cinta. Berbeda dengan caranya memperlakukanku. Sangat berbeda.\nYa, kami ... aku-Anyelir, Adi dan Melati terikat dalam sebuah pernikahan yang sah secara hukum dan agama.\nJika kalian bertanya siapa istri pertama Adi?\nAkulah istri pertamanya.\nNamun, siapa yang dicintai Adi?\nMaka jawabannya adalah Melati.\nMengapa bisa begini?\nSemua berawal dari perjodohan yang dicetuskan oleh orang tua Adi dan orang tuaku.\nAkulah orang ketiga di hubungan Adi dan Melati. Aku hadir di antara kisah cinta mereka yang telah terjalin bertahun-tahun. Aku pun yang pada akhirnya dengan sadar mengizinkan Adi menikahi Melati, meski sejujurnya Adi tak benar-benar membutuhkan izinku.\nLalu ... apa kabar dengan hatiku?\nDi suatu sore tiga bulan lalu. Tepat sebulan setelah pernikahanku dan Adi berlangsung, Adi menemuiku di kamar. Kami memang tidur terpisah, meski telah berstatus suami istri. Dan selama sebulan itu tak ada kontak fisik di antara kami, hingga detik ini. Entah, rumah tangga macam apa yang sedang kami jalani saat ini.\n"Anye, aku mau bicara," ucapnya saat itu. Wajahnya seperti biasa, datar tanpa ekspresi. Dua bulan aku mengenalnya sejak pertama kali bertemu, sebulan aku hidup dengannya, belum pernah sekalipun ia tersenyum padaku.\nAku menghentikan kegiatanku membaca novel. Kutatap wajahnya sekilas, lalu beralih menatap jendela kamar yang mulai basah terkena percikan air hujan.\n"Ada apa?"\n"Aku akan menikahi Melati." Kata-katanya meluncur dengan lugas tanpa beban.\nAku sudah tahu siapa sosok Melati itu. Saat pernikahan kami berlangsung, ia datang. Sepupu Adi yang memberitahukubetapa berharganya wanita itu bagi Adi.\nAku kembali menatapnya. Kali ini sedikit lebih lama. Mencoba menggali celah keraguan di sana. Ah, tapi setelahnya aku sadar, Adi bukan sedang bertanya melainkan membuat pernyataan yang tak membutuhkan jawaban.\n"Nikahi saja dia," jawabku kemudian. Aku sadar, aku baru saja mengatakan hal yang mungkin untuk sebagian wanita begitu menyak
Innovel
Aku menyaksikan sendiri bagaimana Adi memperlakukan Melati begitu lembut dan penuh cinta. Berbeda dengan caranya memperlakukanku. Sangat berbeda.\nYa, kami ... aku-Anyelir, Adi dan Melati terikat dalam sebuah pernikahan yang sah secara hukum dan agama.\nJika kalian bertanya siapa istri pertama Adi?\nAkulah istri pertamanya.\nNamun, siapa yang dicintai Adi?\nMaka jawabannya adalah Melati.\nMengapa bisa begini?\nSemua berawal dari perjodohan yang dicetuskan oleh orang tua Adi dan orang tuaku.\nAkulah orang ketiga di hubungan Adi dan Melati. Aku hadir di antara kisah cinta mereka yang telah terjalin bertahun-tahun. Aku pun yang pada akhirnya dengan sadar mengizinkan Adi menikahi Melati, meski sejujurnya Adi tak benar-benar membutuhkan izinku.\nLalu ... apa kabar dengan hatiku?\nDi suatu sore tiga bulan lalu. Tepat sebulan setelah pernikahanku dan Adi berlangsung, Adi menemuiku di kamar. Kami memang tidur terpisah, meski telah berstatus suami istri. Dan selama sebulan itu tak ada kontak fisik di antara kami, hingga detik ini. Entah, rumah tangga macam apa yang sedang kami jalani saat ini.\n"Anye, aku mau bicara," ucapnya saat itu. Wajahnya seperti biasa, datar tanpa ekspresi. Dua bulan aku mengenalnya sejak pertama kali bertemu, sebulan aku hidup dengannya, belum pernah sekalipun ia tersenyum padaku.\nAku menghentikan kegiatanku membaca novel. Kutatap wajahnya sekilas, lalu beralih menatap jendela kamar yang mulai basah terkena percikan air hujan.\n"Ada apa?"\n"Aku akan menikahi Melati." Kata-katanya meluncur dengan lugas tanpa beban.\nAku sudah tahu siapa sosok Melati itu. Saat pernikahan kami berlangsung, ia datang. Sepupu Adi yang memberitahukubetapa berharganya wanita itu bagi Adi.\nAku kembali menatapnya. Kali ini sedikit lebih lama. Mencoba menggali celah keraguan di sana. Ah, tapi setelahnya aku sadar, Adi bukan sedang bertanya melainkan membuat pernyataan yang tak membutuhkan jawaban.\n"Nikahi saja dia," jawabku kemudian. Aku sadar, aku baru saja mengatakan hal yang mungkin untuk sebagian wanita begitu menyak
Innovel
Aku menyaksikan sendiri bagaimana Adi memperlakukan Melati begitu lembut dan penuh cinta. Berbeda dengan caranya memperlakukanku. Sangat berbeda.\nYa, kami ... aku-Anyelir, Adi dan Melati terikat dalam sebuah pernikahan yang sah secara hukum dan agama.\nJika kalian bertanya siapa istri pertama Adi?\nAkulah istri pertamanya.\nNamun, siapa yang dicintai Adi?\nMaka jawabannya adalah Melati.\nMengapa bisa begini?\nSemua berawal dari perjodohan yang dicetuskan oleh orang tua Adi dan orang tuaku.\nAkulah orang ketiga di hubungan Adi dan Melati. Aku hadir di antara kisah cinta mereka yang telah terjalin bertahun-tahun. Aku pun yang pada akhirnya dengan sadar mengizinkan Adi menikahi Melati, meski sejujurnya Adi tak benar-benar membutuhkan izinku.\nLalu ... apa kabar dengan hatiku?\nDi suatu sore tiga bulan lalu. Tepat sebulan setelah pernikahanku dan Adi berlangsung, Adi menemuiku di kamar. Kami memang tidur terpisah, meski telah berstatus suami istri. Dan selama sebulan itu tak ada kontak fisik di antara kami, hingga detik ini. Entah, rumah tangga macam apa yang sedang kami jalani saat ini.\n"Anye, aku mau bicara," ucapnya saat itu. Wajahnya seperti biasa, datar tanpa ekspresi. Dua bulan aku mengenalnya sejak pertama kali bertemu, sebulan aku hidup dengannya, belum pernah sekalipun ia tersenyum padaku.\nAku menghentikan kegiatanku membaca novel. Kutatap wajahnya sekilas, lalu beralih menatap jendela kamar yang mulai basah terkena percikan air hujan.\n"Ada apa?"\n"Aku akan menikahi Melati." Kata-katanya meluncur dengan lugas tanpa beban.\nAku sudah tahu siapa sosok Melati itu. Saat pernikahan kami berlangsung, ia datang. Sepupu Adi yang memberitahukubetapa berharganya wanita itu bagi Adi.\nAku kembali menatapnya. Kali ini sedikit lebih lama. Mencoba menggali celah keraguan di sana. Ah, tapi setelahnya aku sadar, Adi bukan sedang bertanya melainkan membuat pernyataan yang tak membutuhkan jawaban.\n"Nikahi saja dia," jawabku kemudian. Aku sadar, aku baru saja mengatakan hal yang mungkin untuk sebagian wanita begitu menyak
Innovel
Ya, kami ... aku-Anyelir, Adi dan Melati terikat dalam sebuah pernikahan yang sah secara hukum dan agama.\n\nJika kalian bertanya siapa istri pertama Adi?\n\nAkulah istri pertamanya.\n\nNamun, siapa yang dicintai Adi?\n\nMaka jawabannya adalah Melati.\n\nMengapa bisa begini?\n\nSemua berawal dari perjodohan yang dicetuskan oleh orang tua Adi dan orang tuaku.\n\nAkulah orang ketiga di hubungan Adi dan Melati. Aku hadir di antara kisah cinta mereka yang telah terjalin bertahun-tahun. Aku pun yang pada akhirnya dengan sadar mengizinkan Adi menikahi Melati, meski sejujurnya Adi tak benar-benar membutuhkan izinku.\n\nLalu ... apa kabar dengan hatiku?\n\nDi suatu sore tiga bulan lalu. Tepat sebulan setelah pernikahanku dan Adi berlangsung, Adi menemuiku di kamar. Kami memang tidur terpisah, meski telah berstatus suami istri. Dan selama sebulan itu tak ada kontak fisik di antara kami, hingga detik ini. Entah, rumah tangga macam apa yang sedang kami jalani saat ini.\n\n"Anye, aku mau bicara," ucapnya saat itu. Wajahnya seperti biasa, datar tanpa ekspresi. Dua bulan aku mengenalnya sejak pertama kali bertemu, sebulan aku hidup dengannya, belum pernah sekalipun ia tersenyum padaku.\n\nAku menghentikan kegiatanku membaca novel. Kutatap wajahnya sekilas, lalu beralih menatap jendela kamar yang mulai basah terkena percikan air hujan.\n\n"Ada apa?"\n\n"Aku akan menikahi Melati." Kata-katanya meluncur dengan lugas tanpa beban.\n\nAku sudah tahu siapa sosok Melati itu. Saat pernikahan kami berlangsung, ia datang. Sepupu Adi yang memberitahuku betapa berharganya wanita itu bagi Adi.\n\nAku kembali menatapnya. Kali ini sedikit lebih lama. Mencoba menggali celah keraguan di sana. Ah, tapi setelahnya aku sadar, Adi bukan sedang bertanya melainkan membuat pernyataan yang tak membutuhkan jawaban.\n\n"Nikahi saja dia," jawabku kemudian. Aku sadar, aku baru saja mengatakan hal yang mungkin untuk sebagian wanita begitu menyakitkan.\n\nDimadu.\n\nMeski Allah memang memperbolehkan. Namun, dengan cinta Adi yang begitu besar pada Melati, jel
Facebook
Innovel
Aku menyaksikan sendiri bagaimana Adi memperlakukan Melati begitu lembut dan penuh cinta. Berbeda dengan caranya memperlakukanku. Sangat berbeda.\nYa, kami ... aku-Anyelir, Adi dan Melati terikat dalam sebuah pernikahan yang sah secara hukum dan agama.\nJika kalian bertanya siapa istri pertama Adi?\nAkulah istri pertamanya.\nNamun, siapa yang dicintai Adi?\nMaka jawabannya adalah Melati.\nMengapa bisa begini?\nSemua berawal dari perjodohan yang dicetuskan oleh orang tua Adi dan orang tuaku.\nAkulah orang ketiga di hubungan Adi dan Melati. Aku hadir di antara kisah cinta mereka yang telah terjalin bertahun-tahun. Aku pun yang pada akhirnya dengan sadar mengizinkan Adi menikahi Melati, meski sejujurnya Adi tak benar-benar membutuhkan izinku.\nLalu ... apa kabar dengan hatiku?\nDi suatu sore tiga bulan lalu. Tepat sebulan setelah pernikahanku dan Adi berlangsung, Adi menemuiku di kamar. Kami memang tidur terpisah, meski telah berstatus suami istri. Dan selama sebulan itu tak ada kontak fisik di antara kami, hingga detik ini. Entah, rumah tangga macam apa yang sedang kami jalani saat ini.\n"Anye, aku mau bicara," ucapnya saat itu. Wajahnya seperti biasa, datar tanpa ekspresi. Dua bulan aku mengenalnya sejak pertama kali bertemu, sebulan aku hidup dengannya, belum pernah sekalipun ia tersenyum padaku.\nAku menghentikan kegiatanku membaca novel. Kutatap wajahnya sekilas, lalu beralih menatap jendela kamar yang mulai basah terkena percikan air hujan.\n"Ada apa?"\n"Aku akan menikahi Melati." Kata-katanya meluncur dengan lugas tanpa beban.\nAku sudah tahu siapa sosok Melati itu. Saat pernikahan kami berlangsung, ia datang. Sepupu Adi yang memberitahukubetapa berharganya wanita itu bagi Adi.\nAku kembali menatapnya. Kali ini sedikit lebih lama. Mencoba menggali celah keraguan di sana. Ah, tapi setelahnya aku sadar, Adi bukan sedang bertanya melainkan membuat pernyataan yang tak membutuhkan jawaban.\n"Nikahi saja dia," jawabku kemudian. Aku sadar, aku baru saja mengatakan hal yang mungkin untuk sebagian wanita begitu menyak
ClickFunnels™ - Marketing Funnels Made Easy
ClickFunnels™ - Marketing Funnels Made Easy
KUKABARI
Situs Jual Beli Online Terlengkap, Mudah & Aman | Tokopedia
Situs Jual Beli Online Terlengkap, Mudah & Aman | Tokopedia
Bussan Auto Finance
paragonjaya – Just another WordPress site